Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dulu untuk Usir Kalarahu, Kini Gejogan Lesung Jadi Seni Jawa yang Mendunia!

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Selasa, 23 September 2025 | 02:30 WIB

 

Dulu untuk Usir Kalarahu, Kini Gejogan Lesung Jadi Seni Jawa yang Mendunia!
Dulu untuk Usir Kalarahu, Kini Gejogan Lesung Jadi Seni Jawa yang Mendunia!

BLITAR - Bagi masyarakat Jawa, fenomena gerhana tidak pernah dilepaskan dari kisah mitologi Kalarahu. Raksasa tanpa tubuh itu diyakini menelan matahari dan bulan sebagai balas dendam. Untuk mengusirnya, masyarakat tradisional menciptakan ritual unik: membunyikan lesung dengan cara dipukul beramai-ramai.

Lesung sendiri adalah alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu panjang berlubang. Ketika dipukul menggunakan alu, suara khas duk-tak-duk-tak akan terdengar. Dalam kepercayaan Jawa, bunyi keras ini dipercaya bisa membuat Kalarahu kesakitan dan segera melepaskan matahari atau bulan dari mulutnya.

“Ritual memukul lesung saat gerhana dulu dilakukan serentak. Semua warga keluar rumah, perempuan, laki-laki, tua, muda, bergantian memukul lesung. Suaranya bisa menggema di satu kampung,” ujar seorang sesepuh desa di Blitar yang masih ingat tradisi itu.

Seiring waktu, tradisi memukul lesung tidak lagi dipahami sebagai ritual mistis semata. Ia bertransformasi menjadi bentuk kesenian yang dikenal dengan nama gejogan lesung. Dari suara sederhana lesung, lahirlah irama ritmis yang bisa dimainkan bersama-sama.

Kini, gejogan lesung menjadi pertunjukan khas dalam berbagai acara budaya di Jawa, termasuk di Blitar. Lesung besar ditaruh di tengah lapangan, sementara sekelompok orang menabuhnya dengan pola tertentu. Suara dentuman kayu berpadu menciptakan harmoni sederhana namun penuh energi.

Lebih dari sekadar hiburan, gejogan lesung menyimpan nilai gotong royong. Setiap penabuh memiliki peran untuk menjaga irama. Jika ada satu orang yang keluar tempo, irama keseluruhan akan terdengar kacau. Filosofi ini mengajarkan pentingnya kebersamaan, keselarasan, dan kerja sama dalam kehidupan sosial.

“Dulu gejogan lesung dianggap sakral, karena bunyinya dipercaya bisa mengusir raksasa Kalarahu. Sekarang kita melihatnya sebagai seni musik rakyat yang harus dilestarikan,” kata seorang pegiat budaya di Kabupaten Blitar.

Transformasi dari ritual menjadi kesenian juga menjadikan gejogan lesung identitas lokal. Banyak sekolah, sanggar, hingga komunitas budaya mulai melestarikannya. Tidak jarang, gejogan lesung ditampilkan dalam festival budaya tingkat daerah maupun nasional.

Menariknya, meskipun asal-usulnya terkait dengan mitos gerhana, gejogan lesung tidak hanya dimainkan saat fenomena alam itu terjadi. Ia kini tampil dalam peringatan hari kemerdekaan, hajatan desa, hingga penyambutan tamu kehormatan. Suara khas dari kayu lesung dianggap membawa nuansa akrab dan semangat kebersamaan.

Di balik dentuman kayunya, ada juga pesan lingkungan. Lesung sebagai alat tradisional pengolahan padi mengingatkan masyarakat pada pentingnya menghargai hasil bumi. Ia menjadi simbol kedekatan manusia Jawa dengan alam dan proses pertanian.

Dalam konteks modern, gejogan lesung menjadi bukti bagaimana mitologi bisa melahirkan seni. Dulu, ia adalah bentuk perlawanan terhadap kegelapan yang menelan cahaya. Kini, ia menjadi ekspresi budaya yang mempersatukan masyarakat lewat musik tradisional.

Seperti halnya gamelan, kendang, atau angklung, gejogan lesung punya potensi untuk dikenal lebih luas. Beberapa komunitas budaya di Blitar bahkan mencoba mengaransemen gejogan lesung dengan musik kontemporer, menciptakan kolaborasi unik antara bunyi kayu tradisional dengan alat musik modern.

Dengan begitu, ritual lama yang lahir dari mitologi Kalarahu kini hidup kembali dalam wujud baru. Gejogan lesung menjadi pengingat bahwa budaya Jawa selalu mampu beradaptasi, tanpa kehilangan akar tradisinya.

Dari dentuman kayu lesung yang dulu ditujukan untuk mengusir raksasa abadi, kini lahirlah kesenian rakyat yang penuh makna. Sebuah bukti bahwa mitos, tradisi, dan seni bisa menyatu, melintasi waktu, dan terus hidup di hati masyarakat Jawa.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#Gejogan Lesung #Tradisi Blitar #Gerhana Jawa