BLITAR-Pabrik HVA di Blitar bukan sekadar bangunan tua dengan cerobong asap menjulang. Di balik berdirinya pada 1878, tersimpan kisah gelap bagaimana Perang Jawa (1825–1830) mendorong lahirnya raksasa perkebunan Belanda itu di Bendorejo, Kecamatan Ponggok.
HVA, singkatan dari Handels Vereeniging Amsterdam, berdiri setelah situasi ekonomi di Jawa ambruk akibat perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Tekanan finansial membuat firma-firma perkebunan Belanda saat itu mencari cara bertahan hidup. Salah satunya dengan menyatukan modal, aset, hingga mendatangkan investor asing.
Di Blitar, HVA mengelola Kebun Bendorejo, yang saat itu dikenal sebagai penghasil ketela pohon untuk bahan tapioka serta serat nanas (agave). Perusahaan ini juga menguasai sejumlah kebun lain seperti di Garum, Papuh, hingga Nyunyur. Lokasi kebun-kebun tersebut menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri perkebunan kolonial.
Sejarawan lokal menyebut, Perang Jawa menjadi titik balik. “Ketika perekonomian luluh lantak, investor Belanda memilih mengalihkan modalnya ke sektor perkebunan. Dari situlah HVA tumbuh menjadi perusahaan besar dengan jaringan global,” ujar salah satu pemerhati sejarah Blitar dalam kanal YouTube Java Vial.
Awal berdirinya HVA tidak berjalan mulus. Pada tahun pertama, perusahaan justru merugi, bahkan dividen pemegang saham turun 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Manajemen kemudian memutuskan tidak membagikan dividen demi menyelamatkan kondisi keuangan. Namun, langkah ini berbuah manis karena hanya dalam waktu singkat HVA mampu melakukan ekspansi besar-besaran.
Pada 1879 hingga 1881, HVA mengakuisisi dua pabrik gula dan beberapa pabrik kopi. Nilai penjualannya bahkan melonjak hingga tiga kali lipat dari modal awal yang disetor. Kesuksesan ini membuat HVA masuk fase konsolidasi agresif. Mereka membeli kebun baru, membangun pabrik, dan menjalin kerja sama lintas kota.
Jaringan HVA tak hanya terbatas di Blitar. Kantor perwakilan mereka tersebar di Batavia, Medan, Semarang, Surabaya, bahkan hingga Manchester dan Singapura. Keberadaan jaringan ini memberi HVA keunggulan dalam riset pasar, pertukaran informasi, hingga kendali harga komoditas.
Pada 1922, HVA sudah mengelola 39 unit usaha produksi dengan tujuh komoditas andalan, mulai dari gula, tapioka, serat agave, karet, kopi, kelapa sawit, hingga teh. Keberadaan pabrik di Bendorejo hanyalah salah satu simpul dari gurita bisnis kolonial yang membentang dari Jawa hingga Eropa.
Namun, di balik kesuksesan itu, tersimpan sisi kelam. Pabrik-pabrik HVA berdiri dengan tenaga ribuan buruh lokal yang harus bekerja keras di bawah sistem tanam paksa dan upah rendah. Cerobong asap raksasa yang masih berdiri di Bendorejo hari ini menjadi saksi bisu dari eksploitasi yang berlangsung lebih dari satu abad.
Dalam vlog sejarahnya, narator Java Vial sempat melontarkan kalimat yang menggambarkan suasana lokasi pabrik. “Cerobong asapnya agak-agak mirip stombor. Kalau jalan kaki ke sini satu kilo, rasane linu kabeh,” ucapnya sambil menelusuri area bekas pabrik di Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok.
Kutipan itu menunjukkan bahwa bangunan peninggalan kolonial tidak lagi sekadar objek sejarah. Ada sisi human interest yang melekat, yakni ingatan masyarakat lokal terhadap kerasnya kehidupan di masa lalu.
Kini, warisan HVA di Blitar menjadi bahan perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai situs sejarah penting yang harus dilestarikan. Sementara sebagian lain menilai, bangunan itu simbol penindasan yang mengingatkan rakyat pada luka lama penjajahan.
Kontroversi inilah yang membuat jejak HVA di Blitar menarik untuk dikaji ulang. Bahwa di balik cerobong tua dan kebun peninggalan kolonial, tersimpan kisah bagaimana Perang Jawa membentuk wajah perekonomian daerah, sekaligus meninggalkan bayang-bayang gelap bagi generasi setelahnya.
Editor : Anggi Septian A.P.