BLITAR-Di Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, Blitar, berdiri sebuah cerobong asap tua peninggalan pabrik HVA. Menjulang tinggi di tengah perkebunan, bangunan ini menjadi saksi bisu bagaimana ribuan buruh lokal bekerja keras di bawah kendali kolonial Belanda.
Cerobong asap tersebut dulunya bagian dari pabrik besar milik Handels Vereeniging Amsterdam (HVA), perusahaan perkebunan raksasa asal Belanda yang berdiri pada 1878. Pabrik di Bendorejo dikenal sebagai pusat pengolahan hasil kebun seperti ketela pohon, serat agave, hingga kopi.
Bagi masyarakat setempat, cerobong asap bukan hanya peninggalan fisik, tetapi juga jejak sejarah yang sarat cerita. Banyak buruh Jawa yang pada masa itu harus rela bekerja dengan upah rendah, bahkan dipaksa untuk memenuhi target produksi yang tinggi.
Seorang pemerhati sejarah Blitar dalam kanal YouTube Java Vial menggambarkan suasana di lokasi tersebut. “Cerobong asapnya masih tegak, tapi kalau kita jalan kaki ke sana sekitar satu kilo, rasane linu kabeh. Dulu buruh setiap hari melewati jalan ini dengan beban berat,” ujarnya.
Cerita ini mengingatkan bahwa kemegahan industri kolonial tak lepas dari penderitaan rakyat kecil. Buruh-buruh lokal dipaksa bekerja di kebun tapioka, sawit, hingga kopi untuk menopang keuntungan perusahaan asing. Sementara cerobong asap terus mengeluarkan kepulan asap, buruh bekerja tanpa banyak pilihan.
Sejak masa konsolidasi pada akhir abad ke-19, HVA berkembang menjadi gurita bisnis dengan puluhan unit usaha di Jawa. Mereka memiliki jaringan hingga Batavia, Semarang, Surabaya, bahkan Singapura. Namun di balik ekspansi itu, masyarakat desa sekitar pabrik hanya menjadi tenaga kerja murah.
Kini, cerobong asap tua di Bendorejo berdiri sendirian di antara kebun dan rumah warga. Sebagian orang menganggapnya sekadar bangunan kuno. Namun, bagi generasi yang masih mendengar cerita orang tua atau kakek-nenek mereka, cerobong itu adalah pengingat bagaimana hidup di masa penjajahan.
Seorang warga Desa Gembongan menuturkan, cerobong asap menjadi titik penanda bagi anak-anak desa. “Kalau pulang sore, orang tua sering bilang ojo adoh-adoh, ojo nganti tekan cerobong. Karena dulunya tempat itu dianggap angker, penuh cerita buruh yang sengsara,” katanya.
Selain nilai historis, cerobong asap kini menarik perhatian pegiat konten sejarah dan wisatawan lokal. Banyak yang datang untuk berfoto atau sekadar menyusuri bekas jalur pabrik. Mereka ingin melihat langsung bangunan kolonial yang masih kokoh meski sudah berusia lebih dari seabad.
Namun, pelestarian bangunan ini belum sepenuhnya menjadi perhatian pemerintah. Padahal, situs sejarah semacam ini bisa menjadi destinasi wisata edukasi, sekaligus pengingat generasi muda tentang perjalanan panjang rakyat Blitar menghadapi kolonialisme.
Cerobong asap tua di Bendorejo adalah simbol yang menyimpan banyak makna. Ia bukan hanya benda mati dari masa lalu, melainkan cermin bagaimana perjuangan buruh lokal memberi bentuk pada sejarah ekonomi Blitar. Di balik dinding bata yang mulai ditumbuhi lumut, ada kisah keringat, air mata, dan keteguhan hati rakyat kecil.
Mungkin cerobong itu kini hanya berdiri diam, tapi gaungnya masih bisa dirasakan. Ia menyampaikan pesan bahwa sejarah bukan sekadar catatan di buku, melainkan warisan yang tertinggal di tanah tempat rakyat bekerja dan berjuang.
Editor : Anggi Septian A.P.