Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tak Disangka, Blitar Pernah Jadi Pusat Produksi Serat Nanas Dunia!

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 23 September 2025 | 05:30 WIB
Tak Disangka, Blitar Pernah Jadi Pusat Produksi Serat Nanas Dunia!
Tak Disangka, Blitar Pernah Jadi Pusat Produksi Serat Nanas Dunia!

BLITAR-Saat ini Blitar lebih dikenal sebagai Kota Proklamator, tanah kelahiran Bung Karno, dan daerah dengan potensi pertanian serta peternakan. Namun, tak banyak yang tahu bahwa hampir dua abad lalu, Blitar pernah masuk dalam peta industri dunia lewat komoditas yang unik: serat nanas.

Jejak ini berawal dari berdirinya Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), sebuah perusahaan perkebunan raksasa milik Belanda yang menguasai tanah-tanah subur di Jawa. Salah satu lokasinya ada di Bendorejo, Blitar. Perusahaan ini berdiri pada 1879, tak lama setelah Perang Jawa berakhir dan pemerintah kolonial mulai membuka akses modal swasta ke Hindia Belanda.

Dari Singkong ke Serat Nanas

Awalnya, kebun HVA di Blitar fokus pada budidaya singkong untuk diolah menjadi tepung tapioka. Bahan ini diekspor ke Eropa sebagai sumber pangan dan bahan industri. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa tak hanya singkong, HVA juga mengembangkan perkebunan agave, tanaman tropis yang daunnya menghasilkan serat kuat.

“Jenis tanaman yang digunakan dikenal sebagai serat nanas. Warga lokal menyebutnya begitu karena bentuknya mirip nanas. Padahal, tanaman ini sebetulnya berasal dari keluarga agave,” kata salah satu sejarawan lokal dalam video dokumenter yang diunggah ke YouTube baru-baru ini.

Serat agave ini diekspor ke berbagai negara sebagai bahan utama pembuatan tali, jaring, hingga tekstil. Pada masa itu, Blitar termasuk salah satu penghasil serat agave yang masuk rantai pasok global, bersaing dengan wilayah Amerika Latin dan Filipina.

Cerobong Asap yang Masih Berdiri

Meski kejayaan itu telah lama sirna, jejaknya masih bisa dilihat hingga sekarang. Di kawasan Bendorejo, Blitar, masih berdiri sebuah cerobong asap tua yang dulunya bagian dari pabrik pengolahan HVA. Warga setempat menyebutnya mirip dengan stombor (silo penampungan padi), karena bentuknya menjulang tinggi dan kokoh.

Cerobong ini menjadi saksi bisu betapa Blitar pernah terkoneksi dengan industri global, jauh sebelum istilah globalisasi populer. “Bayangkan, serat yang dihasilkan dari tanaman yang tumbuh di Blitar bisa dipakai membuat tali kapal di Eropa,” tambah sejarawan itu.

Jaringan Global HVA

HVA bukan perusahaan kecil. Dari Blitar, hasil kebun seperti tapioka dan serat nanas dikirim ke Surabaya, lalu ke Semarang atau Batavia, sebelum akhirnya diekspor ke Eropa. Perusahaan ini bahkan tercatat punya kantor di Amsterdam, Manchester, hingga Singapura.

Dengan jaringan seluas itu, Blitar punya peran strategis. Komoditas yang lahir dari kebun Bendorejo ikut mendukung perdagangan global pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Lenyap Ditelan Zaman

Sayangnya, industri serat nanas di Blitar tak bertahan lama. Perubahan permintaan pasar, hadirnya serat sintetis, serta pergolakan politik menjelang kemerdekaan membuat pabrik HVA satu per satu berhenti beroperasi.

Kini, yang tersisa hanya cerita sejarah dan bangunan tua. Banyak generasi muda Blitar bahkan tidak tahu bahwa tanah kelahiran mereka pernah menjadi penghasil komoditas industri kelas dunia.

Menjaga Memori Sejarah

Sejarawan lokal menilai, kisah serat nanas di Blitar penting untuk dihidupkan kembali. Bukan untuk membangkitkan kejayaan kolonial, tetapi sebagai pelajaran bahwa Blitar punya warisan industri yang unik.

“Kalau masyarakat tahu, mereka bisa lebih bangga dengan daerahnya. Tidak hanya sebagai kota bersejarah karena Bung Karno, tapi juga sebagai wilayah yang pernah terkoneksi dengan dunia lewat produk perkebunan,” ujarnya.

Selain itu, peninggalan fisik seperti cerobong asap tua Bendorejo bisa dikembangkan sebagai situs wisata sejarah. Dengan narasi yang tepat, wisatawan bisa diajak menyusuri jejak industri kolonial sekaligus memahami bagaimana rakyat lokal dahulu bekerja keras di bawah tekanan sistem perkebunan Belanda.

Dari Masa Lalu untuk Masa Kini

Kini, meski pabrik HVA tinggal kenangan, Blitar tetap menunjukkan potensinya di sektor pertanian. Namun, kisah serat nanas dan kejayaan industri kolonial tetap menjadi pengingat bahwa daerah ini pernah memainkan peran penting dalam sejarah ekonomi global.

Dari singkong hingga serat nanas, dari cerobong asap tua hingga jaringan perdagangan dunia, Blitar punya cerita unik yang jarang diketahui publik. Cerita ini layak diangkat kembali, bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai identitas dan kebanggaan bagi warga Blitar.

Editor : Anggi Septian A.P.
#blitar #sejarah blitar #pabrik kolonial