BLITAR-Blitar tidak hanya menyimpan sejarah tentang Perang Jawa 1825–1830. Di balik itu, ada jejak besar bernama HVA (Handels Vereeniging Amsterdam), sebuah kongsi perkebunan Belanda yang lahir akibat tekanan politik dan ekonomi setelah perang.
HVA resmi berdiri pada 1878, ketika sejumlah firma perkebunan yang terpuruk pasca Perang Jawa terpaksa bergabung. Konsolidasi ini melibatkan modal dari Amsterdam, Batavia, hingga Surabaya. Salah satu basis pentingnya ada di Blitar, dengan perkebunan Bendorejo, Garum, hingga Papuh.
Blitar Jadi Bagian Strategi Politik Ekonomi Belanda
Mengapa Blitar dipilih? Letaknya strategis di selatan Jawa Timur, dekat dengan jalur distribusi ke Surabaya. Di masa kolonial, Surabaya adalah pelabuhan utama ekspor hasil bumi. Melalui jaringan ini, hasil perkebunan Blitar seperti gula, kopi, karet, hingga serat agave bisa langsung masuk ke pasar Eropa.
“Perkebunan di Blitar bukan sekadar urusan produksi, melainkan bagian dari politik kolonial yang ingin menjadikan Jawa sebagai pusat ekonomi dunia,” ujar peneliti lokal yang menelusuri arsip HVA.
Keberadaan HVA di Blitar tak lepas dari upaya Belanda mengendalikan Jawa pasca Perang Diponegoro. Setelah perang, pemerintah kolonial memperkuat kontrol atas tanah dan memaksa petani bekerja dalam sistem tanam paksa. HVA muncul sebagai representasi swasta dari strategi itu, menyerap komoditas dan mengubahnya jadi keuntungan besar.
Konsolidasi Ekonomi Global
HVA bukan sekadar perusahaan perkebunan biasa. Di awal abad ke-20, mereka sudah punya kantor cabang di Batavia, Medan, Semarang, Surabaya, bahkan Manchester dan Singapura. Artinya, keputusan yang diambil di Amsterdam bisa langsung memengaruhi kebun di Blitar.
Pada 1890-an, HVA mulai memperluas konsolidasi. Mereka tak hanya mengandalkan kontrak, tetapi juga membeli kebun dan pabrik sendiri. Tahun 1922, HVA sudah menguasai 39 unit produksi dengan tujuh komoditas utama: gula, kopi, teh, kelapa sawit, karet, serat agave, dan tapioka.
Sistem ini membuat HVA bertahan meski keuangan sempat goyah. “Mereka memang tidak selalu bisa membagi dividen ke pemegang saham, tapi jaringan perdagangan yang luas membuat operasional tetap berjalan,” jelas sejarawan ekonomi kolonial.
Warisan Kontroversial di Blitar
Bendorejo dan Ponggok jadi contoh nyata warisan HVA. Di sana berdiri pabrik Sumber Cangkring, lengkap dengan cerobong asap yang masih tegak meski tak lagi beroperasi. Cerobong itu jadi saksi bisu bagaimana tanah Blitar pernah dieksploitasi untuk kepentingan modal asing.
Tak sedikit warga lokal yang masih mengaitkan keberadaan cerobong dengan masa kelam kolonialisme. Mereka melihatnya sebagai simbol ketidakadilan, karena rakyat dipaksa menanam sementara keuntungan besar mengalir ke Belanda.
Di sisi lain, ada juga yang menganggap warisan HVA sebagai pengingat bahwa Blitar pernah terhubung dengan ekonomi global. “Kalau tidak ada perkebunan besar, mungkin Blitar tidak tercatat dalam peta perdagangan dunia. Tapi memang itu terjadi dengan harga sosial yang mahal,” ujar seorang pemerhati sejarah lokal.
Dari Politik Kolonial ke Kritik Sosial Modern
Diskusi tentang HVA di Blitar kerap memunculkan kontroversi. Ada yang melihatnya sebagai warisan berharga untuk pariwisata sejarah, ada pula yang menuntut agar kisah penderitaan buruh tani lebih diangkat.
Di era sekarang, cerobong-cerobong peninggalan HVA sering muncul di konten media sosial. Generasi muda Blitar mulai menelusuri sejarahnya, menanyakan kembali bagaimana kolonialisme bekerja dan dampaknya bagi masyarakat.
Pertanyaan itu penting, sebab HVA bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah bukti bagaimana perang, politik, dan ekonomi saling terkait, dan Blitar menjadi salah satu episentrum peristiwa besar itu.
Penutup
Sejarah HVA di Blitar menunjukkan bahwa kolonialisme bukan hanya soal penjajahan militer, tetapi juga eksploitasi ekonomi terstruktur. Dari Perang Jawa, lahir jaringan dagang yang menghubungkan Blitar dengan Amsterdam, Manchester, hingga Singapura.
Jejaknya masih bisa dilihat hari ini: cerobong asap pabrik Sumber Cangkring, bekas kebun di Bendorejo, dan cerita rakyat yang diwariskan. Semuanya menyimpan pelajaran tentang betapa kuatnya politik ekonomi kolonial membentuk wajah Blitar hingga sekarang.
Editor : Anggi Septian A.P.