Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Wow! Cerobong Asap Raksasa HVA di Blitar Kini Jadi Spot Wisata Sejarah Hits

Ichaa Melinda Putri • Selasa, 23 September 2025 | 05:00 WIB
Wow! Cerobong Asap Raksasa HVA di Blitar Kini Jadi Spot Wisata Sejarah Hits
Wow! Cerobong Asap Raksasa HVA di Blitar Kini Jadi Spot Wisata Sejarah Hits

BLITAR-Cerobong asap tua di Desa Gembongan, Kecamatan Ponggok, Blitar, berdiri menjulang seakan menantang waktu. Bangunan ini adalah peninggalan HVA (Handels Vereeniging Amsterdam), perusahaan perkebunan raksasa Belanda yang pernah menguasai Blitar sejak abad ke-19.

Hari ini, meski pabriknya sudah lama berhenti beroperasi, sisa-sisa kejayaan HVA justru jadi magnet baru bagi masyarakat. Banyak anak muda datang sekadar berfoto, membuat konten, atau menelusuri kembali jejak sejarah kolonial yang jarang diceritakan di sekolah.

Dari Kebun Kolonial Jadi Warisan Bersejarah

HVA berdiri tahun 1878 sebagai hasil konsolidasi modal Eropa pasca Perang Jawa (1825–1830). Di Blitar, perusahaan ini mengelola beberapa kebun besar, seperti Bendorejo, Garum, Papuh, hingga Nyunyur.

Di Bendorejo, berdiri Pabrik Sumber Cangkring yang memproduksi tapioka dari ketela pohon serta serat nanas (agave). Di tempat lain, HVA juga mengusahakan gula, kopi, teh, karet, dan kelapa sawit.

Kini, yang tersisa dari kejayaan itu hanyalah cerobong asap tinggi, gudang tua, dan sisa bangunan pabrik. Namun justru di situlah daya tariknya: bangunan yang pernah jadi simbol kolonialisme kini berubah jadi ruang kontemplasi sekaligus objek wisata sejarah.

Cerobong Asap Jadi Ikon Baru

Cerobong asap Pabrik Sumber Cangkring sering diunggah di media sosial. Dari angle tertentu, bangunan bata merah yang menjulang ini terlihat sangat estetik. Tak jarang, foto-fotonya viral di Instagram hingga TikTok.

SEJARAHBaca Juga: Gunung Kelud Sering Salah Ditulis Jadi Kelut, Ini Fakta Sejarah Nama Aslinya

“Kalau sore hari, banyak anak muda datang hanya untuk foto dengan latar cerobong. Mereka bilang tempat ini unik, beda dengan spot foto biasa,” ujar salah satu warga Desa Gembongan.

Selain jadi spot foto, lokasi ini juga sering dikunjungi komunitas sejarah lokal. Mereka mengadakan tur kecil, menjelaskan bagaimana HVA beroperasi dan bagaimana kehidupan buruh tani saat itu.

Potensi Wisata Edukasi

Sejarawan lokal melihat, peninggalan HVA bisa dikembangkan jadi wisata edukasi. Tidak hanya menampilkan sisi fisik bangunan, tapi juga cerita di baliknya. Bagaimana Blitar terhubung dengan Amsterdam, bagaimana rakyat dipaksa bekerja, hingga bagaimana hasil bumi Jawa mengalir ke Eropa.

“Kalau diolah dengan baik, cerobong HVA bisa jadi museum terbuka. Anak-anak sekolah bisa belajar langsung tentang kolonialisme, bukan hanya lewat buku,” jelas seorang pemerhati sejarah Blitar.

Potensi ini bahkan bisa terintegrasi dengan wisata sejarah lain di Blitar, seperti Makam Bung Karno, Monumen PETA, dan candi-candi peninggalan era Majapahit. Dengan begitu, Blitar tak hanya dikenal lewat wisata religi dan budaya, tapi juga wisata industri kolonial.

Kontroversi: Antara Warisan atau Luka Lama

Meski menarik, tidak semua orang sepakat peninggalan HVA dijadikan objek wisata. Bagi sebagian warga, bangunan itu adalah simbol penderitaan. Buruh perkebunan dulu bekerja keras dengan upah rendah, sementara keuntungan besar dibawa ke Belanda.

“Cerobong itu bukan hanya bangunan, tapi juga pengingat bagaimana rakyat kecil pernah jadi korban sistem kolonial,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.

Inilah yang membuat diskusi soal wisata HVA di Blitar sering memunculkan kontroversi. Di satu sisi, ada dorongan untuk menghidupkan potensi ekonomi lewat wisata sejarah. Di sisi lain, ada tuntutan agar aspek edukasi dan kritik sosial tetap ditonjolkan.

Dari Masa Lalu ke Masa Depan

Apapun pandangannya, satu hal jelas: warisan HVA di Blitar tidak bisa dihapus. Cerobong asap di Ponggok dan sisa-sisa kebun di Bendorejo sudah jadi bagian dari lanskap sejarah Blitar.

Justru di situlah peluangnya. Dengan pendekatan kreatif, bangunan kolonial bisa diubah menjadi ruang belajar, ruang wisata, dan ruang dialog antar generasi. Generasi muda bisa mengenang sejarah, sekaligus membayangkan masa depan yang lebih adil.

Penutup

Jejak HVA di Blitar adalah bukti bagaimana kolonialisme meninggalkan warisan yang rumit: bangunan indah sekaligus simbol penderitaan.

Kini, cerobong asap yang dulu jadi alat industri kolonial justru menjadi titik temu baru: antara sejarah, budaya, dan pariwisata. Pertanyaan yang tersisa adalah: apakah Blitar siap menjadikannya bagian resmi dari wajah wisata sejarahnya?

Editor : Anggi Septian A.P.
#peninggalan hvA #wisata sejarah blitar #cerobong asap ponggok