Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Melihat Tradisi Kenduri Akbar Petani di 4 Kecamatan Kabupaten Blitar Jelang Buka Gilir Air Kali Putih

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 24 September 2025 | 17:18 WIB

 

Melihat Tradisi Kenduri Akbar Petani di 4 Kecamatan Kabupaten Blitar Jelang Buka Gilir Air Kali Putih
Melihat Tradisi Kenduri Akbar Petani di 4 Kecamatan Kabupaten Blitar Jelang Buka Gilir Air Kali Putih

BLITAR - Ratusan petani dan warga dari empat kecamatan berkumpul di hulu sumber mata air Kali Putih, Selasa (23/9/2025). Lolasinya ada di perbatasan Kecamatan Garum dengan Kecamatan Gandusari. Baru tahun ini dimulainya tradisi kenduri akbar di sawah, petani berharap adanya berkah.

Terop panjang berdiri di jalan persawahan, berisi warga dan petani yang menghadap makanan dikemas dengan takir. Mereka menunggu tokoh petani dan agama yang menyampaikan doa hajatan akbar ini.

“Festival 1.000 Takir tradisi Metri Dawuhan buka gilir petani Kali Putih, baru pertama tahun ini diadakan, semoga bisa menjadi acara tahunan. Acara ini menandakan buka gilir untuk mengambil air di hulu Kali Putih di saat musim kemarau,” ujar ketua panitia acara, Supriyono.

Dia melanjutkan, usai sumber air hulu dibuka, tentu akan menggilir persawahan yang ada di empat kecamatan. Yakni, Garum, Gandusari, Talun, dan Kanigoro. Maka dari itu, acara ini juga diikuti oleh masyarakat dari daerah tersebut. Para petani sepakat membuat tasyakuran untuk buka gilir ini agar air yang didatangkan berkah.

Laki-laki yang juga menjadi ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) ini mengaku produktivitas pertanian di empat kecamatan cukup baik. Namun, pada beberapa waktu terakhir ini, air terkendala dengan lumpur yang terjadi karena adanya tambang pasir di dekat hulu.

“Petani sangat terganggu dengan adanya limbah tambang. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap yang kami rasakan. Karena sampai sekarang konflik ini belum ada titik temu. Namun, tasyakuran ini bukan bentuk protes, melainkan murni bentuk rasa syukur dan doa,” ungkapnya.

Suhermi, warga Desa Slorok, Kecamatan Garum, mengaku baru pertama kali mengikuti Festival 1.000 Takir ini. Dalam festival ini, setiap keluarga petani dari empat kecamatan diminta membawa dua takir sebagai bentuk sedekah bersama.

Dia tertarik ikut acara ini karena menjadi petani dan rumahnya dekat dengan acara. Tahun sebelumnya sudah ada acara tasyakuran seperti ini. Namun, sejak ada konflik tambang, acara dibuat besar. “Dulu sebelum ada tambang, air lancar dan jernih. Sekarang beda. Sering mampet karena sungai penuh lumpur. Petani jadi kesulitan,” tuturnya.

Bupati Blitar Rijanto yang hadir dalam acara tersebut mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat. Dia menilai Festival 1.000 Takir merupakan tradisi luhur yang harus dijaga.

“Sejak pagi, petani sudah berduyun-duyun datang, membawa takir sebagai wujud syukur. Ini adalah budaya asli warisan nenek moyang yang patut dilestarikan,” katanya.

Rijanto juga berpesan agar kelompok HIPPA dan para petani tetap menjaga kekompakan. Sebab, tradisi ini adalah bentuk syukur pada Allah atas panen yang melimpah dan air yang tetap mengalir. Maka dari itu, tradisi ini harus terus dilestarikan. (jar/c1/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#petani #kenduri #Kecamatan Garum #hajatan #sumber mata air #tradisi