BLITAR — Pedagang buah di Pasar Buah Brongkos, Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, mengungkapkan keluh kesah mereka terkait kondisi penjualan yang kerap tidak menentu. Meski lokasi pasar berada di jalur lalu lintas yang ramai kendaraan, kenyataannya tidak berbanding lurus dengan jumlah pembeli yang datang.
Triyani, salah satu pedagang buah, menyampaikan bahwa jenis dagangan yang dijual menyesuaikan dengan musim buah yang sedang berlangsung. “Sekarang lagi musim singkong, jadi banyak yang jual singkong. Kalau musim rambutan ya banyak yang jual rambutan, tergantung musim juga jualannya,” ujarnya.
Lapak buah di kawasan ini tetap buka selama 24 jam meski tidak selalu ramai pembeli. “Kadang ada yang mampir, kadang lewat saja. Kalau misalnya ada yang beli disyukuri, kalau tidak ya sabar saja. Kami semua adalah pedagang buah yang bersaing sehat di tempat ini, jadi rezekinya ya masing-masing,” jelas perempuan 30 tahun ini.
Sementara itu, Sulastri, pedagang lainnya yang sudah berusia 45 tahun, menuturkan kondisi serupa. Menurutnya, meski banyak kendaraan melintas, transaksi yang terjadi tidak sepadan. “Saya sering nemu buah sampai busuk karena tidak dibeli, jadi ya rugi di kami. Kalau sudah lihat seperti itu, sebagai pedagang ya sedih to, Mas,” ungkapnya.
Dia berharap agar masyarakat lebih banyak mengonsumsi buah sebagai bagian dari pola hidup sehat sekaligus membantu keberlangsungan usaha kecil para pedagang. “Semoga masyarakat semakin senang makan buah biar sehat, dan membantu kami UMKM pedagang buah kecil seperti ini,” tambah Sulastri.
Kondisi yang dialami para pedagang di Pasar Buah Brongkos ini mencerminkan tantangan sektor usaha kecil di tengah persaingan dan ketidakpastian pasar. Meski demikian, mereka tetap berusaha bertahan dengan penuh kesabaran dan harapan. (mg4/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah