BLITAR-Candi Penataran di Blitar bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga pusat spiritual yang masih hidup hingga kini. Kompleks candi terbesar di Jawa Timur ini sejak lama dipercaya sebagai tempat penuh energi mistis, dengan berbagai mitos yang terus diwariskan turun-temurun.
Sebagian masyarakat percaya, Candi Penataran merupakan tempat pemujaan untuk menolak bala, terutama ancaman letusan Gunung Kelud. Keyakinan ini lahir dari catatan sejarah yang menyebutkan raja-raja Kediri, Singosari, hingga Majapahit menggunakan Penataran sebagai benteng spiritual terhadap bencana alam.
Menurut kisah yang tercatat dalam kitab Negarakertagama, Raja Hayam Wuruk pernah berkunjung ke Candi Penataran untuk melakukan pemujaan terhadap Hyang Acalapati, perwujudan Dewa Siwa sebagai penguasa gunung. "Kunjungan itu menandakan Penataran memiliki fungsi spiritual yang sangat penting bagi Majapahit," jelas sejarawan lokal, Anusafik, dalam tayangan Telisik Nusantara.
Tak hanya itu, mitos tentang Ken Arok juga membayangi eksistensi Penataran. Beberapa ahli berpendapat, nama Girindra yang disebut dalam Negarakertagama mirip dengan gelar Ken Arok ketika menjadi Raja Singosari. Hal ini memunculkan dugaan bahwa Candi Penataran menjadi tempat pendarmaan Ken Arok, meski kebenarannya masih diperdebatkan.
Selain kaitannya dengan raja-raja besar, masyarakat sekitar percaya bahwa Candi Penataran menyimpan energi spiritual yang mampu memberikan berkah. Banyak peziarah datang dengan tujuan berbeda, mulai dari mencari kesembuhan, keberuntungan usaha, hingga memohon keselamatan hidup.
Salah satu titik yang dianggap paling sakral adalah petirtaan atau kolam pemandian di belakang candi utama. Air di petirtaan ini diyakini dapat membersihkan diri secara lahir dan batin. Konsep ini sejalan dengan ajaran Hindu, di mana air suci menjadi media penyatuan jiwa manusia dengan dewa.
"Peziarah biasanya mandi di petirtaan sebelum naik ke candi utama. Itu simbol perjalanan spiritual dari dunia profan menuju kesucian," tambah Anusafik. Tradisi ini hingga kini masih dijalankan oleh sebagian orang yang melakukan tirakat di area Penataran.
Tidak hanya soal pembersihan diri, mitos kesaktian juga melekat kuat. Beberapa cerita rakyat menyebutkan bahwa siapa pun yang mampu melakukan ritual khusus di Penataran akan memperoleh kekuatan batin luar biasa. Meski terdengar mistis, kisah-kisah seperti ini justru membuat Candi Penataran semakin menarik bagi pencari spiritualitas.
Keberadaan relief Ramayana dan kisah Samudra Manthana pada dinding candi juga memberi makna religius yang dalam. Relief itu tidak sekadar hiasan, melainkan simbol perjalanan hidup manusia, perjuangan melawan hawa nafsu, dan pencarian keabadian.
Kini, meski telah berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah, aura spiritual Penataran tetap terasa kuat. Banyak pengunjung yang tidak hanya datang untuk menikmati arsitektur candi, tetapi juga melakukan doa pribadi di sudut-sudut tertentu.
Sejarawan menyebut fenomena ini sebagai contoh sinkretisme Jawa, di mana sejarah, mitos, dan spiritualitas menyatu dalam satu ruang sakral. Bagi masyarakat Blitar dan sekitarnya, Candi Penataran bukan sekadar warisan arkeologi, melainkan pusat energi spiritual yang terus hidup di tengah zaman modern.
Dengan segala mitos dan praktik spiritual yang melekat, Candi Penataran membuktikan dirinya lebih dari sekadar peninggalan Majapahit. Ia menjadi ruang perjumpaan antara sejarah dan keyakinan, antara masa lalu dan masa kini.
Editor : Anggi Septian A.P.