Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Benarkah Candi Penataran Jadi Makam Ken Arok? Temuan Kitab Kuno Picu Perdebatan

Ichaa Melinda Putri • Minggu, 28 September 2025 | 01:30 WIB
Benarkah Candi Penataran Jadi Makam Ken Arok? Temuan Kitab Kuno Picu Perdebatan
Benarkah Candi Penataran Jadi Makam Ken Arok? Temuan Kitab Kuno Picu Perdebatan

BLITAR-Candi Penataran di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik. Kompleks candi terbesar di Jawa Timur ini disebut-sebut menyimpan misteri besar: benarkah tempat ini dulunya adalah pendarmaan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari?

Kontroversi ini muncul karena adanya kesamaan gelar dan penyebutan nama dalam kitab kuno. Salah satunya kitab Negarakertagama yang menyebut Raja Hayam Wuruk pernah melakukan pemujaan di Candi Penataran kepada sosok Hyang Acalapa, perwujudan Dewa Siwa sebagai Girindra atau Penguasa Gunung.

Kata Girindra inilah yang memicu perdebatan. Gelar tersebut ternyata mirip dengan salah satu julukan Ken Arok ketika memerintah di Singasari. Dari sinilah dugaan berkembang, apakah Candi Penataran bukan hanya tempat pemujaan, melainkan juga lokasi pendarmaan sang raja kontroversial itu.

Ahli arkeologi menyebut, dugaan ini tidak bisa dilepaskan dari struktur historis Candi Penataran. Dibangun sejak era Kediri pada abad ke-12, kompleks ini kemudian mendapat tambahan bangunan pada masa Singasari oleh Raja Kertanegara, hingga mencapai puncak kejayaan di era Majapahit.

“Nama Girindra dalam Negarakertagama punya keterkaitan dengan gelar Ken Arok. Beberapa ahli menilai ada kemungkinan Candi Penataran menjadi tempat perbuan Ken Arok,” ujar Anusafik, kreator kanal sejarah Elmo Channel dalam videonya.

Namun pendapat itu tidak sepenuhnya disepakati. Ada pakar lain yang menilai Candi Penataran hanya berfungsi sebagai candi gunung. Tujuannya jelas: menangkal bencana Gunung Kelud yang sejak dahulu kerap meletus dan merusak kawasan pertanian masyarakat.

Perdebatan ini semakin menarik karena prasasti Palah tahun 1197 Saka juga ditemukan di area selatan Candi Penataran. Prasasti tersebut menyebut upacara suci untuk Batara Palah, yang menegaskan fungsi candi sebagai pusat ritual pemujaan.

Selain itu, pada tahun 1286, Raja Kertanegara dari Singasari juga membangun Candi Naga di kompleks ini. Reliefnya menggambarkan kisah Samudra Manthana atau pengadukan samudra demi memperoleh air kehidupan. Relief semacam ini biasanya berfungsi religius, bukan funerary atau pendarmaan.

Meski begitu, kisah tentang Ken Arok tidak bisa dipisahkan dari aura mistis Candi Penataran. Apalagi tokoh ini dikenal penuh intrik, dari kisah pembunuhan Tunggul Ametung hingga ambisinya mendirikan wangsa baru di Singasari. Fakta bahwa garis keturunan Rajasa dan Waradana juga lahir darinya memperkuat aura kontroversi.

Catatan sejarah dari bangsawan Sunda abad ke-15, Bujang Gamanik, juga menyinggung Candi Penataran (disebut Candi Palah). Dalam catatannya, ia menyebut tempat ini sebagai pusat belajar agama sekaligus lokasi ziarah. Hal ini menunjukkan Candi Penataran tidak pernah lepas dari fungsi spiritual lintas generasi.

Setelah lama terbengkalai, Candi Penataran akhirnya ditemukan kembali oleh Thomas Stamford Raffles pada 1815. Sejak itu, penelitian demi penelitian terus dilakukan, namun teka-teki soal Ken Arok belum pernah terjawab tuntas.

Kini, kompleks candi yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Blitar, ini lebih banyak dikenal sebagai destinasi wisata sejarah. Namun bayangan pertanyaan itu masih menggantung: apakah benar Candi Penataran adalah makam agung seorang raja besar, atau sekadar pusat pemujaan untuk meredam amarah Gunung Kelud?

Jawabannya masih menjadi misteri, sekaligus daya tarik tersendiri bagi para peneliti maupun peziarah yang datang.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar #Ken Arok