BLITAR-Tradisi Baru di Kampung Sida Mulya, Terinspirasi dari Kisah Mistis Bu Sarinah
Misteri rumah kosong di Kampung Sida Mulya, sebuah desa kecil di kaki bukit, masih menyisakan cerita yang sulit dipercaya. Sosok Bu Sarinah, yang menurut warga sudah lama meninggal, justru hadir kembali dalam wujud berbeda. Ia tak menakutkan, melainkan datang membawa rantang berisi masakan hangat.
Kisah mistis ini tak berhenti hanya sebagai cerita horor. Justru dari pengalaman itulah lahir sebuah tradisi baru yang kini dijalankan warga: berbagi makanan antar tetangga. Tradisi itu mereka sebut “rantang dari rumah sebelah”.
Awal Kehadiran Sosok Misterius
Cerita bermula dari pasangan muda, Tommy dan Risa, yang pindah ke desa setelah usaha mereka gulung tikar. Mereka menyewa rumah sederhana yang berdampingan dengan rumah kosong. Dua hari setelah pindah, seorang perempuan paruh baya memperkenalkan diri sebagai Bu Sarinah, tetangga sebelah.
Dengan ramah ia menyerahkan rantang berisi sayur asem dan tempe goreng. Bagi Tommy dan Risa yang sedang kesulitan, perhatian itu terasa sangat berarti. Apalagi, Bu Sarinah rutin datang membawa masakan lain seperti garang asem, tiwul, hingga wedang jahe.
Namun, misteri muncul ketika warga sekitar menyebut rumah itu kosong. Lebih mengejutkan lagi, mereka mengungkap bahwa Bu Sarinah sudah lama meninggal.
Dari Misteri Menjadi Kehangatan
Alih-alih ketakutan, Tommy dan Risa justru merasa mendapat penghiburan. Kehadiran Bu Sarinah bukan menghadirkan teror, melainkan kasih sayang.
“Setiap makanan dari beliau seperti mengingatkan aku pada ibu,” ungkap Risa suatu sore.
Kisah ini cepat menyebar ke warga lain. Beberapa awalnya terkejut, bahkan ada yang ketakutan. Namun seiring waktu, mereka melihat dampak positif yang lahir dari peristiwa itu.
Inspirasi untuk Berbagi
Pak RT akhirnya mengusulkan ide sederhana: kenapa tidak melanjutkan kebiasaan baik Bu Sarinah dengan saling berbagi makanan? Dari situlah lahir tradisi baru bernama “rantang dari rumah sebelah”.
Setiap Jumat sore, warga menyiapkan masakan dari rumah masing-masing. Mereka lalu saling bertukar rantang berisi makanan khas, dari sayur lodeh, urap, hingga jajanan pasar.
Tradisi ini membuat hubungan antarwarga makin erat. Bukan hanya soal makanan, tapi juga soal menjaga nilai kebersamaan dan kepedulian.
Rumah Kosong Tak Lagi Menyeramkan
Sejak ada tradisi itu, rumah kosong peninggalan Bu Sarinah tak lagi dianggap angker. Justru menjadi simbol kebaikan yang terus hidup. Banyak warga percaya, semangat Bu Sarinah ikut menjaga desa mereka.
Anak-anak Bu Sarinah yang sempat datang pun terharu. “Ibu memang suka berbagi. Kami tidak menyangka kebaikan itu masih diteruskan sampai sekarang,” ujar salah satu putrinya.
Warisan Kebaikan yang Abadi
Kini, “rantang dari rumah sebelah” bukan hanya tradisi, tapi juga simbol warisan kebaikan yang tak lekang waktu. Bagi warga Kampung Sida Mulya, kisah mistis Bu Sarinah bukan sekadar cerita seram. Ia justru meninggalkan pelajaran penting: bahwa kebaikan bisa hidup lebih lama dari umur manusia itu sendiri.
Setiap kali rantang berpindah tangan, warga merasa seolah-olah Bu Sarinah masih hadir di tengah mereka. Tidak lagi sebagai sosok misterius dari rumah kosong, melainkan sebagai roh kebaikan yang mengajarkan arti kepedulian.
Kisah Mistis yang Mengikat Komunitas
Tradisi baru ini juga menarik perhatian desa sekitar. Beberapa kampung bahkan mulai meniru, menjadikan kisah Bu Sarinah sebagai inspirasi.
“Kalau biasanya cerita hantu bikin takut, di sini malah bikin guyub,” kata Bu Warti, salah satu warga.
Dengan begitu, kisah mistis Bu Sarinah tidak hanya hidup dalam cerita lisan, tapi juga nyata dalam tindakan sehari-hari warga desa.
Di Kampung Sida Mulya, hantu bukan sekadar penakut. Ia bisa menjadi sumber inspirasi, pengikat komunitas, bahkan pencetus tradisi baru.
Editor : Anggi Septian A.P.