BLITAR - Legenda Roro Kuning tak berhenti pada kisah cintanya yang tragis dan pertarungan dengan Raden Bahurekso. Dari perjalanan panjang itu, ia berubah menjadi sosok gaib yang dikenal sebagai Dewi Lanjar, penguasa laut utara Jawa.
Keberadaannya dipercaya hingga kini, terutama oleh masyarakat pesisir pantura seperti Pekalongan, Batang, hingga Kendal. Para nelayan dan warga setempat menyebut Dewi Lanjar sebagai penjaga laut yang bisa membawa keberuntungan, sekaligus mendatangkan bala jika tidak dihormati.
Bagi nelayan, melaut bukan sekadar mencari ikan, tapi juga perjalanan spiritual. Ombak besar dan arus laut yang tak bisa ditebak membuat mereka selalu ingat akan kekuatan gaib. Di sinilah peran Dewi Lanjar menjadi penting dalam keyakinan masyarakat. Mereka percaya, dengan menghormati Dewi Lanjar, pelayaran akan lancar dan hasil tangkapan melimpah.
Ritual untuk menghormati Dewi Lanjar biasanya dilakukan dengan cara sedekah laut atau larung sesaji. Nelayan membawa tumpeng, hasil bumi, hingga kepala kambing yang dilarung ke tengah laut. Tradisi ini bukan hanya bentuk syukur, tetapi juga permohonan agar Dewi Lanjar berkenan melindungi mereka.
Seorang tokoh adat di Pekalongan pernah berkata, “Kalau nelayan tak menghormati laut, artinya mereka juga tak menghormati Dewi Lanjar. Konon, sering ada yang kena musibah kalau melaut tanpa doa atau sesaji.”
Dalam budaya Jawa, Dewi Lanjar dianggap memiliki peran berbeda dengan Ratu Kidul. Jika Ratu Kidul berkuasa di laut selatan, maka Dewi Lanjar menjaga laut utara. Ia sering digambarkan sebagai sosok perempuan cantik dengan pakaian serba putih, muncul di pantai atau di atas ombak.
Meski terdengar mistis, banyak yang meyakini bahwa kepercayaan pada Dewi Lanjar juga punya nilai sosial. Tradisi sedekah laut misalnya, menjadi sarana mempererat persaudaraan nelayan sekaligus menjaga harmoni dengan alam.
Selain itu, ada mitos lain yang berkembang. Konon, Dewi Lanjar bisa menampakkan diri pada pemuda tampan yang nekat berjalan sendirian di tepi pantai pada malam hari. Sebagian masyarakat percaya bahwa hal itu pertanda sang pemuda “dipinang” untuk menjadi pengikut di alam gaib.
Kendati kisahnya berbau mistis, keberadaan Dewi Lanjar tetap dijaga dalam ingatan kolektif masyarakat pesisir. Bahkan, di beberapa daerah pantura, ada petilasan atau tempat khusus yang dipercaya sebagai titik singgah Dewi Lanjar. Lokasi itu sering diziarahi warga, terutama saat musim tertentu.
Bagi generasi muda, legenda Dewi Lanjar bisa dipandang sebagai bagian dari identitas budaya Jawa. Ia bukan sekadar mitos, melainkan simbol kekuatan perempuan yang berani melawan nasib tragis, hingga akhirnya menemukan peran abadi dalam menjaga laut utara.
Hingga hari ini, tradisi menghormati Dewi Lanjar terus berlangsung. Nelayan tetap melarung sesaji sebelum melaut, doa tetap dipanjatkan agar selamat, dan cerita tentang sang dewi terus diturunkan dari mulut ke mulut.
Legenda Roro Kuning yang berubah menjadi Dewi Lanjar menjadi bukti bagaimana kisah pribadi bisa melebur dalam tradisi kolektif, lalu hidup berabad-abad lamanya dalam budaya pesisir Jawa.
Editor : Anggi Septian A.P.