Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dapur MBG di Kabupaten Blitar Terapkan SOP Ketat Penyajian Menu Antisipasi Keracunan

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 30 September 2025 | 17:30 WIB
BERSIH: Petugas SPPG menggunakan APD untuk memasuki dapur dan meracik MBG.
BERSIH: Petugas SPPG menggunakan APD untuk memasuki dapur dan meracik MBG.

BLITAR – Program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Blitar mulai dijalankan dengan hati-hati. Salah satunya di Satuan PelayananPemenuhan Gizi (SPPG) Suruhwadang, Kecamatan Kademangan.

Pihak pengelola menegaskan, antisipasi keracunan menjadi prioritas utama dalam peluncuran perdana program tersebut.

Kepala SPPG Suruhwadang, Syahira Yumna Azizah menjelaskan, pihaknya memilih untuk membatasi penerima manfaat di tahap awal.

Maka dari itu, dalam langkah pertama pihaknya menyiapkan 2.553 penerima manfaat dari enam desa di Kecamatan Kademangan.

Sebab, jika langsung 3.000 lebih sasaran, pihaknya justru khawatir alur distribusi tidak maksimal dan relawan kewalahan.

“Untuk mengantisipasi kasus keracunan yang sempat viral di daerah lain, SPPG Suruhwadang mengambil dua langkah utama. Pertama, seluruh relawan diwajibkan mengikuti trial dan pelatihan khusus terkait penyimpanan, kebersihan, hingga pencegahan kontaminasi silang,” ujarnya.

Syahira melanjutkan, langkah lain SPPG aktif mengedukasi masyarakat melalui media sosial. Lewat akun Instagram dan TikTok, mereka menampilkan proses di dapur, mulai dari general cleansing hingga tata cara menjaga makanan tetap steril.

“Steril tapi tetap transparan. Sehingga masyarakat bisa lihat langsung dapurnya bersih melalui sosial media,” tambahnya.

Pada tahap awal, MBG menjangkau 31 sekolah. Jika diperluas ke seluruh desa, jumlahnya bisa mencapai 49 sekolah dengan lebih dari 3.500 penerima.

Untuk itu, SPPG menambah armada distribusi, termasuk motor modifikasi untuk menjangkau wilayah dengan medan sulit.

“Kalau mobil tidak bisa masuk, motor modifikasi jadi solusi. Prinsipnya, semua anak tetap bisa mendapat makanan bergizi, tidak ada yang tertinggal,” ujar Syahira.

Syahira menyebut, SPPG Suruhwadang juga menekankan pemakaian bahan pangan lokal. Telur, ayam, tahu, dan tempe disuplai langsung dari peternak serta perajin sekitar. Pekerja dapur pun diprioritaskan dari warga desa setempat, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.

Dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) ketat, edukasi relawan, pemanfaatan pangan lokal, dan dukungan penuh dari DPRD, program MBG diharapkan berjalan aman sekaligus merata.

“Yang penting anak-anak bisa makan bergizi tanpa rasa was-was,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar, Fatatoh Hironi Ulya menegaskan, pihaknya akan mengawal program MBG dari dapur hingga ke penerima manfaat.

Dia menilai, SPPG Suruhwadang sudah memenuhi SOP. Dia menambahkan, pihaknya siap berkoordinasi dengan laboratorium kesehatan daerah (labkesda) di Kecamatan Sutojayan untuk memastikan standar keamanan pangan terjaga.

Tentu tujuannya menghindari kasus keracunan MBG di Kabupaten Blitar.

“Kalau saya lihat, yang sudah berdiri di Blitar ini luar biasa. SOP-nya jelas, standar higienis juga terpenuhi. Insya Allah aman,” pungkasnya. (jar/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #sop #dapur MBG #menu #Penyajian