BLITAR - Salurkan Langsung ke Santri Yatim dan Penghafal Al-Qur’an
Sebuah keprihatinan yang lahir dari masjid kecil di Pontianak, kini telah merambat hingga Blitar, menjelma menjadi rentetan kebaikan yang tak putus.
Bermula dari temuan dimana masih banyak pondok pesantren yang ternyata masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan beras sehari-hari. Gerakan Infaq Beras (GIB) hadir dengan tujuan untuk memastikan tidak ada lagi periuk nasi yang kosong di tempat-tempat para penjaga Al-Qur'an.
Di balik tembok pondok pesantren, di antara lantunan ayat suci yang tak pernah putus terdengar, ada perjuangan sunyi yang jarang disorot memastikan perut para santri yatim dan penghafal Al-Qur’an tetap terisi.
Dari keprihatinan itulah Gerakan Infaq Beras (GIB) hadir, konsisten menyalurkan beras selama 13 tahun sebagai wujud kepedulian nyata.
Gerakan ini sejatinya bermula dari sebuah masjid sederhana berukuran 11 x 17 meter di kawasan pemukiman non-Muslim di Pontianak.
Dari masjid itulah QH Luqmanulhakim atau akrab disapa Ayahman bersama rekannya, Tokya, menggagas program “Santri Bahagia”. Dukungan luar biasa terhadap program itu membuat keduanya menyisihkan dana untuk survei ke pondok-pondok pesantren.
Hasil survei menunjukkan bahwa banyak pondok yang dibangun dengan bangunan megah, tetapi kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Beras yang tersedia seringkali berkualitas buruk, bahkan hampir habis.Dari situlah lahir gagasan Gerakan Infaq Beras.
“Kenapa berupa beras? Karena beras itu kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan setiap hari. Dan kenapa ke pondok? Karena banyak pondok yang gratis, menampung anak yatim, anak buangan, bahkan santri geseran dari dinas sosial.
Di pondok ada aturan, ada jadwal yang membuat anak-anak lebih terkontrol dan tetap belajar,” jelas Elly, warga Kecamatan Talun, yang kini menjadi salah satu penggerak GIB Blitar.
Gerakan Infaq Beras sendiri mulai hadir di Blitar 46 bulan lalu, dan kini sudah memasuki bulan ke-47.
Meski belum memiliki kantor resmi, para relawan memiliki titik kumpul sekaligus drop point beras di Masjid Al Fataa di Desa Mronjo, Kecamatan Selopuro. Di tempat inilah sekitar 15–20 relawan yang disebut Pasukan Amal Sholeh (PASKAS) menggerakkan aksi solidaritas, dengan dukungan para donatur yang akrab disapa Orang Tua Asuh (OTA).
Selain distribusi beras, komunitas ini juga memiliki program Pasar Amal yang mana tidak setiap daerah bisa menjalankannya. Pada Pasar Amal ini, pakaian layak pakai dikumpulkan, kemudian dijual murah mulai dari Rp1.000.
Hasil penjualannya diputar kembali untuk mendukung pembelian beras. Namun, mengelola Pasar Amal bukan perkara mudah.
“Mencari orang yang amanah itu sulit sekali. Selama ini Pasar Amal sudah pindah empat kali, dan jika harus pindah lagi kami berharap bisa lebih baik,” ungkap perempuan 25 tahun ini.
Untuk menjaga transparansi, pihak pengelola tidak mengelola dana secara langsung. Semua donasi, baik yang dikumpulkan offline melalui kencleng (sedekah subuh) maupun online, disetorkan ke rekening pusat di Yogyakarta yang dikelola oleh salah satu bank swasta. Setiap bulan dana tersebut “dinolkan” dan dibelikan beras standar hotel yang harum dan berkualitas baru.
Laporan distribusi rutin dipublikasikan melalui media sosial agar OTA tetap bisa memantau meski tidak selalu ikut dalam kegiatan. Respons masyarakat Blitar bisa terbilang cukup positif. Dimana GIB sendiri sudah berkembang di berbagai kota dengan standar operasional seragam. Namun, Blitar punya kekhasan tersendiri lewat Pasar Amal.
Kolaborasi juga menjadi kunci keberlanjutan gerakan ini. Di Blitar sendiri, komunitas ini kerap menggandeng komunitas komunitas lain, mulai dari Berbagi Nasi Blitar, Relawan Sahabat Indonesia (RSI), hingga Masjid Al-Fataa.
Bagi Elly, alasan yang hanya berfokus pada pondok yatim dan penghafal Al-Qur’an bukan sekadar teknis, tapi juga prinsip. Dia menyebut ada dua jenis amal jariah yaitu jariah kebaikan dan jariah kemaksiatan.
“Kalau bantuan jatuh ke tangan yang tidak terkontrol, bisa saja dipakai untuk hal-hal yang tidak baik, dan itu justru bisa jadi aliran keburukan bagi donatur. Tapi kalau di pondok, InsyaAllah lebih terjaga, karena aktivitas mereka jelas seperti mengaji, sekolah, menghafal,” ujarnya.
Prinsip itulah yang diyakini membuat komunitas ini bisa bertahan hingga kini. Ke depan, harapan komunitas ini sederhana namun besar, yaitu semakin banyaknya pondok pesantren yang bisa disupport, semakin banyak OTA yang bergabung, dan semakin kuat ikatan kekeluargaan di antara para relawan.
“Kalau bisa semua pondok di Blitar bisa merasakan manfaatnya, dan teman-teman PASKAS nyaman berada di komunitas ini,” pungkas Elly.(*/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah