BLITAR - Salah satu bagian paling menarik dalam legenda Roro Kuning adalah pertarungannya melawan Raden Bahurekso. Peristiwa ini bukan hanya kisah tentang adu kesaktian, tapi juga simbol perjuangan manusia melawan takdir yang sudah digariskan.
Setelah berguru pada Ratu Kidul dan diberi kesaktian, Roro Kuning mendapat tugas berat: menghadang Raden Bahurekso yang sedang membuka hutan Gambiren. Hutan itu akan dijadikan pemukiman baru, dan keberhasilannya dianggap bisa mengubah peta kekuasaan di tanah Jawa.
Dengan pasukan jin di sisinya, Roro Kuning mencoba menggagalkan usaha tersebut. Ia menggunakan segala cara—mulai dari menggoda, merusak bangunan, hingga mengirimkan berbagai gangguan gaib.
Namun, Raden Bahurekso bukan sosok biasa. Ia dikenal sebagai bangsawan yang memiliki ilmu kesaktian tinggi sekaligus keteguhan hati luar biasa.
Pertarungan besar pun tak terelakkan. Malam itu, langit hutan Gambiren digambarkan mencekam. Angin kencang berhembus, suara gaib terdengar, dan pasukan jin berdatangan untuk membantu Roro Kuning.
Meski jumlah mereka ratusan, Raden Bahurekso tetap teguh. Dengan kekuatan spiritualnya, ia mampu menangkis serangan demi serangan.
Roro Kuning sendiri turun langsung ke medan pertempuran. Ia melepaskan ilmu kesaktiannya, memanggil badai, dan mengerahkan energi mistis. Namun, semua itu tetap tak mampu menggoyahkan Raden Bahurekso.
Dalam kisah ini, Bahurekso digambarkan sebagai sosok yang dilindungi kekuatan ilahi, membuatnya tak terkalahkan oleh pasukan gaib sekalipun.
Akhirnya, Roro Kuning menyadari bahwa ia tak mungkin menang. Ia kalah bukan karena lemah, tetapi karena takdir sudah menentukan jalannya.
Kekalahan itu justru menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Ia menyerah, memohon ampun, dan mengakui kehebatan lawannya.
Raden Bahurekso yang berhati besar tak lantas membinasakan Roro Kuning. Sebaliknya, ia memberinya jalan baru: menjaga laut utara Jawa. Dari sinilah, Roro Kuning kemudian dikenal sebagai Dewi Lanjar, penguasa gaib pantai utara yang disegani hingga kini.
Pertarungan ini memiliki makna simbolis yang dalam. Roro Kuning melambangkan manusia yang mencoba melawan kenyataan pahit dan takdir yang sudah digariskan. Ia sudah berjuang sekuat tenaga, bahkan dengan bantuan kekuatan gaib, namun tetap kalah.
Kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa ditaklukkan dengan kekuatan semata—ada kalanya takdir berbicara lebih keras.
Di sisi lain, Raden Bahurekso digambarkan sebagai simbol keteguhan hati, ketabahan, dan keberpihakan pada kebenaran. Ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal dan kehidupan baru.
Hingga kini, masyarakat masih mengenang pertarungan legendaris ini. Bagi sebagian orang Jawa, kisah Roro Kuning melawan Raden Bahurekso menjadi pengingat bahwa dalam hidup ada kalanya kita kalah.
Namun, kekalahan bukanlah akhir. Justru dari sanalah jalan baru bisa terbuka—seperti yang dialami Roro Kuning yang akhirnya menemukan peran barunya sebagai penjaga laut utara.
Legenda ini pun memperkaya khazanah budaya Jawa, di mana setiap tokoh tidak hanya dilihat dari kemenangan atau kekalahannya, melainkan juga dari perjalanan spiritual yang mereka jalani.
Editor : Anggi Septian A.P.