BLITAR – Proses seleksi terbuka Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Blitar sedang bergulir. Ada lima kandidat, empat di antaranya merupakan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar.
Anggota dewan berharap sekda merupakan putra daerah sehingga lebih paham kondisinya.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Muhammad Rifai, mengaku lebih condong agar kursi sekda diisi ASN internal. Sebab, pegawai pemkab sendiri yang mengetahui seluk-beluk permasalahan yang ada di daerahnya.
Namun jika diisi oileh pejabat luar daerah yang tidak punya inovasi dikhawatirkan timbul konflik internal.
Hal itu dikecualikan jika calon sekda luar daerah ini memiliki prestasi yang membanggakan dan ditularkan di Kabupaten Blitar.
“Kalau secara pribadi, saya lebih senang kalau sekda berasal dari putra daerah. ASN yang sudah lama mengabdi di Kabupaten Blitar tentu lebih memahami karakter masyarakat dan dinamika pemerintahan di sini. Kalau impor, apalagi tanpa prestasi luar biasa, dikhawatirkan justru menimbulkan benturan,” ujarnya.
Menurut Rifai, banyak ASN di Kabupaten Blitar yang punya kapasitas untuk bersaing. Karena itu, sebaiknya kesempatan berkarier diberikan kepada mereka.
Apalagi, puncak karier ASN adalah jabatan sekda. Kalau kesempatan itu justru diambil orang luar tanpa alasan kuat, justru Rifai menganggap harus dievaluasi kinerja ASN.
Selama ini, kinerja Sekda Kabupaten Blitar yang terdahulu cukup baik. Pihaknya menganggap pejabat itu bisa menjembatani eksekutif dengan legislatif. Selain itu, sekda selama ini juga bisa menyampaikan aspirasinya bupati dan anggota dewan.
“Untuk calon sekda sekarang, saya pilih orang Pemkab Blitar. Pilih saja yang terbaik dari yang ada,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Supriadi, menegaskan bahwa lembaga legislatif tidak memiliki kewenangan dalam menentukan siapa yang akan menjadi sekda.
Menurutnya, keputusan penuh berada di tangan kepala daerah setelah melalui rekomendasi Badan Kepegawaian Negara (BKN).
“Kami tidak ada kriteria khusus untuk sekda. Namun, kami berharap sekda ke depan benar-benar bisa mendukung tugas-tugas kepala daerah. Bukan hanya dalam urusan administrasi pemerintahan, tetapi juga menjadi jembatan yang komunikatif antara eksekutif dan legislatif,” katanya.
Supriadi menambahkan, pemilihan figur yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap harmonisasi pemerintahan.
Jika komunikasi antarlembaga berjalan lancar, maka program pembangunan daerah juga bisa terealisasi dengan baik.
Senada, Bupati Blitar juga menekankan pentingnya figur sekda yang mampu menjembatani komunikasi antara kepala daerah dan DPRD.
Dia menilai siapa pun yang terpilih harus bisa menjaga sinergi, baik dalam penyusunan kebijakan maupun pelaksanaan program pembangunan. Seleksi terbuka sekda kali ini menjadi sorotan karena dinilai sebagai momentum penting.
Jabatan sekda bukan sekadar posisi administratif, melainkan juga motor penggerak birokrasi. Keputusan siapa yang akan menempati kursi itu diyakini akan sangat menentukan arah pemerintahan Kabupaten Blitar ke depan.
“Kami percaya dengan panitia seleksi. Saya kira panitia memilih dari yang menjadi terbaik,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah