BLITAR-Shell, perusahaan energi global asal Belanda-Inggris, resmi menjual seluruh jaringan SPBU miliknya di Indonesia pada 2025. Keputusan ini ternyata bukan akhir dari kiprah Shell di Tanah Air. Sebaliknya, langkah tersebut menandai arah baru perusahaan yang kini semakin fokus pada masa depan energi, termasuk kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Pengumuman hengkangnya Shell dari bisnis ritel BBM tradisional membuat publik bertanya-tanya: mengapa perusahaan sebesar itu rela melepas 200 SPBU di Indonesia? Jawabannya terletak pada strategi global Shell untuk bertransformasi menjadi penyedia energi yang lebih ramah lingkungan.
Dalam laporan resmi, Shell menegaskan bahwa mereka ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Perusahaan kini mengalihkan investasi ke sektor kendaraan listrik, pengembangan charging station atau SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum), serta energi baru terbarukan.
Baca Juga: Transfer Pusat ke Daerah Susut, Besaran Dana Program RT Keren Kota Blitar Terancam Turun
“Shell berkomitmen mendukung transisi energi bersih. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan kendaraan listrik, dan kami ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” demikian pernyataan resmi Shell.
Langkah ini sejalan dengan tren global. Negara-negara maju, termasuk Eropa, Amerika, hingga China, tengah mempercepat adopsi kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi karbon. Produsen otomotif juga berlomba meluncurkan mobil listrik dengan harga yang semakin terjangkau.
Namun, tantangan terbesar justru ada di Indonesia. Infrastruktur kendaraan listrik masih terbatas, terutama SPKLU yang jumlahnya baru mencapai ribuan unit dan terkonsentrasi di kota besar. Konsumen pun masih banyak yang ragu berpindah dari kendaraan berbahan bakar minyak karena faktor harga, jarak tempuh, hingga kebiasaan.
Menurut pengamat energi, Dina Putri, peran perusahaan global seperti Shell sangat penting dalam mempercepat transisi ini. “Shell punya pengalaman internasional dan teknologi yang bisa membantu Indonesia memperluas jaringan SPKLU. Jika dikelola dengan baik, langkah ini bisa mendorong adopsi kendaraan listrik lebih cepat,” ujarnya.
Meski begitu, ada kekhawatiran bahwa hengkangnya Shell dari bisnis SPBU justru mengurangi pilihan konsumen BBM. Padahal, di sisi lain, Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Perubahan ini perlu diimbangi dengan strategi nasional yang jelas agar konsumen tidak dirugikan.
Shell sendiri tidak sepenuhnya pergi dari Indonesia. Pabrik pelumas di Marunda, Jakarta Utara, dan terminal BBM di Gresik, Jawa Timur, tetap beroperasi. Selain itu, Shell tengah menyiapkan fasilitas baru untuk mendukung pengembangan energi berkelanjutan.
Baca Juga: Ledakan Kilang Pertamina Dumai, Warga Panik Lari ke Luar Rumah
Bagi Indonesia, keputusan Shell bisa menjadi momentum untuk memacu pembangunan ekosistem kendaraan listrik. Pemerintah sudah menargetkan dua juta mobil listrik beroperasi pada 2030, dengan dukungan insentif pajak, subsidi, hingga pembangunan SPKLU oleh PLN dan swasta.
Jika Shell benar-benar memperluas jaringan SPKLU di Indonesia, konsumen akan mendapat alternatif baru yang bisa mempercepat transisi energi. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia mencapai net zero emission pada 2060.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah kendaraan listrik akan menjadi masa depan, tapi kapan Indonesia siap untuk beradaptasi,” kata Dina menegaskan.
Baca Juga: Heboh! Dosen UIN Malang Ngaku Mundur Gegara Kelas Kosong, Konflik Panas dengan Tetangga Terkuak
Perubahan besar ini juga menuntut kesiapan masyarakat. Harga kendaraan listrik yang masih tinggi dan keterbatasan infrastruktur menjadi PR bersama. Namun, dengan masuknya pemain global seperti Shell ke arena energi terbarukan, optimisme publik bisa meningkat.
Pada akhirnya, hengkangnya Shell dari bisnis SPBU bukanlah akhir, melainkan babak baru. Masa depan energi di Indonesia akan ditentukan oleh sejauh mana negara ini mampu mengikuti tren global kendaraan listrik dan energi bersih. Shell telah memberi sinyal jelas: dunia sedang bergerak menuju energi hijau, dan Indonesia tidak boleh tertinggal.
Editor : Anggi Septian A.P.