Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dinkes Kabupaten Blitar Ungkap Temuan Baru Kasus Leptospirosis di Wilayah Kesamben, Segini Warga yang Terdampak

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 3 Oktober 2025 | 17:19 WIB

1 Kasus Leptospirosis Ditemukan di Kesamben Dinkes Minta Warga Lebih Waspada
1 Kasus Leptospirosis Ditemukan di Kesamben Dinkes Minta Warga Lebih Waspada

BLITAR – Warga Kabupaten Blitar diminta lebih waspada terhadap penyakit menular leptospirosis.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar memastikan satu kasus penyakit yang dikenal dengan sebutan “penyakit kencing tikus” itu sudah terdeteksi di wilayah Kecamatan Kesamben. Yang bersangkutan kini sudah ditangan intensif oleh pihak rumah sakit.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto menjelaskan, kasus tersebut dialami pria berusia 64 tahun asal Kecamatan Kesamben.

Pasien sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit, bahkan harus menjalani cuci darah karena terkontaminasi bakteri Leptospira yang dibawa oleh tikus.

“Pasien sudah dinyatakan sembuh setelah mendapat penanganan medis. Tetapi temuan ini menjadi catatan penting bagi kami, sekaligus peringatan bagi masyarakat agar tidak menyepelekan penyakit leptospirosis,” terangnya, Kamis (2/10/2025).

Anggit melanjutkan, leptospirosis merupakan penyakit menular yang bisa menyerang manusia maupun hewan.

Penularannya terjadi melalui kontak dengan air atau tanah yang sudah tercemar urine tikus. Bakteri kemudian masuk ke tubuh manusia lewat luka terbuka di kulit atau melalui selaput lendir di mata dan mulut.

Gejala penyakit ini bervariasi, mulai dari demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, hingga gangguan organ dalam yang lebih serius.

Pada kasus tertentu, leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal, kerusakan hati, bahkan berujung kematian jika tidak segera ditangani.

Menurut Anggit, kasus yang ditemukan di Kecamatan Kesamben menjadi pengingat bahwa risiko penularan masih ada, terutama di wilayah dengan lingkungan yang lembap dan tidak terjaga kebersihannya.

Karena itu, dia kini memperkuat langkah pencegahan dengan meningkatkan surveilans deteksi dini dan respons cepat.

“Kami juga memperkuat jejaring fasilitas kesehatan. Mulai dari puskesmas hingga rumah sakit supaya pelaporan, investigasi, hingga tata laksana pasien leptospirosis bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” imbuhnya.

Selain langkah medis, dinkes juga menekankan pentingnya peran masyarakat. Anggit meminta warga untuk lebih disiplin menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Salah satunya dengan membersihkan saluran air, menutup makanan dengan baik, dan menyingkirkan potensi tempat berkembang biaknya tikus.

“Menjaga kebersihan lingkungan adalah kunci utama. Kalau lingkungannya bersih, otomatis masyarakat bisa menekan jumlah tikus sebagai vektor utama leptospirosis. Jadi bukan hanya soal kesehatan individu, tapi juga kepedulian bersama,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kasus #dinkes kabupaten blitar #leptospirosis #Terdampak