BLITAR – Siapa sangka tempe, makanan sederhana yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia, punya sejarah panjang yang menembus lintas abad. Jejak tempe bahkan sudah tercatat dalam naskah kuno Jawa sejak abad ke-19, sebelum akhirnya mendunia sebagai salah satu pangan sehat yang diburu masyarakat global.
Tempe pertama kali disebut dalam Serat Centini yang ditulis sekitar tahun 1814. Dalam kisah tersebut, tokoh Mas Cebolang singgah di sebuah dusun bernama Tembayat, Klaten, Jawa Tengah. Di sana ia dijamu dengan makanan sederhana berisi bawang merah, jahe, santan, dan tempe. Fakta ini menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-19, tempe sudah menjadi lauk sehari-hari bagi masyarakat Jawa.
Bahkan lebih jauh lagi, kisah dalam naskah itu merujuk pada kebiasaan makan tempe sejak abad ke-17. Artinya, tempe bukan sekadar makanan modern, melainkan bagian dari tradisi panjang masyarakat Jawa. Saat itu tempe dibungkus dengan daun jati atau daun pisang, bukan plastik seperti sekarang. Fermentasinya pun masih alami tanpa bantuan starter industri.
Sejumlah ahli bahasa menyebut istilah tempe kemungkinan besar berakar dari kata Jawa Kuno tumpi, yaitu makanan tipis berwarna putih dari tepung yang dikukus atau dijemur. Kemiripan bentuk dan warna inilah yang diduga melahirkan nama “tempe”. Sejarawan menilai, ini membuktikan bahwa tempe benar-benar lahir dari bahasa dan budaya lokal, bukan serapan dari asing.
Di masa lampau, tempe tidak dibuat dari kedelai kuning seperti sekarang. Masyarakat Jawa menggunakan kedelai hitam lokal berukuran kecil dan berwarna gelap. Proses fermentasi dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan mikroorganisme alami yang menempel di daun pembungkus. Salah satunya adalah jamur Rhizopus oligosporus, mikroba penting yang hingga kini dikenal sebagai pembentuk utama tempe.
“Bayangkan, tanpa laboratorium, tanpa termometer, tempe sudah bisa dibuat aman sejak berabad-abad lalu. Itu bukti pengetahuan lokal yang luar biasa,” ujar salah satu peneliti pangan dalam dokumenter sejarah tempe.
Masuk abad ke-19, peran tempe semakin vital. Saat rakyat Jawa terhimpit sistem tanam paksa Belanda, mereka kehilangan lahan untuk menanam pangan pokok. Tempe kemudian hadir sebagai penyelamat karena murah, bergizi, dan mudah diproduksi di dapur rumah sederhana. Bagi rakyat, tempe bukan sekadar lauk, melainkan strategi bertahan hidup di masa penjajahan.
Popularitas tempe juga menarik perhatian ilmuwan Belanda. Seorang botani, Dr. Teksira De Mattos, mencatat tempe sebagai salah satu hasil fermentasi unik yang sepenuhnya dikembangkan masyarakat lokal Jawa. Tempe bahkan masuk dalam sejumlah jurnal ilmiah awal abad ke-20 yang meneliti mikroba di dalamnya serta manfaat kesehatan yang ditawarkan.
Memasuki era modern, ilmuwan Indonesia turut berperan memperkuat posisi tempe di dunia sains. Prof. Koswan Jin dari Universitas Indonesia tercatat sebagai orang pertama yang berhasil mengisolasi kultur jamur tempe dan menerbitkan hasilnya di jurnal internasional. Penelitian ini membuat produksi tempe menjadi lebih konsisten, higienis, dan bisa diproduksi dalam skala industri.
Meski perjalanan panjang tempe sarat kebanggaan, ada sisi kelam yang patut diingat. Tempe bongkrek, olahan dari ampas kelapa, pernah menyebabkan ribuan kasus keracunan dan ratusan korban meninggal pada abad ke-20. Kasus itu membuat pemerintah melarang peredarannya sejak 1960-an. Dari tragedi itu, masyarakat belajar bahwa fermentasi tak terkontrol bisa berbahaya.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia juga mendorong konsumsi tempe melalui program ketahanan pangan nasional. Pada 1960–1980-an, tempe masuk ke menu wajib di sekolah, kantor, hingga dapur TNI. Bahkan saat krisis ekonomi 1998, tempe tetap hadir sebagai sumber protein murah bagi masyarakat.
Sejak 1970-an, diaspora Indonesia mulai memperkenalkan tempe ke Amerika dan Belanda. Puncaknya pada 1983, Prof. Winarno dan tim IPB memperkenalkan tempe dalam konferensi pangan dunia. Kini, tempe diproduksi di lebih dari 20 negara dan digemari sebagai superfood ramah vegan, rendah lemak, serta tinggi protein.
Dari dapur kecil di pedesaan Jawa hingga restoran mewah di luar negeri, tempe membuktikan diri sebagai kuliner yang melampaui zaman. Ia bukan hanya makanan, melainkan simbol pengetahuan lokal, daya tahan, dan identitas bangsa.
Kini muncul pertanyaan besar: apakah tempe layak diakui sebagai warisan budaya dunia? Melihat jejak panjangnya dari Serat Centini hingga meja makan global, jawabannya tampak semakin jelas.
Editor : Anggi Septian A.P.