BLITAR – Tempe kini dikenal sebagai makanan tradisional Indonesia yang mendunia. Di balik kelezatannya, ternyata ada peran besar ilmuwan Indonesia yang berhasil mengisolasi jamur khusus pembuat tempe, yaitu Rhizopus oligosporus. Penemuan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah kuliner nusantara.
Jamur Rhizopus oligosporus merupakan mikroba yang bekerja dalam proses fermentasi kedelai. Dari proses inilah tempe terbentuk dengan tekstur padat, aroma khas, dan cita rasa yang gurih. Yang membuat penemuan ini istimewa adalah fakta bahwa jamur tersebut hanya ditemukan pada pembuatan tempe di Indonesia.
Menurut catatan sejarah, penelitian intensif mengenai jamur tempe dimulai pada era 1960-an hingga 1970-an. Para ilmuwan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama untuk memetakan mikroflora dalam tempe. Hasil penelitian membuktikan bahwa jamur dominan yang berperan adalah Rhizopus oligosporus.
Salah seorang peneliti pangan dalam dokumenter sejarah tempe menyebutkan, “Jamur ini tidak hanya menghasilkan tempe dengan tekstur ideal, tetapi juga menekan pertumbuhan mikroba berbahaya. Artinya, tempe bukan sekadar makanan bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi.”
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Rhizopus oligosporus menghasilkan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Di antaranya adalah peningkatan ketersediaan protein, pembentukan vitamin B12, serta efek probiotik yang mendukung kesehatan pencernaan. Hal inilah yang membuat tempe mendapat julukan superfood dari Indonesia.
Pada tahun 1968, ilmuwan Indonesia berhasil mengisolasi jamur tempe dan menyimpannya dalam koleksi kultur mikroba internasional. Koleksi tersebut kemudian digunakan oleh para peneliti di seluruh dunia untuk mengembangkan studi pangan fermentasi. Sejak saat itu, tempe tidak lagi dipandang sekadar lauk rakyat kecil, melainkan juga objek penelitian akademik.
Penemuan ini membawa dampak besar. Pertama, tempe semakin dikenal sebagai pangan tradisional dengan dasar ilmiah kuat. Kedua, penelitian itu membuka peluang ekspor kultur jamur tempe ke berbagai negara. Hingga kini, permintaan starter tempe dari Indonesia tetap tinggi, terutama dari produsen tempe di Amerika, Jepang, Belanda, dan Australia.
Di sisi lain, keberhasilan isolasi jamur tempe menjadi simbol kemandirian sains Indonesia. Para peneliti lokal mampu membuktikan bahwa warisan kuliner nusantara bisa dipertahankan sekaligus dikembangkan dengan pendekatan ilmiah. Hal ini sejalan dengan semangat menjaga tempe sebagai identitas budaya sekaligus pangan sehat global.
Tempe kini masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang diakui UNESCO. Salah satu faktor pendukungnya adalah keberhasilan ilmuwan mengidentifikasi dan mengisolasi jamur pembuat tempe. Tanpa penelitian tersebut, tempe mungkin hanya akan dikenal sebatas lauk rakyat, bukan sebagai ikon kuliner dunia.
Kisah ilmuwan Indonesia ini juga memberi inspirasi generasi muda untuk terus menekuni sains dan teknologi pangan. Jika jamur kecil bernama Rhizopus oligosporus saja bisa mengangkat nama Indonesia di kancah internasional, bukan tidak mungkin penelitian lain di bidang pangan akan membawa prestasi serupa.
Dengan demikian, tempe bukan hanya soal rasa. Ia adalah hasil perpaduan tradisi, kearifan lokal, dan pencapaian ilmiah. Ilmuwan Indonesia berhasil membuktikan bahwa sains bisa menjaga, mengembangkan, sekaligus mengangkat martabat kuliner tradisional ke panggung dunia.
Editor : Anggi Septian A.P.