BLITAR - Banyak yang terkejut membaca catatan Mahuan, penerjemah rombongan Laksamana Cheng Ho abad ke-15, yang menggambarkan rakyat Majapahit sebagai bangsa barbar dan jorok. Ia menulis bahwa orang Jawa kuno gemar makan semut, serangga, dan ulat yang hanya dipanaskan sebentar di atas api. Namun, benarkah potret itu menggambarkan kenyataan sebenarnya di tanah Majapahit?
Dalam jurnal pribadinya, Mahuan bahkan menyebut masyarakat Majapahit malas keramas dan makan dengan tangan. Pandangan ini tentu dipengaruhi oleh latar budaya dan keyakinan Mahuan yang berbeda. “Mahuan datang dari negeri dan budaya lain, jadi wajar bila ia menilai dengan kacamata yang tidak memahami konteks lokal,” ujar sejarawan Irawan Joko Nugroho.
Faktanya, tradisi kuliner Majapahit jauh lebih kaya dan kompleks daripada gambaran sempit Mahuan. Berdasarkan sumber-sumber primer seperti prasasti, relief candi, dan kakawin, masyarakat Jawa kuno mengenal beragam olahan nasi, lauk pauk, sayur, hingga sambal. Bahkan, beberapa di antaranya masih kita nikmati hingga kini.
Baca Juga: Jawa Pos Radar Blitar Kunjungan ke Kampus UMINA Blitar: Siap Kerja Sama Majukan Pendidikan
Dalam Prasasti Rukam, disebutkan olahan nasi seperti seku paripurna yang menyerupai tumpeng, seku liwet, seku dinyun, dan seku matiman. Beras menjadi bahan pokok utama yang disakralkan melalui figur Dewi Sri, lambang kemakmuran dan kesuburan. Tak heran bila sawah dan ladang menjadi nadi ekonomi Majapahit, bahkan hingga diekspor ke luar negeri.
Soal lauk pauk, masyarakat Majapahit juga mengenal menu kaya protein. Relief di Candi Borobudur dan situs Petirtaan Cabean Kunti memotret hidangan lengkap berupa nasi, ikan, telur, dan sate. Catatan Mahuan yang menyebut orang Jawa hanya makan serangga jelas tidak sesuai dengan bukti arkeologis.
Sumber sastra seperti Kakawin Bomakarya menyebutkan adanya ikan asin (greh) dan dendeng dengan dua varian rasa—asin dan tawar. Daging yang dikonsumsi pun bervariasi: ayam, bebek, kerbau, babi, kijang, kambing, hingga kura-kura. Dalam pesta kerajaan, bahkan tersaji menu istimewa bernama Raja Mangsa, yakni daging eksklusif seperti penyu, anjing, dan babi hutan yang hanya boleh disantap raja atau bangsawan berjasa.
Baca Juga: Dispendik Kabupaten Blitar Mulai Perketat Izin Cerai ASN hingga PPPK, Ini Alasannya
Selain lauk, masyarakat Majapahit juga mengonsumsi sayuran segar (rumwah-rumwah), sayuran rebus (kulupan), serta mengenal sambal kacang dan pecel. Menariknya, orang Jawa kuno sudah mengenal sambal jauh sebelum masuknya cabai dari Amerika Selatan. Mereka menggunakan cabe jawa dan jahe sebagai bahan utama. Ini membuktikan kreativitas kuliner Nusantara yang telah berkembang berabad-abad silam.
Tak hanya itu, camilan manis seperti wajik, dodol, lepet, hingga rujak juga muncul dalam berbagai prasasti dan kakawin. Bahkan kerupuk rambak dari kulit sapi telah disebutkan dalam Kakawin Ramayana versi Jawa kuno abad ke-9.
Bila dibandingkan, catatan Mahuan ternyata memiliki banyak keterbatasan. Ia diduga tidak pernah sampai ke ibu kota Majapahit. Menurut analisis filolog Irawan Joko Nugroho, jarak tempuh dari pelabuhan Canggu ke ibu kota sekitar tiga hari perjalanan, sedangkan Mahuan hanya mencatat setengahnya. Artinya, tempat yang ia sebut sebagai ibu kota mungkin hanyalah wilayah pinggiran.
Perlu diingat pula, Mahuan datang pada masa pemerintahan Raja Wikramawardana, ketika Majapahit sedang lemah dan dilanda perang saudara. Kondisi sosial yang kacau dan kelaparan bisa saja memengaruhi pandangan Mahuan terhadap rakyat kecil yang ia lihat.
Dengan demikian, gambaran Mahuan tak bisa dijadikan cermin utuh kehidupan Majapahit. Sumber-sumber lokal seperti Negarakertagama justru menampilkan masyarakat yang makmur, teratur, dan berbudaya tinggi. Sejarah kuliner Nusantara pun membuktikan bahwa rakyat Majapahit bukanlah bangsa barbar, melainkan peramu cita rasa yang canggih.
“Jejak rasa ini adalah warisan jati diri kita. Belajarlah mencintai sejarah agar tak mudah percaya pada tafsir asing,” tutur Nugroho.
Baca Juga: Santri Bangkalan Selamat dari Musala Roboh di Sidoarjo: “Saya Lihat Langsung, Masih Syok...”
Kini, tugas kita adalah merawat warisan itu—bukan dengan tindakan besar, tapi lewat hal sederhana: mencintai kuliner tradisional, memahami sejarahnya, dan bangga menjadi bagian dari peradaban Nusantara.
Editor : Anggi Septian A.P.