BLITAR - Bayangkan jika kita bisa menyusuri dapur di era Majapahit. Asap dari tungku tanah liat mengepul, aroma nasi liwet tercium, dan sambal kacang tanpa cabai merah terhidang bersama sayur kulupan.Bukan khayalan, jejak kuliner semacam ini benar-benar terekam dalam prasasti, relief candi, dan kakawin peninggalan kerajaan terbesar di Nusantara itu.
Sejarawan mencatat, masyarakat Majapahit bukan hanya mengenal nasi sebagai makanan pokok, tetapi juga mengembangkan berbagai bentuk olahan seperti seku liwet, seku matiman (nasi tim), hingga seku paripurna yang menyerupai nasi tumpeng.Prasasti-prasasti semacam ini menjadi semacam “menu tertulis” yang memberi petunjuk tentang kebiasaan makan masyarakat kala itu.
Bukan hanya nasi, lauk pauk mereka pun beragam. Ikan laut, ayam, bebek, bahkan kerbau hadir di meja makan rakyat dan bangsawan.Untuk mereka yang tinggal di daerah pesisir, ikan asin menjadi santapan umum, sedangkan di pedalaman dikenal olahan rawon, sup hitam legendaris yang konon telah muncul sejak masa Majapahit.
Baca Juga: Jawa Pos Radar Blitar Kunjungan ke Kampus UMINA Blitar: Siap Kerja Sama Majukan Pendidikan
Sayur-mayur juga tidak ketinggalan. Relief dan teks kakawin menyebutkan istilah rumwah-rumwah (sayur segar), kulupan, serta sambal kacang mirip pecel.Bedanya, cabai merah belum dikenal kala itu, sehingga rasa pedas berasal dari cabe Jawa, jahe, atau lada hitam.
Camilan manis pun melimpah: ada wajik, jadah, dodol, dan rujak. Dalam Prasasti Sangguran bahkan disebutkan makanan fermentasi seperti brem, yang masih kita temukan hingga kini di Madiun.Ada pula catatan tentang agar-agar, menunjukkan bahwa teknik pengolahan makanan saat itu sudah cukup maju.
Minuman khas juga mencerminkan kekayaan budaya. Rakyat Majapahit gemar minum air kelapa, air asam jawa, dawet, serta minuman fermentasi seperti tuak, brem, dan arak beras.
Baca Juga: Awasi Jangan Sering Kasih Gadget, Sejumlah Anak di Kota Blitar Alami Gangguan Psikologis
Sementara di lingkungan istana, jamuan besar disajikan secara megah dengan hidangan Raja Mangsa, yaitu daging penyu, kambing muda, dan babi hutan — hanya untuk raja atau pejabat tinggi.
Semua itu membuktikan, bahwa masyarakat Majapahit tidak sekadar makan untuk bertahan hidup, tetapi menjadikan kuliner sebagai bagian dari kebudayaan, simbol status, bahkan spiritualitas.Kehadiran Dewi Sri sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran, misalnya, menunjukkan betapa pentingnya padi dan nasi dalam kehidupan mereka.
Uniknya, banyak dari hidangan Majapahit masih bisa kita temukan di Jawa modern. Nasi liwet Solo, pecel Madiun, dan brem hanyalah sebagian kecil warisan rasa yang bertahan lintas abad.Kuliner ini bukan hanya soal cita rasa, tapi juga identitas dan memori sejarah.
Baca Juga: Warisan Budaya Nordik: Bagaimana Sembilan Alam Membentuk Peradaban Skandinavia Modern
“Dari prasasti dan kakawin, kita tahu bahwa orang Jawa kuno sudah punya konsep gastronomi — cara makan, penyajian, dan penghormatan terhadap bahan pangan,” jelas filolog Fadli Rahman.
Kini, lewat penelitian dan rekonstruksi kuliner, dapur Majapahit perlahan bangkit kembali. Banyak sejarawan kuliner berusaha menghidupkan resep kuno agar generasi muda bisa mencicipi masa lalu dalam setiap suapan.
Warisan kuliner Majapahit mengingatkan kita bahwa budaya tidak hanya tersimpan di naskah dan batu, tapi juga di dapur, meja makan, dan rasa yang diwariskan dari ibu ke anak.
Editor : Anggi Septian A.P.