BLITAR - Usianya baru 11 tahun, namun semangatnya mengenalkan busana tradisional, khususnya kebaya, begitu membara.
Dialah Saraswati Hapsari Widayat, siswi kelas V SDN 01 Gedog, Kota Blitar. Akhirnya, dia mampu meraih prestasi sebagai runner-up di ajang Putri Kebaya Jatim 2025.
Ini menjadi bukti bahwa Bumi Bung Karno tidak kehabisan talenta muda yang berprestasi. Sebab, dia sejak kecil sudah akrab dengan dunia seni dan budaya. Itu pula yang membuatnya mantap terjun di dunia pageant.
“Saya sangat tertarik dengan kebaya, karena kebaya itu pakaian tradisional perempuan yang anggun dan cantik,” ujar Saras, saat dihubungi di sela masa karantina di Surabaya.
Putri pasangan Agustinus Badrus Widayat dan Mike Yuliana, warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, ini mengaku ikut ajang Putri Kebaya tidak semudah membalik telapak tangan.
Saras mengaku harus menguasai pengetahuan tentang sejarah kebaya, berlatih catwalk, hingga mengasah kemampuan public speaking.
Selain itu, gadis ini juga harus pandai membagi waktu antara sekolah dan persiapan lomba.
Sering kali, saat jam istirahat sekolah, Saras dijemput untuk membuat video catwalk, lalu kembali ke kelas setelah mengganti busana. Tak ayal, Saras harus mampu bersaing dengan peserta Putri Kebaya dari daerah lain.
“Yang paling sulit itu speech, karena harus menghafal dan menguasai sejarah kebaya. Tapi saya berusaha sungguh-sungguh. Sebelumn karantina, saat libur biasanya dipakai untuk latihan dan bikin video. Capek, tapi menyenangkan,” ucapnya.
Meski sebagian besar persiapan dilakukan secara mandiri, Saras juga mendapat dukungan dari orang tua serta support dari pemerintah daerah. Baginya, semangat keluarga menjadi energi utama dalam melewati masa karantina.
Meskipun banyak temannya yang bermain dan belajar di sekolah, Saras ternyata tidak iri, karena dia membawa misi pakaian kebaya untuk lebih dikenal luas. Dia rela menyibukkan diri demi meraih sebuah prestasi yang membanggakan untuk keluarga dan Kota Blitar.
“Saya bangga bisa ikut ajang ini. Harapannya bisa jadi winner Putri Kebaya Jawa Timur dan mengajak teman-teman untuk lebih mencintai kebaya,” tutur Saras penuh percaya diri.
Terbukti perjuangan Saras tidak sia-sia dan membuahkan hasil. Kini, dia menyandang gelar Runner-up 2 Puteri Kebaya Cilik Jawa Timur 2025. Tentu capaian itu bisa membuat bangga keluarga dan Kota Blitar terhadap talenta yang dimilikinya. Bahkan, dia juga menyandang predikat Putri Kebaya Cilik Berbakat.
Bukan hanya di dunia pageant, Saras juga aktif di bidang seni tradisi. Dia pernah menjuarai lomba macapat tingkat Blitar Raya tahun lalu. Prestasi itu semakin memantapkan langkahnya menapaki dunia seni budaya.
Ajang Putri Kebaya Jawa Timur kategori cilik (anak-anak usia 6–11 tahun) diikuti peserta dari berbagai daerah di provinsi ini. Saras menyadari kompetisi yang dihadapinya tidak mudah. Namun, dia menatap positif persaingan itu.
“Semua peserta bagus. Saya harus tetap semangat, karena ingin membanggakan orang tua dan Kota Blitar,” pungkasnya. (jar/c1/ady)