Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sound Horek Viral di Jawa Timur, Mas Bre Ungkap Awal Mula Brewok Audio Jadi Idola Karnaval

Anggi Septiani • Senin, 6 Oktober 2025 | 23:40 WIB
Sound Horek Viral di Jawa Timur, Mas Bre Ungkap Awal Mula Brewok Audio Jadi Idola Karnaval
Sound Horek Viral di Jawa Timur, Mas Bre Ungkap Awal Mula Brewok Audio Jadi Idola Karnaval

BLITAR- Blitarkawentar.jawapos.com – Fenomena Sound Horek kembali jadi sorotan publik, terutama di Jawa Timur. Sosok di balik keviralan ini adalah Mujahidin alias Mas Bre, pemilik Brewok Audio. Ia bercerita bagaimana perjuangannya membangun usaha sound system hingga viral dan jadi idola di berbagai karnaval desa.

Bre mengaku mulai menekuni dunia sound system sejak 2019. Saat itu, ia bahkan sempat menjual rumahnya demi membeli perlengkapan audio. “Awalnya saya pemula, ambisi tinggi, tapi barangnya sering rusak. Akhirnya rumah saya jual buat beli sound lagi,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 sempat membuat usahanya terhenti. Tidak ada acara, tidak ada pemasukan. Namun dari masa sulit itu, Mas Bre justru bangkit. Ia mulai aktif di media sosial untuk berjualan dan memperkenalkan Brewok Audio. “Saat Corona saya aktif di medsos. Dari situ pelan-pelan jalan lagi sampai sekarang,” tambahnya.

Kini Brewok Audio dikenal luas sebagai salah satu pelopor gaya Sound Horek—istilah untuk tatanan sound system tinggi bertumpuk khas karnaval di Jawa Timur.

Istilah Sound Horek berasal dari bunyi dentuman keras khas dari speaker raksasa yang dibawa berkeliling kampung. Konvoi ini biasanya menjadi bagian dari agenda tahunan seperti peringatan HUT RI, bersih desa, atau festival daerah.

Menurut Mas Bre, setiap penampilan Brewok Audio selalu melalui prosedur resmi. “Kami datang kalau diundang warga, dan selalu dengan izin lengkap dari RT, RW, kelurahan, hingga Polsek dan Polres,” tegasnya.

Fenomena ini viral karena banyak warga merekam konvoi Sound Horek lalu membagikannya ke media sosial. “Semakin banyak yang merekam, semakin dikenal. Tapi kadang juga disalahpahami seolah mengganggu, padahal kami datang atas undangan,” jelasnya.

bisa dipungkiri, Sound Horek menuai pro dan kontra. Sebagian warga menikmati suasana meriah, sementara sebagian lain menganggapnya bising. Mas Bre menegaskan, pihaknya selalu tunduk pada aturan.
“Kalau ada daerah yang melarang, kami tidak tampil. Kami selalu ikut kebijakan pemerintah setempat,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa setiap acara disertai tanggung jawab penyewa terhadap keamanan dan ketertiban. “Penyewa wajib siap bertanggung jawab jika ada kerusakan atau hal yang ditimbulkan dari acara. Jadi semua sudah diatur,” tambahnya.

Karena popularitasnya yang terus meningkat, Brewok Audio kini menerima undangan hingga setahun sebelumnya. “Kalau saya biasanya inden satu tahun. Kalau enggak, bisa enggak kebagian,” ujar Mas Bre sambil tertawa.

Untuk tahun 2025 saja, ia sudah dijadwalkan tampil di lebih dari 200 lokasi, dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Wilayah yang sudah disambangi antara lain Rembang, Jepara, Pati, hingga daerah Pantura.

“Sekarang sudah mulai menyebar ke Jawa Tengah, meski ada beberapa kabupaten yang membatasi. Kami tetap patuh,” jelasnya.

Selain dentuman audionya, daya tarik Sound Horek juga ada pada kreativitas penyewanya. Mereka biasanya menyiapkan kostum tematik dan daftar lagu sendiri.
“Penyewa setor empat lagu dari YouTube, mereka latihan joget di rumah, lalu tampil

dengan kostum unik,” cerita Mas Bre.
Tak jarang, para peserta membawa mikrofon sendiri untuk menyapa penonton, menambah suasana meriah di jalanan desa.

Proses persiapan pun cukup cepat. “Biasanya pagi mulai nata sound, sore sudah perform. Tinggi tumpukan rata-rata 4,5 meter,” ujarnya. Satu tim Brewok Audio beranggotakan tujuh orang, dan kini Mas Bre memiliki sekitar 10 tim aktif dengan total lebih dari 70 karyawan.

Perjalanan Mas Bre adalah contoh nyata bagaimana Sound Horek bukan sekadar hiburan, tapi juga peluang ekonomi kreatif. Dari sempat bangkrut di masa pandemi, kini ia bisa mempekerjakan puluhan orang dan melayani ratusan acara setiap tahun.
“Dulu saya jual rumah buat beli sound, sekarang alhamdulillah bisa beli tiga rumah,” ucapnya bangga.

Harapannya, industri sound system lokal semakin kreatif dan profesional. “Sekarang zaman media, jadi penampilan harus bagus, biar dikenal luas. Untuk masyarakat, jangan mudah menilai negatif sebelum tahu faktanya,” pesannya.

Keviralan Sound Horek juga menarik perhatian pemerintah. Mas Bre menyebut sempat ada rencana dari Kementerian Hukum dan HAM Surabaya untuk menerbitkan HAKI atas konsep sound khas ini. “Cuma belum tahu kelanjutannya. Semoga bisa terealisasi,” katanya.

Kini Brewok Audio bukan hanya simbol hiburan rakyat, tapi juga bagian dari industri kreatif daerah yang membawa nama Jawa Timur ke panggung nasional.
“Yang penting semua izin lengkap, aman, dan masyarakat senang. Itu sudah cukup buat kami,” pungkas Mas Bre

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound #audio #Horeg #brewok #Mas Bre