BLITAR-Tradisi Rampogan Macan tidak sekadar tontonan berdarah, tetapi memiliki makna politik dan spiritual yang dalam. Macan dianggap sebagai simbol kekuatan alam dan keberanian, sementara keberhasilan raja menundukkan hewan buas itu menjadi lambang supremasi penguasa atas rakyat dan alam semesta.Pada masa kejayaannya, pertunjukan ini sering digelar untuk merayakan kemenangan perang, penobatan raja baru, atau upacara besar kerajaan.
Pertunjukan Rampogan Macan digelar di alun-alun pusat kota agar bisa disaksikan oleh ribuan rakyat. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk menyaksikan duel menegangkan antara harimau dan puluhan prajurit bersenjatakan tombak panjang.
Suasana tegang dan sorak-sorai penonton menjadikannya hiburan yang memikat, sekaligus ajang unjuk kekuasaan penguasa terhadap alam liar. Di masa kini, alun-alun seperti Alun-Alun Blitar masih menjadi ruang publik penting untuk kegiatan budaya masyarakat. (Baca juga: Sejarah Alun-Alun Blitar dan Fungsinya dari Masa ke Masa)
Dalam setiap pertunjukan, seekor harimau dilepaskan ke arena dan dikepung oleh barisan prajurit kerajaan yang memegang tombak panjang. Harimau berusaha melawan atau melarikan diri, tetapi hampir selalu berakhir dengan kematiannya.
Duel ini menjadi simbol pertarungan antara manusia dan alam, serta wujud keberanian para prajurit dalam membela kehormatan raja.
Tradisi Rampogan Macan akhirnya punah pada akhir abad ke-19. Pemerintah kolonial Belanda menganggapnya sebagai praktik kejam yang tidak sesuai dengan moral modern. Selain itu, munculnya kesadaran baru tentang perlindungan satwa turut mempercepat pelarangannya.
Kematian ratusan harimau dalam pertunjukan ini juga menjadi penyebab cepatnya kepunahan harimau Jawa, yang akhirnya dinyatakan punah pada abad ke-20.
Menurut catatan Wikipedia - Harimau Jawa
spesies ini terakhir terlihat pada tahun 1970-an di kawasan Taman Nasional Meru Betiri.
Meskipun kini hanya tersisa dalam catatan sejarah, Rampogan Macan menjadi pengingat penting tentang perubahan cara pandang masyarakat terhadap kekuasaan dan kelestarian alam.
Dari tontonan kekuasaan menjadi refleksi moral, tradisi ini mengajarkan bahwa budaya harus berevolusi seiring kesadaran kemanusiaan dan ekologi.
Kini, masyarakat Jawa lebih memilih bentuk hiburan rakyat yang ramah lingkungan seperti karnaval budaya, wayang kulit, dan jathilan, yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi tanpa unsur kekerasan.
Warisan Rampogan Macan menjadi potret menarik tentang sejarah, kekuasaan, dan nilai-nilai moral dalam budaya Jawa. Untuk kisah sejarah menarik lainnya dari Blitar dan Jawa Timur, simak terus update budaya lokal di Blitarkawentar.jawapos.com.
Editor : Anggi Septian A.P.