BLITAR-Tradisi Rampogan Macan telah dikenal sejak abad ke-17 pada masa pemerintahan Raja Amangkurat II dari Kerajaan Mataram. Dalam pertunjukan ini, seekor harimau dilepaskan ke arena untuk bertarung melawan manusia atau hewan lain seperti kerbau dan banteng.Pertunjukan itu tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga simbol kekuasaan raja atas kekuatan alam.
Macan dianggap sebagai lambang keberanian dan kegarangan, sedangkan kemenangan manusia menggambarkan dominasi penguasa atas dunia binatang. Menurut catatan sejarah, tradisi serupa juga ditemukan di berbagai belahan dunia. Di Asia Tenggara, harimau sering dipertarungkan dengan gajah, sementara di Eropa, pertarungan hewan buas kerap digelar di arena gladiator Romawi.
Di wilayah Kediri, Rampogan Macan berkembang menjadi acara besar dalam rangka memperingati hari-hari penting kerajaan. Ribuan warga akan berkumpul di alun-alun untuk menyaksikan duel dramatis antara manusia dan hewan buas.
Beberapa sumber sejarah menyebutkan, kemunculan tradisi ini juga dipicu oleh banyaknya harimau yang keluar dari Hutan Wilis, Hutan Klotok, dan Hutan Kelud—yang saat itu menjadi habitat alami satwa liar di Jawa Timur.
Seiring waktu, tradisi ini menjadi simbol hubungan manusia Jawa dengan alam sekitarnya. Namun, dalam perspektif modern, Rampogan Macan juga dianggap sebagai wujud sifat antroposentris, yakni pandangan bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta.
Pertunjukan Rampogan Macan tidak lepas dari unsur politik dan spiritual. Bagi raja, kemampuan menaklukkan harimau dianggap sebagai tanda keberanian dan legitimasi kekuasaan.Namun, di sisi lain, tradisi ini juga menjadi cerminan kerasnya pandangan hidup pada masa itu, ketika keberanian dan kekuasaan lebih dihargai dibandingkan belas kasih terhadap makhluk hidup.
Kini, Rampogan Macan tinggal kenangan. Kesadaran masyarakat terhadap perlindungan satwa liar dan nilai kemanusiaan membuat tradisi berdarah ini ditinggalkan. Harimau Jawa pun akhirnya punah pada abad ke-20 akibat perburuan dan habitat yang menyempit.
Meski tradisinya telah hilang, jejak Rampogan Macan masih terasa dalam berbagai bentuk kesenian rakyat dan legenda lokal di Kediri, Blitar, dan sekitarnya.
Nilai-nilai keberanian, kekuasaan, serta hubungan manusia dengan alam kini diabadikan melalui pertunjukan budaya seperti jathilan, wayang kulit, dan karnaval budaya Jawa Timur, yang lebih ramah lingkungan namun tetap sarat makna filosofi Jawa.
Kisah Rampogan Macan menjadi pengingat bahwa setiap kebudayaan memiliki sisi gelap dan terang, dan tugas generasi kini adalah merawat warisan itu dengan kebijaksanaan baru.
Tradisi Rampogan Macan menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara kekuasaan, budaya, dan alam dalam sejarah Jawa. Dari ritual berdarah menjadi pelajaran moral, kisah ini memperkaya identitas budaya masyarakat Kediri dan Blitar.
Untuk kisah budaya dan sejarah menarik lainnya, ikuti terus update terbaru di Blitarkawentar.jawapos.com