BLITAR-Tradisi Rampogan Macan sudah dikenal sejak masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Pertunjukan ini menggambarkan keberanian, kekuasaan, dan hubungan manusia dengan alam.Dalam praktiknya, seekor harimau Jawa dilepaskan ke arena untuk bertarung melawan manusia atau hewan lain seperti kerbau, banteng, bahkan gajah. Pertarungan itu menjadi tontonan rakyat sekaligus simbol dominasi raja atas kekuatan alam liar.
Tradisi ini memiliki kemiripan dengan pertunjukan gladiator Romawi, di mana manusia dan hewan buas dipertarungkan di depan publik sebagai hiburan dan ajang unjuk keberanian.
Lebih dari sekadar tontonan berdarah, Rampogan Macan mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa pada masa itu.Dalam konsep budaya Jawa klasik, manusia dianggap memiliki posisi tertinggi di alam, dan kemampuan menundukkan binatang buas menjadi simbol kekuasaan sekaligus kehormatan.
Namun, di sisi lain, pertunjukan ini juga menunjukkan sisi antroposentrisme—pandangan bahwa manusia berhak menguasai segala bentuk kehidupan lain.
Bagi para bangsawan, kemenangan melawan harimau menjadi bentuk legitimasi kekuasaan. Sedangkan bagi rakyat, acara itu menjadi hiburan spektakuler yang jarang terjadi.
Praktik Rampogan Macan secara resmi dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905. Kolonial Belanda menilai tradisi tersebut kejam dan tidak beradab, apalagi semakin banyak harimau yang diburu untuk kebutuhan pertunjukan.
Larangan ini juga muncul bersamaan dengan meningkatnya kesadaran tentang perlindungan satwa liar di awal abad ke-20.
Sejarawan menyebut bahwa Rampogan Macan menjadi salah satu penyebab cepatnya kepunahan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), yang akhirnya dinyatakan punah sekitar tahun 1980-an.Menurut catatan Wikipedia - Harimau Jawa
populasi hewan ini menurun drastis akibat perburuan dan hilangnya habitat alami.
Kini, Rampogan Macan hanya tersisa dalam catatan sejarah dan naskah-naskah kuno Jawa. Tidak ada lagi pertarungan berdarah antara manusia dan hewan.
Namun nilai-nilai simbolik seperti keberanian, ketangguhan, dan keseimbangan antara manusia dan alam tetap diabadikan dalam bentuk kesenian rakyat, seperti wayang kulit, jathilan, dan reog Ponorogo.
Di era modern, masyarakat Jawa Timur lebih memilih bentuk hiburan dan ritual budaya yang edukatif serta ramah lingkungan, tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur dari sejarah leluhurTradisi Rampogan Macan menjadi bagian penting dari perjalanan budaya Jawa.
Dari simbol kekuasaan menjadi pelajaran moral, warisan ini mengingatkan kita bahwa nilai kemanusiaan dan kelestarian alam harus berjalan seiring.Untuk kisah sejarah dan budaya menarik lainnya di Jawa Timur, ikuti terus update-nya hanya di Blitarkawentar.jawapos.com