BLITAR– Tradisi manten tebu kembali digelar di Pabrik Gula Rejoso Manis Indo (RMI) di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar. Ritual ini menjadi tanda dimulainya musim giling tebu tahun 2025 yang selalu dinantikan oleh petani dan pekerja pabrik gula di wilayah tersebut.
Ritual manten tebu merupakan prosesi menjodohkan dua batang tebu yang diibaratkan sebagai sepasang pengantin. Tebu laki-laki dan tebu perempuan dipilih dari lahan petani yang berjauhan, lalu diarak menuju area penggilingan dengan diiringi parade dan doa bersama. Tradisi ini menjadi simbol doa dan harapan agar musim giling berjalan lancar serta membawa berkah bagi semua pihak yang terlibat.
Bupati Blitar bersama jajaran Forkopimda turut hadir dalam prosesi ini. Mereka ikut melempar batang tebu ke mesin giling sebagai tanda dimulainya proses pengolahan. Kegiatan tersebut menjadi momen sakral yang memadukan unsur budaya, spiritual, dan ekonomi masyarakat Blitar.
Manajer Pabrik Gula RMI Blitar, Putut Hindaruji, menjelaskan bahwa manten tebu telah menjadi tradisi tahunan yang dijalankan setiap menjelang musim giling. Menurutnya, prosesi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap budaya Jawa yang masih dipegang teguh oleh masyarakat.
“Tradisi manten tebu ini kan kita jalankan dan kita peringati tiap tahun saat menjelang giling. Kita orang Jawa bilang nguri-uri kabudayan, menjaga warisan leluhur agar tidak punah,” ujarnya.
Putut menambahkan, pelaksanaan ritual ini juga menjadi simbol hubungan erat antara petani tebu dan pihak pabrik. Melalui tradisi tersebut, diharapkan muncul semangat gotong royong dan kerja sama yang kuat agar hasil produksi tebu semakin meningkat.
Dalam budaya Jawa, prosesi manten tebu tidak sekadar seremoni. Ia mengandung doa dan harapan agar seluruh proses penggilingan tebu berjalan lancar tanpa kendala. Selain itu, masyarakat percaya bahwa menjaga harmoni dengan alam dan tradisi akan membawa keberkahan bagi hasil panen.
“Tentunya kita berharap, dari awal giling sampai akhir giling, semua bisa berjalan baik dan lancar. Semoga diberkahi oleh Sang Pencipta,” tutur Putut.
Ritual manten tebu juga memperkuat rasa kebersamaan antara petani, pekerja, dan manajemen pabrik. Momentum ini sekaligus menjadi penyemangat untuk mencapai target produksi tahun ini.
Pada musim giling 2025, PT Rejoso Manis Indo menargetkan pengolahan lebih dari 1,4 juta ton tebu. Bahan baku tebu tidak hanya berasal dari lahan di Blitar, tetapi juga didatangkan dari wilayah sekitar seperti Kediri, Malang, dan sekitarnya.
Dengan kapasitas besar tersebut, RMI berupaya mendukung kemandirian gula nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Program kemitraan dengan petani terus diperkuat melalui pembinaan, penyediaan bibit unggul, serta pendampingan teknis agar hasil tebu tetap berkualitas.
Meski industri gula kini serba modern, Pabrik Gula RMI tetap mempertahankan tradisi manten tebu sebagai warisan budaya yang memiliki nilai luhur. Prosesi tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi dan tradisi dapat berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.
“Kalau kita meninggalkan tradisi, rasanya kurang lengkap. Karena di balik modernisasi ini, ada nilai-nilai lokal yang harus tetap dijaga,” kata Putut.
Kegiatan manten tebu di Blitar ini sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya lokal bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Tidak sedikit warga sekitar yang datang menonton prosesi, mengambil gambar, hingga membagikan momen tersebut di media sosial.
Ritual manten tebu tidak hanya menjadi simbol pembuka musim giling, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kerja keras petani. Melalui prosesi ini, masyarakat Blitar diingatkan untuk tetap menghargai tanah dan hasil alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Bagi sebagian kalangan, pelestarian tradisi seperti manten tebu juga berperan menjaga identitas budaya Blitar di tengah arus modernisasi. Selama pabrik gula masih berdiri dan masyarakat masih menanam tebu, tradisi ini diyakini akan terus hidup sebagai bagian dari kearifan lokal Jawa Timur
Editor : Anggi Septian A.P.