BLITAR– Nama Rampokan Macan mungkin terdengar asing bagi generasi muda, namun bagi masyarakat Blitar dan sejarawan Jawa, karya ini menyimpan kisah besar dari masa kerajaan Mataram hingga era kolonial. Buku legendaris berjudul Rampokan Macan ditulis oleh seorang tokoh asal Blitar bernama Karto, yang juga dikenal sebagai penulis Aryo Balitar.
Dalam sejarahnya, Rampokan Macan menggambarkan tradisi hiburan rakyat di masa raja-raja Jawa, terutama pada masa kejayaan Mataram. Saat itu, rampokan atau perkelahian antara manusia dan harimau menjadi tontonan besar yang digelar di alun-alun kerajaan. Tak hanya di Solo, atraksi itu juga tercatat berlangsung megah di Blitar—menjadikannya salah satu pusat kebudayaan Jawa yang hidup di masa lalu.
Ritual ini bukan sekadar hiburan, tetapi simbol keberanian, kekuasaan, dan hubungan antara manusia dengan alam. Sang penulis, Karto, menulis kisah Rampokan Macan berdasarkan pengalaman langsung dari kakeknya, yang menyaksikan sendiri pertunjukan tersebut di alun-alun Blitar pada awal 1800-an.
Menurut narasi keluarga Karto, rampokan macan dilakukan saat perayaan hari besar kerajaan, disebut “Bakdo Mawi Rampok”. Dalam acara itu, seekor harimau Jawa yang ditangkap dari wilayah Yodoyo dilepas di tengah arena. Harimau yang sengaja tidak diberi makan berhari-hari akan menjadi buas, dan warga membentuk lingkaran besar sambil memegang tombak sebagai pagar hidup.
Atraksi ini disebut sebagai hiburan paling megah masa itu, yang disaksikan oleh raja dan rakyat. Di tengah suasana tegang dan gegap gempita, rampokan macan menjadi simbol kekuatan sekaligus pengingat akan siklus kehidupan: manusia dan alam saling bergantung, namun juga saling menguji.
Karto mengabadikan pengalaman ini dalam naskah Rampokan Macan menggunakan bahasa Jawa aksara latin. Buku tersebut diterbitkan oleh percetakan Budi Karyo di Kediri dan sempat beredar luas di Jawa Timur.
Namun, lebih dari sekadar kisah heroik, karya Rampokan Macan memiliki misi sosial yang mendalam. Karto sengaja mencetak bukunya dengan huruf besar agar mudah dibaca oleh masyarakat pribumi yang belum mengenal huruf latin.
Pada masa kolonial, pendidikan hanya diberikan kepada kalangan bangsawan dan kaum Belanda. Rakyat kecil yang disebut Inlander sulit mengakses sekolah. Karena itu, Karto berinisiatif menggunakan karya sastra sebagai alat pembelajaran.
Ia berharap melalui Rampokan Macan, masyarakat bisa mengenal aksara dan budaya literasi tanpa harus menempuh pendidikan formal. Langkah ini menjadi bagian dari gerakan lokal untuk melawan kebodohan yang diciptakan sistem kolonial.
“Beliau menulis besar-besar supaya rakyat mudah membaca. Tujuannya untuk memberantas buta huruf, bukan semata hiburan,” ujar salah satu keturunan keluarga penulis dalam video yang dikutip.
Selain Rampokan Macan, Karto menulis lebih dari 20 karya lainnya, termasuk buku Aryo Balitar dan naskah pertanian berjudul Pari (1921) yang berisi tata cara menanam padi dan mengolah tanah. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa ia bukan hanya sastrawan, tapi juga pemikir pertanian yang visioner.
Beberapa naskah asli milik Karto kini tersimpan di Universitas Indonesia, UNESA Surabaya, dan Leiden, Belanda. Bahkan, metode pertaniannya disebut pernah dipelajari oleh akademisi di Universitas Moscow, Rusia.
“Ilmu pertanian dari buku beliau banyak dikutip, bahkan masih relevan sampai sekarang,” kata narasumber dalam wawancara.
Kini, naskah Rampokan Macan menjadi bukti bahwa Blitar bukan hanya tanah kelahiran Bung Karno, tetapi juga tempat lahirnya karya-karya sastra dan ilmu pengetahuan penting dari masa lalu.
Selain memperkaya khasanah budaya Jawa, buku itu juga menunjukkan perlawanan intelektual rakyat terhadap dominasi kolonial. Dari arena rampokan di alun-alun, lahirlah semangat literasi yang menumbuhkan kesadaran baru di kalangan masyarakat bawah.
Warisan itu kini dijaga oleh keluarga besar Karto dan sejumlah akademisi yang meneliti kembali karya-karya langka tersebut. Melalui digitalisasi dan kajian sejarah, semangat Rampokan Macan terus hidup—menjadi pengingat bahwa dari Blitar, lahir intelektual yang melawan kebodohan dengan pena dan ilmu.
Editor : Anggi Septian A.P.