Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pemberontakan PETA, Ilmu Spiritual, dan Hilangnya Sang Pahlawan

Anggi Septiani • Kamis, 9 Oktober 2025 | 05:00 WIB
Pemberontakan PETA, Ilmu Spiritual, dan Hilangnya Sang Pahlawan
Pemberontakan PETA, Ilmu Spiritual, dan Hilangnya Sang Pahlawan

BLITAR– Misteri Supriadi Blitar seolah tak lekang dimakan waktu. Sosok pahlawan muda yang menjadi inisiator pemberontakan PETA pada masa penjajahan Jepang itu masih menyisakan banyak tanda tanya. Hilangnya Supriadi pasca-perlawanan membuat namanya abadi sebagai tokoh legendaris sekaligus misterius dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Tanggal 14 Februari 1945 menjadi saksi keberanian pasukan PETA (Pembela Tanah Air) di bawah komando Supriadi. Subuh itu, mereka menyerang markas polisi Jepang di Blitar dari tiga penjuru. Serangan kilat tersebut sempat membuat kota dikuasai oleh para pejuang. Namun, pasukan Jepang yang sudah mencium rencana pemberontakan segera mengirim bala bantuan dari luar daerah. Dalam dua hari, perlawanan itu berhasil dipadamkan.

Hampir seluruh pimpinan pasukan ditangkap dan dieksekusi di Pantai Marina Ancol. Namun, Supriadi Blitar tak pernah ditemukan. Tidak ada catatan bahwa ia ditahan atau dieksekusi. Sejak saat itu, keberadaan sang pemimpin PETA menjadi misteri besar dalam sejarah Indonesia.

di Blitar meyakini bahwa sang pahlawan sebenarnya sudah gugur. Suroto, adik tiri Supriadi, menuturkan bahwa Jepang telah mengetahui rencana pemberontakan sejak awal. Mereka mengepung pasukan Supriadi yang hanya berjumlah sekitar seratus orang dengan kekuatan empat kali lipat.

“Ditembaki, ya habis semua. Termasuk Bapak Supriadi, karena dia pimpinannya,” ujar Suroto tegas.

Senada dengan itu, Sri Astuti, keponakan Supriadi, juga meyakini bahwa sang pahlawan telah meninggal. Namun, keluarga besar belum mengetahui di mana jasadnya dimakamkan. “Kalau pun beliau memang meninggal, makamnya di mana kami tidak tahu. Hanya Tuhan yang tahu,” tuturnya lirih.

Meski diyakini gugur, sebagian masyarakat masih percaya bahwa Supriadi Blitar menghilang secara gaib. Kepercayaan ini muncul karena semasa hidupnya, Supriadi dikenal mendalami ilmu spiritual Jawa.

Menurut penuturan Gobing, salah satu kerabat keluarga, Supriadi adalah murid Kyai Ahmad Hasan atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Hasan Bendo, tokoh spiritual terkenal di Blitar. “Bapak saya bilang, Supriadi itu senang hal-hal kebatinan. Selain logis, dia juga punya sisi spiritual yang kuat,” ujarnya.

Mbah Hasan Bendo disebut-sebut memiliki kesaktian luar biasa dan pernah menjadi pasukan Pangeran Diponegoro. Ia juga dikenal sebagai guru spiritual Ir. Soekarno. Bahkan, sebelum pemberontakan dimulai, Mbah Hasan Bendo sempat memperingatkan Supriadi agar menunda aksinya karena tanda-tanda kekalahan sudah terlihat. Namun, Supriadi menolak. Jiwa muda dan semangatnya untuk membebaskan rakyat membuat ia tetap maju.

Menjelang pemberontakan, Supriadi dan 12 rekan pejuangnya kerap mengadakan rapat rahasia di markas PETA Blitar—bangunan yang kini dijadikan Museum PETA. Sejarawan lokal, Rengga, menuturkan bahwa rapat pertama diadakan di kamar Budanco Halir, pemimpin regu PETA lainnya.

“Rapat itu berlangsung di ruangan kecil, hanya diikuti 12 orang. Di sanalah rencana pemberontakan dirancang,” jelas Rengga saat ditemui di lokasi.

Rengga juga menceritakan pengalaman mistisnya saat berada di area markas. Ia pernah melihat sosok laki-laki tak dikenal melambaikan tangan kepadanya, tetapi sosok itu lenyap ketika didekati. “Setelah saya cari, orangnya hilang. Ternyata itu kamar tempat rapat Supriadi,” kisahnya.

Tidak hanya Rengga, Waras, juru pelihara Museum PETA, juga mengaku sering mengalami kejadian mistis. Ia sering melihat sosok lelaki tua berjalan melewati kamar bekas rapat Supriadi.

“Waktu pagi-pagi nyapu, tiba-tiba ada orang tua lewat. Tapi begitu saya tengok lagi, sudah tidak ada,” ujarnya.

Bahkan, pada masa perang, pasukan Jepang sempat menembakkan mortir untuk menghancurkan markas itu. Ajaibnya, banyak mortir yang gagal meledak, termasuk satu yang jatuh tepat di depan kamar Supriadi Blitar. “Mortirnya jatuh, tapi cuma ‘deg’ aja, nggak meledak,” kenang Waras.

Walau pemberontakan PETA hanya berlangsung dua hari, semangat yang ditinggalkan Supriadi menyala di hati para pemuda Indonesia. Di lokasi pengibaran bendera merah putih pertama itu kini berdiri Monumen Potlot, diresmikan oleh Jenderal Sudirman pada tahun 1946.

Nama Potlot dipilih untuk menggambarkan usia para pejuang PETA yang masih sangat muda, antara 14 hingga 16 tahun. Mereka adalah generasi belia yang berani menantang penjajah dengan segala keterbatasan.

Misteri Supriadi Blitar mungkin tak pernah benar-benar terpecahkan. Namun semangat juangnya tetap hidup di tanah kelahirannya—sebuah warisan yang terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai tanah air dengan sepenuh hati.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Misteri Sejarah #Pemberontakan PETA #Supriadi Blitar