Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pahlawan Pemberontakan Peta yang Hilang Tanpa Jejak

Anggi Septiani • Kamis, 9 Oktober 2025 | 04:30 WIB
Pahlawan Pemberontakan Peta yang Hilang Tanpa Jejak
Pahlawan Pemberontakan Peta yang Hilang Tanpa Jejak

BLITAR – Nama Supriyadi Blitar selalu lekat dengan kisah heroik dan misteri sejarah bangsa. Pemuda asal Trenggalek, Jawa Timur ini dikenal sebagai pemimpin pemberontakan Pasukan Peta melawan Jepang pada 14 Februari 1945. Namun, keberaniannya justru diakhiri dengan teka-teki panjang: ke mana Supriyadi menghilang?

Perlawanan yang dipimpinnya di Blitar mengguncang kekuasaan Jepang dan menorehkan bab penting dalam sejarah perjuangan menuju kemerdekaan. Supriyadi dihormati sebagai simbol keberanian, tetapi nasibnya hingga kini tetap menjadi misteri besar yang belum pernah terpecahkan.

Supriyadi lahir pada 13 April 1923 di Trenggalek dari keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya Raden Darmadi dan ibunya Raden Rahayu dikenal religius dan berpendidikan tinggi. Sejak kecil, Supriyadi Blitar menunjukkan sifat pemberani dan tekun belajar. Ia mengenyam pendidikan di sekolah elit kolonial seperti MULO dan MOSVIA Magelang, sebelum invasi Jepang menghentikan studinya.

Tahun 1943, Supriyadi mengikuti pelatihan militer Jepang di Tangerang. Ia kemudian bergabung dalam Pasukan Pembela Tanah Air (Peta), organisasi militer bentukan Jepang bagi pribumi. Karena kecerdasan dan ketegasannya, ia cepat naik menjadi komandan peleton dan ditempatkan di Blitar.

Di Blitar, Supriyadi menyaksikan penderitaan para romusha—rakyat yang dipaksa bekerja tanpa ampun. Ia juga melihat wanita-wanita Jawa dijadikan ianfu atau penghibur bagi tentara Jepang. Semua itu membuat hatinya memberontak.

Bagi Supriyadi, penderitaan rakyat bukan sekadar pemandangan tragis, tapi panggilan untuk melawan. Bahkan ketika Presiden Soekarno memperingatkan bahwa pemberontakan melawan Jepang terlalu dini, ia tetap teguh dengan tekadnya. “Lebih baik mati berjuang daripada hidup dalam hinaan,” begitu yang konon sering ia ucapkan.

Dini hari 14 Februari 1945, pemberontakan Peta di Blitar meletus. Supriyadi dan pasukannya menyerang barak Jepang, mengibarkan bendera Merah Putih, serta membebaskan ratusan tawanan. Serangan itu sempat mengejutkan Jepang, tapi sayangnya segera dibalas keras.

Pasukan Kempetai dan unit Peta lain yang tetap loyal kepada Jepang berhasil memadamkan perlawanan hanya dalam beberapa hari. Banyak prajurit ditangkap dan dihukum mati. Sejak hari itu, jejak Supriyadi Blitar lenyap tanpa jejak. Ia terakhir kali terlihat di sekitar lereng Gunung Kelud.

Kehilangan Supriyadi melahirkan berbagai teori. Ada yang menyebut ia gugur dalam pertempuran, ada pula yang percaya ia berhasil melarikan diri dan hidup dalam penyamaran. Bahkan muncul kabar bahwa ia bersembunyi hingga masa awal kemerdekaan.

Setelah pemberontakan, Jepang membubarkan Peta dan menghapus seluruh catatan tentang Supriyadi. Namun, kabar-kabar kemunculannya terus beredar hingga bertahun-tahun kemudian. Dalam satu dekade setelah perang, beberapa orang bahkan mengaku sebagai Supriyadi.

Tahun 1965, seorang perwira bernama Letnan Sain mengaku kerasukan roh Supriyadi dan mengungkap versi kematiannya di tangan Jepang. Lalu di pertengahan 1990-an, seorang pria di Lampung muncul dan mengaku sebagai Supriyadi, namun klaim itu cepat dibantah keluarga.

Yang paling menghebohkan terjadi pada tahun 2008. Seorang tabib tua asal Semarang, Andaryoko Wisnu Prabu, mengaku dirinya adalah Supriyadi yang selama ini hilang. Ia menuturkan kisah panjang tentang pelarian, pertemuan dengan Soekarno, hingga kiprahnya sebagai pejabat rahasia Republik.

Kisah Andaryoko sempat mengguncang publik. Pemerintah Kota dan Kabupaten Blitar membentuk tim untuk menelusuri klaim tersebut. Namun hasilnya menunjukkan banyak kejanggalan, mulai dari perbedaan tahun lahir hingga kemampuan bahasa asing yang tak sesuai dengan latar Supriyadi.

Meski demikian, sebagian sejarawan menilai kisah itu tetap menarik untuk dikaji. Salah satunya Prof. Baskara Tulus Wardaya dari Universitas Sanata Dharma yang menilai narasi Andaryoko masih relevan dengan konteks sejarah.

Hingga kini, Supriyadi Blitar tetap dikenang sebagai pahlawan yang hilang dalam legenda. Tahun 1975, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Sebuah monumen besar dibangun di Blitar, dan patungnya diresmikan pada 1998 sebagai simbol keberanian melawan penjajahan.

Bahkan dalam kabinet pertama Republik Indonesia, namanya sempat tercantum sebagai Menteri Keamanan Rakyat. Namun karena ia tak pernah muncul, jabatan itu digantikan oleh tokoh lain.

Meski pemberontakan yang ia pimpin gagal secara militer, dampaknya sangat besar secara psikologis. Jepang kehilangan kepercayaan terhadap Peta, sementara semangat rakyat Indonesia untuk merdeka semakin membara.

Misteri hilangnya Supriyadi Blitar kini menjadi bagian abadi dari sejarah bangsa — sebuah kisah antara fakta dan legenda tentang seorang pemuda pemberani yang memilih melawan ketidakadilan dan kemudian lenyap tanpa jejak.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Supriyadi Blitar #trenggalek #Pemberontakan PETA