BLITAR – Sepasang kembar siam asal Garut, Putri dan Dewi, kembali mencuri perhatian publik lewat kisah haru mereka bersama sang ayah, Irawan. Dalam wawancara di kanal YouTube Sarah Wijayanto, keduanya mengungkapkan impian sederhana namun sarat makna: memberangkatkan ayah mereka ke tanah suci Makkah.
“Kalau punya uang banyak, aku mau umrohin ayah,” ucap Putri dengan polos. Kalimat itu sontak membuat sang ayah menunduk haru.
Ayah mereka, Irawan, seorang pekerja keras yang membesarkan kedua anaknya seorang diri setelah sang istri meninggal dunia. Dengan penghasilan pas-pasan, ia berjuang tanpa lelah agar Putri dan Dewi tetap bisa sekolah dan hidup mandiri.
Baca Juga: BSU Oktober 2025 Tidak Cair, Kemenaker Tegaskan Bantuan Hanya Berlaku hingga Juli
“Saya cuma ingin anak saya kuat. Kalau saya sudah tidak ada, mereka harus bisa berdiri sendiri,” kata Irawan lirih.
Putri dan Dewi bukan kembar biasa. Mereka adalah kembar siam yang berbagi satu hati dan satu lambung, namun memiliki organ tubuh lain yang terpisah. Sejak lahir, dokter menyatakan keduanya tak bisa dipisahkan karena berisiko tinggi.
Namun, kondisi itu tak membuat mereka kehilangan semangat. Bahkan, keduanya kini mulai dikenal publik setelah beberapa kali diundang tampil di televisi.
Baca Juga: Cara Cek Penerima Bansos Terbaru 2025 Lewat Aplikasi Resmi: Bisa Dapat Rp200 Ribu Tiap Bulan!
“Awalnya diundang Mbak Sarah (Wijayanto), dari situ mulai banyak yang tahu kami,” ujar Dewi.
Meski mulai dikenal, mereka tetap rendah hati. Saat ditanya soal kebahagiaan, Putri menjawab sederhana, “Aku bahagia kalau Ayah bahagia.”
Sementara itu, Irawan mengaku tak pernah menyangka anak-anaknya yang lahir dengan kondisi istimewa justru tumbuh menjadi sumber kekuatan bagi dirinya. “Saya dulu sempat terpukul, bingung bagaimana merawat mereka. Tapi ternyata mereka yang malah menguatkan saya,” ujarnya.
Putri dan Dewi juga dikenal memiliki kedekatan luar biasa. Mereka saling memahami bahkan sering bermimpi hal yang sama. “Pernah mimpi bareng ketemu mama (almarhum). Mimpinya sama persis,” kata Putri sambil tersenyum.
Kini keduanya terus belajar dan bercita-cita menjadi dokter agar bisa menolong banyak orang. “Kalau ayah sakit, aku yang obatin,” kata Dewi penuh semangat.
Kisah mereka menjadi simbol keteguhan hati seorang ayah tunggal dan ketulusan cinta anak-anaknya. “Ayah pejuang hebat,” ucap Putri pelan, membuat suasana wawancara berubah sendu.
Baca Juga: Dari Stereotip ke Kebanggaan: Kebangkitan Dialek Ngapak di Media Digital
Bagi banyak orang, mungkin hidup mereka tampak sulit. Namun di balik keterbatasan fisik, tersimpan kekuatan luar biasa: hati yang satu, semangat yang tak terbagi.
Editor : Anggi Septian A.P.