BLITAR – Di tengah keterbatasan fisik, dua gadis muda asal Garut, Jawa Barat, membuktikan bahwa kehidupan bisa tetap indah meski berbeda dari kebanyakan orang. Mereka adalah Putri dan Dewi, sepasang kembar siam yang lahir dengan kondisi langka: berbagi satu hati dan satu lambung, namun memiliki dua kepala dan empat tangan.
Kisah keduanya menjadi sorotan publik setelah tampil dalam wawancara bersama konten kreator dan artis Sarah Wijayanto di kanal YouTube miliknya. Dalam video tersebut, Putri dan Dewi tampil ceria, sopan, dan percaya diri. Mereka bercerita tentang keseharian, mimpi, serta perjuangan hidup bersama sang ayah, Irawan, yang membesarkan mereka seorang diri.
“Dokter dulu bilang, kami enggak bisa dipisahkan karena jantungnya satu. Kalau dipaksa operasi, bisa bahaya,” ujar Dewi. Meski begitu, ia mengaku tidak pernah merasa sedih dengan kondisi tersebut. “Buat apa sedih? Tuhan kasih kami seperti ini pasti ada maksudnya,” tambah Putri tersenyum.
Baca Juga: BSU 2025 Cair Lagi? Begini Cara Cek Penerima Bantuan Subsidi Upah Lewat Aplikasi JMO
Secara medis, kondisi Putri dan Dewi tergolong kembar siam thoraco-omphalopagus, yaitu jenis kembar siam yang menyatu pada bagian dada hingga perut. Di dunia, kasus seperti ini sangat jarang terjadi—hanya sekitar 1 dari 200.000 kelahiran hidup. Namun yang membuat kisah Putri dan Dewi luar biasa, mereka mampu bertahan hingga usia remaja dan menjalani kehidupan layaknya anak normal.
Setiap hari, mereka membantu ayahnya di rumah, belajar bersama, bahkan ikut kegiatan masyarakat. “Kalau main sama teman, enggak ada yang aneh. Mereka sudah terbiasa lihat kami,” kata Dewi. Meski tubuh mereka menyatu, keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Dewi dikenal lebih kalem dan pendiam, sementara Putri lebih aktif dan suka bercanda.
“Suka ribut enggak?” tanya Sarah Wijayanto dalam video tersebut.
“Ya, kalau rebut ya rebutnya bareng,” jawab Putri sambil tertawa.
Baca Juga: BSU Oktober 2025 Tidak Cair, Kemenaker Tegaskan Bantuan Hanya Berlaku hingga Juli
Candaan itu menggambarkan betapa ringan mereka memandang hidup. Tak ada kesedihan, tak ada penyesalan—hanya rasa syukur yang tulus.
Sang ayah, Irawan, bercerita bahwa sejak bayi, banyak orang menyarankan agar kedua anaknya diasuh lembaga atau rumah sakit besar. Namun ia menolak. “Mereka anak saya, bukan bahan percobaan,” katanya tegas. Ia memilih merawat sendiri meski hidup sederhana di rumah kecil di Garut.
Seiring waktu, Putri dan Dewi tumbuh sehat. Mereka belajar mengenal dunia dengan cara unik. Saat satu sakit, yang lain ikut merasakan. Ketika satu lapar, keduanya harus makan. “Kami kayak punya koneksi ajaib,” kata Dewi. “Kalau aku nangis, Putri juga bisa ikut sedih.”
Baca Juga: Disnakkan Pastikan Stok Vaksin PMK di Kabupaten Blitar Aman
Fenomena itu tak hanya menarik perhatian masyarakat, tapi juga dunia medis. Beberapa dokter pernah memantau kondisi mereka untuk penelitian, namun tetap menghormati privasi keluarga.
Meski begitu, kehidupan Putri dan Dewi jauh dari sorotan glamor. Mereka lebih memilih kesederhanaan. “Yang penting bisa bantu Ayah,” kata Putri. Ayah mereka bekerja sebagai buruh serabutan, dengan penghasilan yang pas-pasan. Namun, semangat keluarga kecil itu tak pernah padam.
Dalam wawancara, keduanya juga mengungkap cita-cita mulia: ingin menjadi dokter. “Biar bisa bantu orang sakit kayak kami,” ucap Dewi penuh keyakinan.
Baca Juga: Nyekar di Makam Bung Karno, Gubernur Jatim Khofifah Tanggapi Pemangkasan Dana Transfer Pusat
Ketika ditanya apa yang paling mereka syukuri dalam hidup, Putri menjawab tanpa ragu, “Kami dikasih satu hati. Artinya, kami harus saling jaga, enggak boleh egois.”
Kalimat itu membuat banyak penonton video mereka meneteskan air mata. Komentar di YouTube membanjir dengan doa dan dukungan. “Mereka mengajarkan arti ikhlas dan bersyukur,” tulis seorang warganet.
Kini, Putri dan Dewi menjadi simbol keberanian dan keikhlasan bagi banyak orang. Meski hanya memiliki satu jantung, mereka hidup dengan semangat dua kali lipat.
Baca Juga: Dapat Aduan Sarpras Taman Turi di Kota Blitar Rusak, Komisi I DPRD Langsung Sidak Lokasi
Bagi keluarga kecil ini, kebahagiaan bukan soal fisik sempurna, melainkan hati yang kuat dan saling menguatkan. “Kami enggak mau dibilang kasihan. Kami cuma mau hidup bahagia seperti orang lain,” kata Dewi menutup wawancara dengan senyum hangat.
Editor : Anggi Septian A.P.