Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Transformasi KAI di Era Ignasius Jonan: dari Stasiun Berantakan hingga Tertib Tanpa Asap Rokok

Ichaa Melinda Putri • Senin, 13 Oktober 2025 | 18:00 WIB
Transformasi KAI di Era Ignasius Jonan: dari Stasiun Berantakan hingga Tertib Tanpa Asap Rokok
Transformasi KAI di Era Ignasius Jonan: dari Stasiun Berantakan hingga Tertib Tanpa Asap Rokok

BLITAR-Perubahan besar dalam tubuh PT Kereta Api Indonesia (KAI) di era kepemimpinan Ignasius Jonan meninggalkan jejak mendalam. Tak hanya dalam sistem layanan, tetapi juga pada budaya kerja dan disiplin pegawai. Transformasi KAI yang semula dianggap mustahil kini menjadi salah satu kisah sukses reformasi BUMN paling dikenal publik.

Dalam sebuah wawancara yang diunggah di YouTube, Ignasius Jonan mengungkapkan sisi lain dari perjuangannya menertibkan perusahaan pelat merah tersebut. “Saya yakin, merubah KAI itu tidak cukup dengan power point atau teori. Harus turun langsung ke lapangan,” ujarnya.

Kisah di Balik Stasiun yang Dibakar

Jonan menyinggung momen kritis saat salah satu stasiun, Cipende, dibakar masyarakat. Peristiwa itu menjadi ujian besar bagi kepemimpinannya. “Sebagai pimpinan tertinggi, tekanan itu luar biasa. Tapi perubahan tidak bisa hanya di dalam, harus dimulai dari luar,” tuturnya.

Ia menegaskan, perubahan besar seringkali menimbulkan resistensi. Penertiban pedagang liar di stasiun hingga larangan bagi penumpang gelap sempat menimbulkan gejolak. Namun, Jonan memandang hal itu sebagai bagian dari proses menuju tata kelola transportasi yang tertib dan profesional.

“Dulu semua bilang, masyarakat tidak bisa diatur. Tapi bagaimana mau mengatur masyarakat kalau organisasi kita sendiri tidak tertib?” katanya tegas.

Disiplin Tanpa Asap Rokok

Salah satu kebijakan yang paling diingat dari masa kepemimpinan Jonan adalah larangan merokok di lingkungan KAI, termasuk bagi pegawai berseragam. Ironisnya, kebijakan itu lahir dari seorang perokok berat.

“Saya ini perokok sudah 45 tahun. Tapi waktu saya bikin larangan merokok, semua protes. Saya bilang, kalau saya bisa menahan diri tidak merokok di perjalanan, kalian juga bisa,” ujarnya disambut tawa audiens.

Bagi Jonan, disiplin bukan hanya perintah, tetapi keteladanan. “Organisasi itu akan tertib kalau pimpinannya juga tertib. Kalau kita bisa menunjukkan contoh, masyarakat akan ikut,” tegasnya.

Kini, kebijakan tanpa asap rokok di lingkungan KAI menjadi simbol perubahan budaya kerja yang lebih profesional dan sehat.

Baca Juga: Belasan Warga Terdampak Renovasi Stasiun Garum di Blitar, Begini Respon PT KAI

Menertibkan dari Dalam

Jonan mengaku, upaya menata KAI dimulai dengan menertibkan internal. “Saya tanya ke anak-anak waktu itu, kalian mau penghasilan dari uang halal atau tidak? Kalau mau, mari kita berubah bersama,” ujarnya.

Ia mengungkap, kondisi stasiun dulu jauh dari kata tertib. Asongan bebas keluar-masuk, pedagang liar memenuhi peron, hingga pungutan liar yang merugikan perusahaan. Namun berkat ketegasan dan konsistensi, perubahan mulai terasa.

“Sekarang lihat stasiun-stasiun seperti Tugu Jogja atau Lempuyangan. Dulu tidak mungkin bisa diatur. Sekarang bersih dan tertib. Karena organisasi kita sudah tertib duluan,” paparnya.

Etos Kerja dan Kepemimpinan Lapangan

Jonan juga menyoroti pentingnya pemimpin yang mau turun langsung ke lapangan. Ia bahkan memberi contoh ekstrem dalam proses rekrutmen pegawai teknik.

“Anak-anak teknik yang magang di kesinyalan dan jembatan, saya suruh jalan di jembatan tinggi di jalur Jakarta–Bandung. Kalau tidak berani, tidak diterima,” katanya.

Menurutnya, cara itu bukan sekadar uji nyali, melainkan pembentukan etos kerja. “Kamu nanti harus bisa memberi contoh ke anak buahmu. Kalau ada masalah di lapangan, pemimpin harus berani turun sendiri,” katanya.

Prinsip kepemimpinan lapangan itu pula yang diterapkan dalam jadwal kerja. “Dulu kalau Sabtu–Minggu banyak kecelakaan karena pimpinan libur. Saya ubah: pimpinan boleh libur Senin sampai Kamis, tapi Jumat–Minggu wajib piket. Termasuk saya,” ucapnya.

Meski sempat menuai keluhan dari pejabat senior, Jonan menilai disiplin semacam itu penting untuk membangun budaya kerja yang konsisten dan bertanggung jawab.

Dedikasi untuk Transportasi Publik

Jonan yang memimpin KAI sejak 2009 mengaku mendedikasikan hidupnya untuk membenahi transportasi publik Indonesia. Ia sadar, perubahan yang ia lakukan tidak selalu populer, namun harus dijalankan dengan komitmen.

Baca Juga: Puluhan Kecelakaan Terjadi di Perlintasan Sebidang di Blitar, KAI Terus Gencarkan Kampanye Keselamatan ke Pengguna Jalan

“Kalau mau memperbaiki sesuatu, jangan terlalu lama menunggu. Kalau 20 tahun baru berubah, saya sudah keburu tidak ada,” katanya sambil tersenyum.

Kini, hasil dari dedikasi itu bisa dirasakan masyarakat. KAI menjadi salah satu BUMN paling dipercaya publik dengan pelayanan yang jauh lebih baik dibanding sebelum era reformasi.

Transformasi KAI bukan hanya soal infrastruktur dan layanan, tapi tentang bagaimana disiplin, keteladanan, dan keberanian seorang pemimpin mampu menular hingga ke seluruh lapisan organisasi.

Editor : Anggi Septian A.P.
#reformasi bumn #larangan merokok #ignasius jonan #Transformasi KAI #disiplin kerja