Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Disperindag Kabupaten Blitar Sebut Industri Rokok di Daerah Tetap Kuat, Ini Faktornya

Yanu Aribowo • Senin, 13 Oktober 2025 | 17:45 WIB

 

 

KOKOH: Industri rokok di Kabupaten Blitar justru menguat meskipun di kancah nasional dikabarkan tengah merosot.
KOKOH: Industri rokok di Kabupaten Blitar justru menguat meskipun di kancah nasional dikabarkan tengah merosot.

BLITAR – Di saat industri rokok nasional dilaporkan tengah mengalami kelesuan akibat tekanan regulasi dan penurunan konsumsi, industri rokok di Kabupaten Blitar justru menunjukkan ketahanannya. Hingga saat ini, sektor tersebut masih menjadi penopang ekonomi daerah dan penyerap tenaga kerja terbesar di sektor industri ringan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Darmadi mengungkapkan, sebanyak 30 pabrik rokok beroperasi aktif di wilayah Kabupaten Blitar. Angka tersebut mengalami peningkatan dari sebelumnya yang hanya terdapat 26 pabrik.

Di sisi lain, dia juga menjelaskan, industri rokok di Kabupaten Blitar sudah menyerap hingga ribuan tenaga kerja. “Serapan tenaga kerja di industri rokok Kabupaten Blitar mencapai sekitar 1.700 karyawan,” katanya.

Menurut Darmadi, industri rokok di Kabupaten Blitar tidak pernah menunjukkan tanda-tanda lesu, bahkan terus tumbuh stabil. Selain itu, pangsa pasarnya juga mendukung, bahkan sampai ke luar Jawa dan luar negeri.

Dia menyebut sejauh ini tidak ada keluhan terkait upah atau kesejahteraan karyawan yang menandakan stabilitas hubungan kerja antara pengusaha dan tenaga kerja di sektor tersebut. “Alhamdulillah hingga saat ini tidak ada keluhan terkait upah karyawan dari industri rokok,” pungkasnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan industri ini, Disperindag Kabupaten Blitar juga menjalankan program pelatihan tenaga kerja melalui dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).

Program tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kerja agar lebih adaptif terhadap perkembangan industri dan teknologi produksi. “Melalui DBHCHT, kami berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor industri rokok, supaya mereka tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga punya peluang berinovasi,” tutur Darmadi.

Dengan daya serap tenaga kerja yang besar dan pasar yang terus terbuka, industri rokok di Kabupaten Blitar tetap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi lokal. “Kondisi ini sekaligus membuktikan bahwa di tengah tekanan ekonomi nasional, sektor industri seperti rokok masih mampu bertahan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tutupnya. (kho/c1/ynu) (*)

Photo
Photo
Yamaha Filano.
Yamaha Filano.
Editor : M. Subchan Abdullah
#tenaga kerja #Industri rokok nasional #darmadi #ekonomi #Tekanan