Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Warga Dusun Maron Srengat Sulap Lahan Bekas Tambang Galian C jadi Lahan Budi Daya Alpukat, Ini Hasilnya

Yanu Aribowo • Senin, 13 Oktober 2025 | 17:58 WIB

 

HIJAU: Pemerintah Desa Selokajang memanfaatkan lahan bekas tambang galian C sebagai ladang alpukat untuk meningkatkan pendapatan.
HIJAU: Pemerintah Desa Selokajang memanfaatkan lahan bekas tambang galian C sebagai ladang alpukat untuk meningkatkan pendapatan.

BLITAR – Warga Dusun Maron, Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, berhasil mengubah lahan bekas tambang galian C menjadi area pertanian produktif. Lahan yang dulunya digunakan untuk aktivitas penambangan pasir itu kini ditanami pohon alpukat dengan tujuan meningkatkan ekonomi desa serta pendapatan warga sekitar.

Berdasarkan hasil riset, tanah bekas galian C di wilayah tersebut merupakan tanah topsoil, yang dinilai ideal untuk pertumbuhan tanaman. “Jadi tanah di sini itu jenisnya topsoil, memang jenis tanah ini bagus untuk tumbuh-tumbuhan,” kata Kepala Dusun Maron, Imam Mustafa.

Dirinya menjelaskan, sebagian lahan masyarakat di sekitar lokasi biasanya hanya ditanami rumput kolonjono untuk pakan ternak. Namun, pihak desa mencoba mengembangkan tanaman alpukat karena memiliki nilai ekonomi jangka panjang.

“Kalau lahan yang milik masyarakat itu ada yang ditanami rumput kolonjono. Tapi di sini kami mencoba alpukat yang dinilai memiliki nilai ekonomi dalam jangka panjang,” paparnya.

Program penghijauan dimulai sejak Mei 2025 setelah lahan tersebut selesai digarap oleh pihak pengelola tambang. Meski kontrak tambang berakhir pada 2026, namun lahan yang sudah direklamasi langsung dikelola oleh pihak desa.

“Tanah yang sudah kembali ke desa langsung digarap oleh warga. Harapannya, hasilnya bisa menambah pendapatan asli desa (PAD),” katanya.

Dari sisi infrastruktur, Imam memastikan sistem irigasi tidak menjadi kendala karena sudah tersedia sumur bor di area lahan dan tanaman bisa tumbuh optimal meskipun di lahan bekas tambang.

Total lahan bekas tambang yang dikelola mencapai 14.000 meter persegi, dengan 6.000 meter persegi di antaranya telah ditanami pohon alpukat. “Masih ada sekitar 8.000 meter persegi lagi yang belum digarap karena menunggu ketersediaan dana,” tambahnya.

Saat ini, sudah tertanam 200 pohon alpukat. Pemilihan alpukat, kata Imam, didasarkan pada potensi ekonominya. Alpukat bisa menghasilkan panen secara berkelanjutan. Dengan asumsi satu pohon menghasilkan Rp 500 ribu per tahun, maka jika dikembangkan penuh hasilnya cukup menjanjikan.

Selain menjadi sumber ekonomi baru bagi warga, langkah ini juga merupakan bentuk rehabilitasi lahan pascatambang. Imam menegaskan, lahan yang belum digarap akan ditanami alpukat setelah dana tambahan tersedia. “Memang ada rencana untuk tambahan penanaman pohon alpukat, tapi kami masih menunggu tambahan dana,” tutupnya. (kho/ynu) (*)

Sumiyati (47), Agen Pegadaian Toko Buksum di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi mengecek keaslian perhiasan emas milik nasabah, Sabtu (11/10/2025). Wanita yang sudah dua tahun menjadi Agen Pegadaian itu tak hanya melayani gadai emas milik nasabah, tapi juga beberapa program tabungan emas milik Pegadaian. #mengEMASkanindonesia
Sumiyati (47), Agen Pegadaian Toko Buksum di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi mengecek keaslian perhiasan emas milik nasabah, Sabtu (11/10/2025). Wanita yang sudah dua tahun menjadi Agen Pegadaian itu tak hanya melayani gadai emas milik nasabah, tapi juga beberapa program tabungan emas milik Pegadaian. #mengEMASkanindonesia
Editor : M. Subchan Abdullah
#Pertanian produktif #Pertumbuhan Tanaman #ekonomi desa #tambang galian c #Lahan Bekas #pohon alpukat