BLITAR – Angka kasus gangguan jiwa di Kabupaten Blitar masih cukup tinggi. Kasus ini didominasi laki-laki karena dipengaruhi faktor sosial ekonomi sehingga membuatnya membutuhkan konsultasi ke layanan kesehatan.
Deteksi dini perlu dilakukan untuk menekan angka gangguan jiwa. Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, tercatat 2.420 orang masuk dalam kategori orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Dari jumlah tersebut, 1.374 di antaranya laki-laki, sedangkan 1.046 perempuan.
Subkoordinator Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kabupaten Blitar, dr Hyndra Satria, menjelaskan bahwa gangguan jiwa banyak dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Maka dari itu, keluarga atau orang terdekat harus peka terhadap gangguan jiwa yang di sekitarnya. “Dari data yang kami miliki, faktor pemicunya yang paling dominan adalah genetik atau keturunan, kemudian masalah sosial ekonomi, serta putus bekerja. Masalah pekerjaan memengaruhi ekonomi hingga mengganggu pikirannya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (10/10/2025).
Menurut Hyndra, ketiga faktor tersebut menjadi penyebab utama meningkatnya jumlah ODGJ di Kabupaten Blitar. Masalah ekonomi dan kehilangan pekerjaan sering memicu stres berat hingga depresi.
Jika tidak ditangani bisa berlanjut menjadi gangguan jiwa. Dokter asal Kecamatan Gandusari ini menyebut, seluruh ODGJ di Kabupaten Blitar telah mendapatkan penanganan dan pengawasan dari fasilitas kesehatan.
Mereka menjalani pengobatan rutin di puskesmas sesuai wilayah masing-masing, serta konsultasi ke psikiater di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi atau saat jadwal kunjungan psikiater ke puskesmas.
Selain itu, dinkes juga menjalankan pelayanan posyandu jiwa di beberapa wilayah. Kegiatan ini melibatkan kerja sama lintas sektor seperti pemerintah desa, babinsa, bhabinkamtibmas, relawan kesehatan, hingga keluarga pasien.
“Untuk pasien ODGJ yang dilaporkan dalam kondisi gaduh gelisah atau membahayakan diri dan orang lain, langsung kami rujuk ke rumah sakit jiwa demi meminimalisasi hal yang tidak dinginkan,” terang Hyndra.
Dia berharap masyarakat bisa lebih peduli terhadap kesehatan mental di lingkungan sekitar dan tidak memberi stigma negatif kepada penderita. Selain itu, keluarga harus memperhatikan kondisi kesehatan anggotanya.
Deteksi dan konsultasi dini menjadi kunci untuk menangani gangguan jiwa. “Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting dalam proses pemulihan penyintas gangguan jiwa,” tandasnya. (jar/c1/ynu) (*)