BLITAR – Program bus sekolah di Kabupaten Blitar terus berjalan setiap hari untuk melayani kebutuhan transportasi pelajar di berbagai wilayah. Namun hingga kini belum ada satu pun armada yang dikhususkan bagi pelajar penyandang disabilitas.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Blitar, Anik Yuanawati, mengungkapkan bahwa alasan utama belum tersedianya bus sekolah khusus disabilitas adalah karena jumlah peminat yang masih sangat sedikit.
Di samping itu, pihak sekolah luar biasa (SLB) masih belum berkenan jika siswa-siswinya harus naik bus sekolah tanpa adanya pendamping untuk setiap anak. “Untuk bus sekolah khusus penyandang disabilitas masih belum ada. Selain karena jumlah peminatnya masih kurang, pihak sekolah juga belum menghendaki adanya armada khusus tersebut,” jelasnya.
Menurut Anik, dishub tetap memprioritaskan standar operasional pelayanan (SOP) dalam menjalankan program bus sekolah, termasuk aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang.
Meski begitu, dia tidak menutup kemungkinan akan menyiapkan armada khusus bagi siswa disabilitas jika kebutuhan meningkat. “Kalau nanti permintaan dan kebutuhan meningkat, tentu bisa kami pertimbangkan ke depannya,” ujarnya.
Saat ini, Kabupaten Blitar memiliki 11 armada bus sekolah yang melayani delapan trayek di berbagai kecamatan. Dari jumlah tersebut, 4 unit merupakan mikrobus berkapasitas 19 penumpang dan 7 lainnya bus medium berkapasitas 30 penumpang.
Adapun trayek yang dilayani antara lain Kuningan–Kanigoro–Sawentar, Gawang–Kademangan, Kaliboto–Pasar Gambar–Togogan–Srengat–Poluhan, Udanawu–Wonodadi–Srengat–Poluhan, Kanigoro–Talun–Selopuro–Wlingi, Kanigoro–Garum–Nglegok, Krisik–Gandusari–Wlingi–Talun, serta Kanigoro–Sutojayan–Kademangan.
Jam operasional bus berlangsung dua kali sehari, yakni pukul 05.45–07.00 WIB saat berangkat sekolah dan pukul 14.00–16.00 WIB untuk waktu pulang, menyesuaikan jadwal ekstrakurikuler siswa.
Layanan bus sekolah masih diminati, kapasitas armada kerap overload, terutama pada jam-jam sibuk. “Idealnya memang dua hingga tiga bus dalam satu trayek agar penumpang tidak menumpuk. Tapi sejauh ini armada yang ada masih kami maksimalkan,” kata Anik.
Dia menegaskan, dishub akan terus melakukan evaluasi agar program bus sekolah di Kabupaten Blitar semakin inklusif dan merata bagi semua kalangan. “Kami berharap bisa menyiapkan fasilitas yang lebih ramah bagi semua pelajar, termasuk anak-anak disabilitas,” pungkasnya. (kho/c1/ynu) (*)