BLITAR – Rekrutmen sekretaris daerah (Sekda) Kabupaten Blitar berada di ujung babak. Pengamat menilai, ada dua calon kuat dari tiga sosok yang ada, dalam perebutan kursi tertinggi aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar ini. Bahkan isu sekda impor, tak pengaruhi keputusan bupati.
Ketua Gerakan Pembaharuan Indonesia (GPI), Jaka Prasetya mengatakan, rekrutmen Sekda Kabupaten Blitar saat ini sudah berjalan sesuai mekanisme. Kini tinggal menunggu keputusan Bupati Blitar, Rijanto dalam menentukan jabatan sekda. Dalam tahapan ini, semua calon berpotensi menempati kursi sekda.
“Namun dari tiga calon, mengamati pendapat dari beberapa kelompok. Ada dua calon yang kuat dalam perebutan kursi Sekda Kabupaten Blitar. Yakni Khusna Lindarti, kini menjabat Pj sekda dan Priyo Suhartono, saat ini menjabat Sekda Kota Blitar,” ujarnya.
Jaka melanjutkan, dua tokoh itu dinilai banyak dibicarakan beberapa kalangan untuk merebutkan kursi sekda. Selain itu, Jaka menilai mereka memiliki kompetensi yang kuat dalam mengisi jabatan yang sudah kosong sejak ditinggal Izul Marom, 3 bulan lalu. Meskipun begitu, kini semua calon termasuk Rully Wahyu Prasetyowanto juga berpeluang dalam rekrutmen ini.
Disinggung terkait adanya isu sekda impor, Jaka mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena dalam regulasi rekrutmen sekda, ini bersifat terbuka. Tentu bebas diikuti oleh pejabat yang ada di Jawa Timur, selama memiliki persyaratan yang ditentukan oleh panitia seleksi.
Maka dari itu, Priyo yang kini statusnya bukan ASN Pemkab Blitar masih berpeluang dalam perebutan. “Adanya isu sekda impor ini tidak akan mempengaruhi Bupati Blitar dalam mengambil keputusan menentukan sosok sekda definitof Kabupaten Blitar. Bupati tentu memiliki penghitungan dan referensi kuat dalam memilih sekda,” ungkapnya.
Menurut Jaka, sekda memiliki peran penting sebagai jabatan tertinggi bagi ASN dan bertindak sebagai distributor anggaran serta perpanjangan tangan kepala daerah dalam melaksanakan program-program pembangunan.
Tidak hanya itu, tugas Sekda Kabupaten Blitar ke depan semakin menantang. Dengan adanya efisiensi transfer dana dari pusat ke daerah yang mengalami penurunan, sekda perlu memiliki kemampuan melobi anggaran ke pemerintah pusat.
“Sekda harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik antara eksekutif dan legislatif, agar pemerintahan berjalan dengan baik. Selain itu, dibutuhkan kreativitas memaksimalkan pendapatan asli daerah (PAD), terhadap kekurangan transfer daerah dari pusat. Di sini dibutuhkan pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan pembangunan di Kabupaten Blitar,” pungkasnya. (jar/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah