BLITAR – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan pembangunan kota, masih ada sudut Blitar yang mempertahankan keaslian peninggalan masa kolonial Belanda. Salah satunya adalah Seminari Menengah Vincentius Paulo Garum, sebuah kompleks pendidikan rohani yang berdiri sejak tahun 1948 dan tetap kokoh hingga kini. Bangunan berarsitektur klasik Eropa itu menjadi bukti hidup sejarah pendidikan dan spiritualitas di tanah Jawa Timur.
Meski tidak banyak dikenal masyarakat umum, kawasan ini menyimpan pesona tersendiri bagi siapa pun yang mengunjunginya. Dalam sebuah video yang beredar di YouTube, seorang konten kreator lokal memperlihatkan suasana autentik di lingkungan Seminari Vincentius Paulo Garum. Ia menyebut bahwa bangunan ini masih mempertahankan bentuk aslinya seperti saat pertama kali dibangun oleh misionaris Katolik pada masa pascakemerdekaan.
“Di sini satu kompleks ya, jadi satu dengan gerejanya. Asli banget peninggalan Belanda,” ujarnya sambil menunjuk bangunan gereja tua yang masih berdiri megah. Di sekelilingnya tampak pohon-pohon besar yang menambah kesan teduh dan alami.
Bangunan Autentik Peninggalan Belanda
Bangunan seminari ini terbuat dari material bata merah dan kayu jati yang kuat, ciri khas konstruksi kolonial yang menonjolkan keawetan dan keindahan. Di halaman depannya terdapat lapangan bola yang disebut masih sangat terawat, bahkan lebih rapi dibanding lapangan umum di perkotaan.
“Lapangan bolanya masih mulus, bahkan lebih terawat daripada lapangan PSSI,” kelakarnya dalam video tersebut. Pernyataan ini menggambarkan betapa terjaganya kawasan ini meski sudah berusia lebih dari tujuh dekade.
Menariknya, di area belakang bangunan masih berdiri pohon-pohon jati besar yang menambah suasana klasik khas pedesaan. Hal ini menjadikan Seminari Vincentius Paulo Garum bukan hanya situs pendidikan, tetapi juga objek wisata sejarah dan religi yang potensial untuk dikembangkan di Blitar.
Tempat Pendidikan Calon Pastor
Sesuai fungsinya sejak awal berdiri, kompleks ini merupakan tempat pendidikan bagi calon pastor Katolik. Karena sifatnya yang khusus, tidak semua pengunjung bisa sembarangan masuk ke area utama bangunan. “Saya cewek, jadi enggak bisa sembarang masuk. Ini tempat pendidikan calon pastor,” kata narator video tersebut sambil tertawa kecil.
Meski demikian, pengunjung masih bisa menikmati keindahan arsitektur kolonial dan suasana damai dari luar area utama. Beberapa warga sekitar juga mengaku bangga karena keberadaan seminari ini menjadi simbol sejarah keagamaan di Garum.
“Sejak dulu tempat ini tidak pernah sepi dari kegiatan rohani. Banyak tokoh gereja besar yang dulu pernah belajar di sini,” ujar salah satu warga yang tinggal di sekitar lokasi.
Baca Juga: Pergeseran Zaman Serba Online, Nasib Trayek MPU di Kabupaten Blitar Tinggal Kenangan
Didirikan Tahun 1948 di Masa Pascakemerdekaan
Menurut informasi yang disampaikan dalam video, Seminari Vincentius Paulo Garum berdiri pada tahun 1948. Awalnya, lembaga ini merupakan bagian dari jaringan pendidikan Katolik yang memiliki pusat di Bandung, sebelum kemudian berkembang ke wilayah Jawa Timur.
Keberadaannya turut berperan dalam melahirkan banyak pemuka agama Katolik yang kemudian bertugas di berbagai daerah di Indonesia. Dari sisi sejarah, tahun pendiriannya juga menunjukkan semangat kebangkitan pendidikan setelah Indonesia merdeka.
Wisata Edukasi dan Religi di Blitar
Kini, bangunan Seminari Vincentius Paulo Garum mulai dilirik oleh masyarakat dan konten kreator lokal sebagai salah satu destinasi wisata religi dan sejarah di Kabupaten Blitar. Meski belum secara resmi dibuka untuk wisata umum, kawasan ini menawarkan pemandangan unik yang memadukan nuansa spiritual, sejarah, dan keasrian alam.
Dengan struktur bangunan khas Eropa dan lingkungan yang masih asri, tempat ini sangat potensial menjadi destinasi edukatif, terutama bagi pelajar dan pecinta sejarah. Keaslian arsitekturnya menjadi daya tarik tersendiri di tengah maraknya bangunan modern yang seragam dan kehilangan identitas.
Sebagai peninggalan bersejarah, Seminari Vincentius Paulo Garum menjadi pengingat bahwa warisan masa lalu tidak hanya perlu dirawat secara fisik, tetapi juga dilestarikan nilainya. Bagi masyarakat Blitar, keberadaan seminari ini adalah kebanggaan sekaligus cerminan harmoni antara sejarah, pendidikan, dan spiritualitas.