BLITAR – Bagi pecinta sejarah dan bangunan klasik, berkunjung ke rumah jadul peninggalan era kolonial di Blitar bisa menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Melalui sebuah video yang beredar di YouTube, terlihat keindahan dan keaslian rumah bergaya Belanda yang masih terawat dengan baik. Rumah ini dikenal masyarakat sebagai Rumah Loji, sebutan untuk rumah besar peninggalan zaman kolonial yang dulu dimiliki oleh kaum bangsawan atau pejabat Belanda.
Begitu memasuki halaman depan, suasana nostalgia langsung terasa. Deretan tanaman hias tertata rapi menghiasi taman yang asri, memberi kesan tenang dan elegan. Udara terasa sejuk meski berada di tengah kota. Dari luar saja, keautentikan arsitektur rumah sudah terlihat dari plafon tinggi, jendela lebar, serta pintu kayu berukir khas Eropa.
“Tanamannya rapi, indah, dan pastinya mahal. Hawanya sejuk banget,” ujar sang pemandu dalam video sambil menunjukkan bagian teras rumah yang biasanya digunakan untuk menerima tamu atau bersantai di sore hari.
Rumah Loji, Simbol Kemewahan Zaman Dulu
Masuk ke bagian dalam rumah, nuansa mewah era kolonial terasa kuat. Setiap sudut ruangan dihiasi dengan ornamen klasik, perabot kayu jati, serta hiasan dinding bergaya Eropa. Pada salah satu dinding tertulis nama “Rumah Loji”, yang dalam sejarah lokal sering diartikan sebagai rumah besar milik orang penting pada masa Hindia Belanda.
Menariknya, rumah ini juga memiliki ruangan khusus bernama Kamar 806 Bung Karno, yang konon berisi beberapa barang antik yang dipindahkan dari Hotel Indonesia. Penataan kamar tersebut dibuat menyerupai suasana kamar hotel mewah zaman dahulu, lengkap dengan perabotan kayu dan hiasan klasik.
“Kalau zaman dulu punya barang-barang seperti ini, fix orang kaya,” ujar pemandu sambil menunjukkan mesin ketik, radio, televisi hitam putih, hingga meja kerja antik. Barang-barang tersebut kini menjadi koleksi pribadi pemilik rumah, sekaligus menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin merasakan atmosfer masa lalu.
Interior Klasik dan Barang Antik Bernilai Tinggi
Lantai dan plafon rumah masih asli, tidak banyak mengalami renovasi. Dindingnya tampak kokoh meski sudah berumur puluhan tahun. Di ruang tengah, terdapat meja makan klasik yang tertata rapi dengan nuansa hangat. Di dekatnya ada area musik lengkap dengan piano, gendang, serta pemutar piringan hitam manual.
“Alat musiknya masih bagus, walaupun kayunya sedikit terkelupas. Tapi lukisannya kok rada medeni,” seloroh pemandu sambil bercanda di depan kamera.
Selain alat musik, banyak juga hiasan keramik, lukisan besar, dan lemari kayu klasik yang masih terawat. Area ini menjadi favorit pengunjung untuk berfoto karena menghadirkan suasana elegan dan estetik.
Ruang Santai dan Bangunan Kedua Bernuansa Kolonial
Tak jauh dari ruang makan, terdapat area santai dengan rak buku, meja kopi, dan kursi kayu besar. Pemandu menggambarkan area ini sebagai tempat ideal untuk “baca buku, ngopi, sambil selonjoran.”
Menariknya, di kompleks rumah ini juga terdapat bangunan kedua yang tak kalah menawan. Suasananya lebih santai, dengan interior bergaya kafe klasik. Dindingnya sengaja dibiarkan sedikit retak untuk menunjukkan struktur asli bangunan era Belanda.
“Retakannya enggak ditambal, biar tahu gimana tembok zaman Belanda dulu. Pokoknya autentik dan elegan,” jelas pemandu. Di dalamnya terdapat pajangan minuman klasik, foto lawas, serta ornamen berbahan keramik yang disusun artistik.
Wisata Sejarah yang Wajib Dikunjungi
Dari luar, pemandangan rumah ini semakin menawan. Halamannya luas dengan pepohonan rindang dan tata taman yang menyerupai vila Eropa. “Berasa di Europe, tapi ternyata di Blitar,” celetuk sang pemandu sambil tertawa.
Video ini sontak menarik perhatian netizen karena menampilkan sisi lain Blitar yang jarang terekspos. Rumah jadul seperti Rumah Loji menjadi bukti bahwa peninggalan sejarah kolonial tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga nilai estetika yang tinggi.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi kembali ke masa lampau, berkunjung ke rumah-rumah klasik seperti ini bisa menjadi alternatif wisata sejarah yang edukatif sekaligus menghibur. Dengan tetap menjaga keaslian bangunan dan koleksi di dalamnya, tempat ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang budaya dan arsitektur di Blitar.
Editor : Anggi Septian A.P.