Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Alun-Alun Blitar: Dari Pusat Pemerintahan hingga Ruang Publik Ikonik di Jawa Timur

Findika Pratama • Minggu, 19 Oktober 2025 | 17:00 WIB
Sejarah Alun-Alun Blitar: Dari Pusat Pemerintahan hingga Ruang Publik Ikonik di Jawa Timur
Sejarah Alun-Alun Blitar: Dari Pusat Pemerintahan hingga Ruang Publik Ikonik di Jawa Timur

BLITAR – Alun-alun Blitar bukan sekadar taman kota yang menjadi pusat keramaian masyarakat. Tempat ini menyimpan jejak panjang sejarah Kabupaten Blitar dari masa kolonial hingga kini. Di balik rindangnya pepohonan dan hiruk-pikuk aktivitas warga, terdapat kisah menarik tentang bagaimana alun-alun ini terbentuk dan berkembang menjadi simbol identitas kota di Jawa Timur.

Asal-Usul Pusat Pemerintahan Kabupaten Blitar

Sebelum dikenal seperti sekarang, pusat pemerintahan Kabupaten Blitar sempat berpindah tempat. Pada masa awal berdirinya, pemerintahan berada di tepi Sungai Pakunden. Namun, letusan dahsyat Gunung Kelud memaksa pemindahan pusat pemerintahan.
Langkah strategis itu diambil oleh Bupati Blitar pertama, R.M.A. Arya Ronggo Hadinegoro, yang memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi alun-alun Blitar saat ini. Sejak saat itu, kawasan ini menjadi jantung aktivitas pemerintahan sekaligus pusat kegiatan sosial masyarakat.

Pada masa kolonial Belanda, alun-alun Blitar turut mendapat sentuhan arsitektur khas Eropa. Di sebelah timurnya bahkan terdapat bangunan sel tahanan peninggalan Belanda yang masih menjadi saksi sejarah hingga sekarang.

Arsitek di Balik Keindahan Alun-Alun Blitar

Tak banyak yang tahu, arsitek di balik penataan alun-alun Blitar adalah sosok bernama Bowo Diman Joyo Dikdo, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Eyang Joyo Dikdo.
Beliau lahir di Kulon Progo pada 29 Juli 1827 dan wafat pada 11 Maret 1908 di usia 82 tahun. Eyang Joyo Dikdo dimakamkan di Jalan Melati No. 43 Blitar, di sebuah lokasi yang dikenal masyarakat dengan nama Makam Gantung Eyang Joyo Dikdo.

Sosok Eyang Joyo Dikdo dikenal memiliki visi arsitektur yang kuat. Ia tidak hanya membangun alun-alun sebagai ruang terbuka, tetapi juga menanamkan nilai filosofis: keseimbangan antara ruang pemerintahan, tempat ibadah, dan kehidupan rakyat. Konsep tata ruang itu masih terlihat hingga kini, di mana alun-alun Blitar berdampingan dengan Masjid Agung dan pendopo kabupaten.

Ritual Rampokan Macan di Masa Lampau

Menariknya, di masa lalu, alun-alun Blitar juga menjadi arena ritual yang kini tinggal sejarah: rampokan macan, yaitu pertarungan antara manusia dan harimau. Tradisi ini dahulu dianggap sebagai simbol keberanian sekaligus tontonan bagi masyarakat. Namun, karena menyebabkan penurunan drastis populasi harimau di Jawa, pemerintah Hindia Belanda akhirnya melarang praktik ini.

Pada tahun 1910, diterbitkan undang-undang perlindungan satwa liar, termasuk mamalia dan burung, yang secara resmi mengakhiri tradisi rampokan macan di seluruh wilayah Hindia Belanda. Sejak itu, alun-alun Blitar mulai bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih humanis.

Perubahan Fungsi Menjadi Ruang Terbuka Hijau

Kini, alun-alun Blitar berfungsi sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat kegiatan masyarakat. Tempat ini menjadi lokasi favorit warga untuk berolahraga, bersantai, atau menggelar berbagai acara budaya. Upacara kenegaraan, kegiatan olahraga massal, hingga pertunjukan seni sering digelar di sini.

Perubahan fungsi tersebut mencerminkan semangat zaman: dari tempat transit para pamong praja dan rakyat yang hendak menghadap bupati, menjadi ruang demokratis bagi semua kalangan. Kini, siapa pun dapat menikmati suasana teduh dan lapang alun-alun yang telah berdiri lebih dari satu abad itu.

Bagi warga Blitar, alun-alun bukan hanya taman kota, melainkan simbol kebebasan dan perjuangan. Di tempat inilah rakyat Blitar merasakan kemerdekaan setelah lepas dari belenggu penjajahan. Jejak sejarah dan semangat rakyat masih terasa dalam setiap sudutnya.

Warisan Sejarah yang Harus Dilestarikan

Dengan segala nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya, alun-alun Blitar menjadi warisan penting yang perlu dijaga kelestariannya. Pemerintah daerah terus melakukan perawatan dan penataan ulang agar kawasan ini tetap menjadi ruang publik yang nyaman sekaligus edukatif bagi generasi muda.

Lebih dari sekadar destinasi wisata kota, alun-alun Blitar kini menjadi simbol identitas warga Kabupaten Blitar. Setiap kunjungan ke kota ini terasa belum lengkap tanpa singgah di pusat kota yang sarat makna tersebut.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#Kabupaten Blitar #sejarah blitar #Eyang Joyo Dikdo #Rampokan Macan