BLITAR – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Blitar mengakui masih rendahnya jumlah koleksi buku yang dimiliki perpustakaan daerah. Berdasarkan data terakhir, total koleksi tercatat 21.883 eksemplar dengan 12.603 judul buku. Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat di 22 kecamatan.
Kepala Dispusip Kabupaten Blitar, Jumali menyebutkan, keterbatasan tersebut salah satunya disebabkan oleh minimnya anggaran pengadaan dana alokasi umum (DAU) karena memang masih efisiensi. Sementara dana alokasi khusus (DAK) tidak ada pos anggaran untuk pengadaan buku. “DAK masih kami prioritaskan untuk kegiatan peningkatan kapasitas dan akreditasi perpustakaan, seperti bimtek literasi informasi, lomba bertutur, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Meski begitu, pemerintah daerah tetap berupaya memperluas akses bacaan melalui kerja sama dengan perpustakaan nasional (Perpusnas). Tahun ini, Kabupaten Blitar menerima bantuan bacaan bermutu untuk 25 titik. Masing-masing titik memperoleh 1.000 eksemplar buku lengkap dengan rak. “Bantuan tersebut didistribusikan ke perpustakaan desa, perpustakaan kelurahan, serta taman bacaan masyarakat (TBM),” sambungnya.
Baca Juga: Ekonomi Bayangan Rp2.200 Triliun: Ancaman dari Premanisme dan Ormas Liar di Indonesia”
Menurut Jumali, adanya bantuan tersebut juga memiliki dampak besar bagi peningkatan literasi di Kabupaten Blitar. Bantuan ini cukup membantu memperkuat layanan literasi di tingkat desa dan kelurahan karena banyak warga yang kini bisa mengakses bacaan tanpa harus jauh-jauh ke perpustakaan daerah. Tak berhenti di situ, dia juga telah mengajukan tambahan 25 titik bantuan serupa untuk tahun depan. “Tahun depan rencananya kembali diajukan untuk bantuan di 25 titik,” terangnya.
Program ini diharapkan bisa menjangkau lokasi yang lebih luas, termasuk tempat ibadah, yang menjadi pusat aktivitas masyarakat di perdesaan. Dia ingin literasi tumbuh di semua ruang publik, termasuk masjid, gereja, atau tempat ibadah lain.
Tahun depan kami ajukan agar bantuan bacaan juga bisa disalurkan ke sana. Jumali juga menyampaikan bahwa mengalami keterbatasan dalam sisi sumber daya manusia. “Buku adalah jantung literasi, tapi tanpa pengelola yang kompeten, fungsinya tidak maksimal. Karena itu, kami juga fokus pada pembinaan tenaga perpustakaan,” tandasnya. (kho/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah