BLITAR – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Blitar optimistis mampu mencapai target tingkat kunjungan perpustakaan pada 2025. Hal tersebut didasarkan pada capaian semester II 2025 dan perbandingan dari tahun sebelumnya. Hingga semester II, dispusip mencatat tren peningkatan pengunjung yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Jika dilihat dari tren memang ada kenaikan dalam jumlah kunjungan. Target kunjungan tahun ini ditetapkan 88.300 pengunjung. Meskipun perhitungan akhir masih berlangsung, capaian tersebut bisa terpenuhi, mengingat antusiasme masyarakat terhadap kegiatan literasi semakin tinggi.
“Target tahun ini sebanyak 88.300 pengunjung dan saat ini masih dalam proses perhitungan. Kalau melihat tren dari tahun lalu, kami optimistis bisa tercapai,” jelas Kepala Dispusip Kabupaten Blitar, Jumali.
Sebagai perbandingan, tingkat kunjungan pada 2023 tercatat 62.023 orang. Sementara pada 2024 meningkat menjadi 75.088 pengunjung. Dengan sisa dua bulan menjelang akhir tahun, Jumali menilai capaian 2025 bisa menembus target, terutama karena berbagai inovasi kegiatan yang dilakukan. “Sisa dua bulan lagi, kalau berkaca dari tahun lalu, kami yakin target bisa untuk dicapai,” tuturnya.
Salah satu terobosan yang dilakukan Dispusip Kabupaten Blitar adalah Festival Literasi yang disusun secara tematik berdasarkan usia dan jenjang pendidikan. Dalam waktu dekat, dispusip juga mengadakan event supaya dapat meningkatkan jumlah kunjungan perpustakaan.
Kegiatan ini dinilai mampu untuk memperluas jangkauan minat baca masyarakat dari pelajar hingga kalangan dewasa. “Kami mengadakan Festival Literasi yang menyesuaikan kegiatan berdasarkan usia dan jenjang pendidikan. Itu menjadi salah satu strategi kami untuk menarik lebih banyak pengunjung,” ungkapnya.
Jumali menambahkan, peningkatan kunjungan juga didukung oleh kemudahan akses terhadap layanan digital dan kerja sama lintas sektor dalam promosi gemar membaca. dia berkomitmen terus memperkuat budaya literasi agar perpustakaan menjadi pusat pembelajaran masyarakat yang inklusif dan menarik. “Fokus kami bukan hanya mencapai target, tapi menjadikan perpustakaan sebagai ruang edukasi publik yang hidup,” pungkasnya. (kho/c1/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah