BLITAR – Indonesia mencatat sejarah baru di dunia pariwisata. Melalui deklarasi dan aksi nyata, pemerintah menegaskan komitmen menuju Pariwisata Net Zero Emissions, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di ASEAN yang berani mengambil langkah strategis dalam mengurangi emisi karbon dari sektor wisata.
Komitmen ini disampaikan dalam sebuah pernyataan simbolik di kawasan Pelataran Renewable Energy, yang menjadi pusat gerakan pariwisata hijau di Indonesia. Di lokasi inilah tekad besar itu dimulai: menjadikan pariwisata bukan sebagai penyumbang emisi, melainkan sebagai solusi dalam menghadapi perubahan iklim global.
Langkah Nyata Menuju Pariwisata Rendah Karbon
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyebut, langkah menuju pariwisata berkelanjutan bukan sekadar wacana, melainkan gerakan bersama yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pelaku usaha hingga masyarakat lokal.
“Di sini, kita tidak hanya bicara tentang wisata hijau. Kita bicara tentang transformasi ekonomi yang tetap menciptakan lapangan kerja baru dan berkualitas, sambil menjaga bumi yang kita cintai,” ujar Sandiaga Uno dalam sambutannya.
Langkah-langkah konkret telah dilakukan melalui berbagai program ramah lingkungan. Di antaranya penanaman pohon, pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, restorasi terumbu karang, serta pengelolaan energi terbarukan di kawasan wisata.
Menurut Sandiaga, seluruh upaya tersebut akan menjadi fondasi untuk menjadikan pariwisata Indonesia berkontribusi aktif terhadap penurunan emisi karbon nasional, sejalan dengan target Net Zero Emissions 2060 yang telah dicanangkan pemerintah.
Dukungan Global dari UNWTO dan UNEP
Komitmen besar Indonesia ini sejalan dengan Glasgow Declarations on Climate Action in Tourism, sebuah gerakan global yang diinisiasi oleh UNWTO (Organisasi Pariwisata Dunia) dan UNEP (United Nations Environment Programme).
Deklarasi Glasgow menjadi panduan bagi negara-negara dunia dalam menekan emisi karbon di sektor pariwisata, sekaligus membangun sistem ekonomi wisata yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Indonesia termasuk dalam gelombang awal negara yang menandatangani deklarasi tersebut, menegaskan posisi Tanah Air sebagai pelopor pariwisata hijau di kawasan Asia Tenggara.
“Keikutsertaan Indonesia dalam deklarasi ini bukan hanya simbolik. Kita telah menjalankan berbagai proyek nyata yang menyentuh ekosistem pariwisata dari hulu ke hilir,” tegas Sandiaga.
Pariwisata Hijau Jadi Arah Baru Ekonomi Nasional
Langkah menuju pariwisata net zero emissions dipandang sebagai bagian penting dalam transformasi ekonomi nasional. Pemerintah melihat pariwisata berkelanjutan tidak hanya menguntungkan secara ekologis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.
Sektor pariwisata Indonesia telah menjadi penyumbang signifikan bagi pendapatan nasional, namun di sisi lain, peningkatan kunjungan wisata dapat berdampak terhadap emisi karbon jika tidak dikelola dengan bijak.
Oleh karena itu, pendekatan low carbon tourism kini menjadi fokus utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Melalui berbagai inisiatif seperti transportasi ramah lingkungan, efisiensi energi di hotel dan resort, serta pengelolaan sampah berbasis komunitas, pariwisata Indonesia diarahkan agar semakin berwawasan lingkungan.
Kolaborasi Jadi Kunci
Sandiaga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat lokal. Ia menyebut, sektor pariwisata tidak dapat berdiri sendiri dalam menghadapi tantangan iklim. Dibutuhkan sinergi lintas sektor agar perubahan ini benar-benar berdampak.
“Sebuah gerakan hijau tidak bisa berjalan tanpa dukungan banyak pihak. Tapi saya yakin, langkah kecil ini akan menciptakan gelombang besar menuju pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.
Selain menekan emisi, gerakan ini juga diproyeksikan membuka peluang ekonomi baru. Pengembangan ekowisata, energi terbarukan, hingga wisata edukatif diyakini dapat menarik investor global dan menciptakan lapangan kerja hijau bagi masyarakat lokal.
Menuju Masa Depan Pariwisata Indonesia yang Sejahtera
Program ini bukan sekadar kampanye lingkungan, melainkan upaya nyata membangun masa depan pariwisata Indonesia yang lebih sejahtera dan tangguh.
Dengan memadukan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis, pemerintah berharap model pariwisata Net Zero ini dapat diadopsi di seluruh destinasi wisata Indonesia—mulai dari Bali, Labuan Bajo, hingga Danau Toba.
“Net Zero Emissions bukan sekadar angka. Ini tentang komitmen kita menjaga bumi sambil terus memajukan ekonomi kreatif dan pariwisata,” pungkas Sandiaga.
Melalui visi ini, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya di mata dunia sebagai destinasi wisata kelas global, tetapi juga sebagai negara pelopor pariwisata berkelanjutan di Asia Tenggara.
Editor : Anggi Septian A.P.