Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Makam Adipati Aryo Blitar: Perjuangan Melawan Belanda dan Tradisi Ziarah Jumat Pahing

Axsha Zazhika • Senin, 27 Oktober 2025 | 05:45 WIB
Sejarah Makam Adipati Aryo Blitar: Perjuangan Melawan Belanda dan Tradisi Ziarah Jumat Pahing
Sejarah Makam Adipati Aryo Blitar: Perjuangan Melawan Belanda dan Tradisi Ziarah Jumat Pahing

BLITAR – Di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, berdiri sebuah situs bersejarah yang sarat nilai perjuangan dan spiritualitas. Situs itu adalah makam Adipati Aryo Blitar, tokoh yang dikenal sebagai pendiri sekaligus pejuang penting dalam sejarah berdirinya Blitar. Hingga kini, makam ini menjadi tempat ziarah dan pusat tradisi budaya masyarakat setempat.

Asal-usul dan Perjuangan Adipati Aryo Blitar

Dalam catatan sejarah, Adipati Aryo Blitar merupakan gelar yang diwariskan secara turun-temurun. Tokoh yang dimakamkan di Sukorejo ini dikenal sebagai Joko Kandung, bergelar Aryo Blitar III, putra dari Raden Nila Suwarno atau Aryo Blitar I.

Sejak muda, Joko Kandung dikenal sebagai sosok yang gemar bertapa di Alas Kandung dan memelihara burung perkutut, simbol ketenangan dan kebijaksanaan. Ia kemudian mewarisi jabatan ayahnya sebagai Adipati Blitar setelah berhasil menumpas Patih Sengguru atau Aryo Britardaya, sosok yang telah membunuh ayahnya sendiri.

Namun perjuangan Aryo Blitar tidak berhenti di situ. Ia dikenal berani melawan penjajahan Belanda bersama Untung Suropati, menjadikannya salah satu tokoh yang layak dikenang sebagai pahlawan lokal.

Sayangnya, keberaniannya menentang Belanda membuatnya kehilangan jabatan setelah kekalahan dalam Perang Trunojoyo. Setelah itu, ia memilih meninggalkan Kadipaten dan menetap di Sukorejo hingga akhir hayatnya.

Lokasi dan Keunikan Makam

Makam Adipati Aryo Blitar terletak di tengah lahan luas atau tegalan, dengan bangunan sederhana beratap genteng kecil dan disangga empat cagak kayu.

Pada masa kolonial, lokasi makam ini sangat dirahasiakan oleh masyarakat sekitar. Tujuannya agar Belanda tidak mengetahui keberadaan makam sang adipati, yang dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah.

Baru pada 17 Februari 1930, keluarga besar Aryo Blitar melakukan pemugaran tanpa mengubah bentuk aslinya. Di area pemakaman tersebut kini terdapat 27 makam, terdiri dari 25 makam penjuru kunci, satu makam Joko Kandung (Aryo Blitar III), dan satu makam ibunya, Dewi Rayung Wulan, istri dari Aryo Blitar I.

Misteri dan Cerita Mistis di Sekitar Makam

Dahulu, area makam ini dikenal sangat angker. Masyarakat setempat enggan melintas di sekitar lokasi setelah azan magrib, atau dalam istilah Jawa disebut “surup suryo”.

Baca Juga: ANRI dan Kompas TV Kolaborasi Lestarikan Arsip Nasional Melalui Platform Digital

Cerita turun-temurun menyebutkan, suasana di sekitar makam sangat sepi dan gelap, membuat warga takut melewatinya. Namun kini, setelah pemugaran dan penerangan di sekitar lokasi, area makam ramai dikunjungi warga tanpa rasa takut seperti dulu.

Tradisi Ziarah dan Ritual Ngalap Berkah

Selain nilai sejarah, makam Adipati Aryo Blitar juga menjadi pusat kegiatan spiritual masyarakat. Setiap malam Jumat Legi dan bulan Sura, ribuan peziarah datang untuk ngalap berkah atau mencari ketentraman batin.

Pada malam Jumat Paing bulan Sura, pemerintah Kota dan Kabupaten Blitar menggelar ritual sesaji dan doa bersama, yang turut dimeriahkan oleh pagelaran wayang kulit dan gamelan Jawa.

Sementara itu, ritual bulanan juga dilakukan setiap Jumat Pahing dan Sabtu Pahing, di mana warga berdoa sesuai kepercayaan masing-masing dengan tujuan memohon keselamatan, kelancaran rezeki, dan kedamaian hidup.

Tak heran, makam ini dianggap keramat oleh masyarakat, terutama pada hari Jumat Pahing yang diyakini sebagai hari kelahiran Aryo Blitar I.

Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

Tradisi ziarah ke makam Adipati Aryo Blitar tak hanya dilakukan oleh masyarakat, tetapi juga para pejabat daerah. Setiap kali Kota atau Kabupaten Blitar mengadakan acara bersih desa, kirab budaya, atau ritual adat, para bupati dan perangkat desa selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur pendiri Blitar.

Kegiatan budaya seperti pengiriman tumpeng, acara jaranan, dan lekong juga rutin dilaksanakan di Kelurahan Blitar. Semua ini menjadi bukti bahwa warisan perjuangan dan spiritualitas Adipati Aryo Blitar masih hidup dan berakar kuat dalam masyarakat Blitar hingga kini.

Editor : Anggi Septian A.P.
#makam keramat #ritual Jumat Pahing #sejarah blitar #wisata religi blitar #Adipati Aryo