BLITAR – Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan budi pekerti dan tata krama. Dalam video pembelajaran bertajuk “Unggah-ungguh basa Jawa”, Bu Liha mengajak anak-anak untuk belajar bahasa Jawa dengan cara yang santai namun sarat nilai kesopanan. Melalui video tersebut, Bu Liha menjelaskan pentingnya mengenal tingkatan bahasa Jawa seperti ngoko, krama madya, dan krama inggil yang mencerminkan sikap hormat dan unggah-ungguh terhadap lawan bicara.
Pembelajaran unggah-ungguh basa Jawa ini menjadi penting di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap bahasa daerah. Banyak anak Jawa kini lebih fasih berbahasa Indonesia bahkan Inggris, sementara kemampuan berbahasa Jawa halus mulai memudar. Melalui videonya, Bu Liha mencoba menanamkan kembali nilai kesantunan lewat pelajaran sederhana dan mudah diikuti oleh anak-anak.
Dalam penjelasannya, Bu Liha memulai dengan memperkenalkan tiga tingkatan utama dalam basa Jawa: ngoko, krama madya, dan krama inggil.
“Ngoko iku tataran paling ngisor, sing biasane dienggo karo kanca utawa wong sing wis akrab,” jelas Bu Liha. Artinya, bahasa ngoko digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan teman sebaya atau orang yang lebih muda.
Sementara itu, krama madya digunakan dalam situasi yang lebih formal, terutama saat berbicara dengan orang baru dikenal atau yang sebaya namun ingin tetap menjaga rasa hormat. Tingkatan tertinggi adalah krama inggil, yang digunakan saat berbicara dengan orang yang sangat dihormati, seperti orang tua, guru, atau atasan.
“Basa krama inggil menika basa ingkang dipun ginakaken kangge guneman dhateng tiyang ingkang paling kita hormati,” ujar Bu Liha dengan penuh kelembutan.
Lebih dari sekadar perbedaan kata, unggah-ungguh basa Jawa mengajarkan anak-anak untuk memahami etika dalam berbicara. Siapa lawan bicara menentukan pilihan kata yang digunakan. Dengan begitu, anak-anak belajar tentang kesopanan, empati, dan penghormatan terhadap orang lain.
“Ngomong kudu ngerti sapa sing diajak guneman,” kata Bu Liha. Kalimat ini menjadi inti dari seluruh pelajaran, karena unggah-ungguh dalam berbicara sebenarnya adalah cermin dari kepribadian seseorang.
Pelajaran yang disampaikan Bu Liha tidak berhenti pada teori. Ia juga memberikan contoh kalimat dalam berbagai tingkatan bahasa. Misalnya, kata “permisi” dalam ngoko disebut amit, dalam krama madya menjadi nuwun sewu, dan dalam krama inggil tetap nuwun sewu. Untuk kata “silakan”, versi ngoko adalah mangga, krama madya juga mangga, sedangkan krama inggil menjadi sumangga.
Dengan cara ini, anak-anak dapat memahami bahwa satu makna bisa memiliki bentuk berbeda tergantung kepada siapa mereka berbicara.
Gaya penyampaian Bu Liha yang lembut dan komunikatif membuat pelajaran terasa menyenangkan. Ia selalu mengawali videonya dengan sapaan hangat, “Kabare bocah-bocah apik-apik wae yo. Muga-muga sehat yo,” yang menumbuhkan kedekatan emosional dengan penonton ciliknya.
Pendekatan edukatif seperti ini sangat efektif untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap budaya daerahnya sendiri. Di era digital seperti sekarang, konten edukatif berbasis lokal menjadi alternatif positif di tengah gempuran budaya luar.
Tak hanya mengajarkan bahasa, video Bu Liha juga menanamkan nilai karakter. Ia menutup pembelajaran dengan pesan moral dan doa, “Mugi-mugi manfaat, kirang langkungipun kula nyuwun pangapunten. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ungkapan sederhana yang mengajarkan kerendahan hati dan kesantunan khas Jawa.
Inisiatif seperti yang dilakukan Bu Liha menunjukkan bahwa pelestarian bahasa daerah bisa dilakukan dengan cara yang kreatif. Mengemas unggah-ungguh basa Jawa dalam format video edukatif tidak hanya menarik bagi anak-anak, tetapi juga membantu masyarakat umum memahami kembali nilai-nilai luhur budaya Jawa.
Pelajaran ini juga bisa menjadi inspirasi bagi guru dan orang tua untuk mengajarkan anak-anak berbicara dengan sopan santun sesuai lawan bicaranya. Sebab, di balik setiap kata dalam basa Jawa, tersimpan filosofi mendalam tentang rasa hormat, kesadaran sosial, dan kebijaksanaan.
Bu Liha berharap, melalui pembelajaran unggah-ungguh ini, anak-anak Jawa masa kini dapat tetap bangga dengan bahasa dan budayanya. “Cekap semanten saking Bu Liha, mugi-mugi manfaat,” ujarnya menutup sesi pembelajaran dengan senyum ramah.
Dengan pendekatan edukatif dan penuh makna, unggah-ungguh basa Jawa bukan hanya menjadi pelajaran bahasa, tetapi juga sarana membangun karakter generasi muda yang santun dan berbudaya.
Editor : Anggi Septian A.P.