BLITAR – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Jawa Tengah masih memegang teguh tradisi leluhur yang sarat makna. Salah satunya adalah tradisi wetonan Jawa Tengah, sebuah upacara adat yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran seseorang berdasarkan penanggalan Jawa. Tradisi ini bukan hanya perayaan simbolik, tetapi juga wujud rasa syukur dan doa keselamatan bagi yang bersangkutan.
Dalam video edukatif bertema “Tradisi Wetonan Jawa Tengah”, dijelaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan budaya luar biasa. Setiap daerah memiliki adat dan tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun. Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang masih menjaga banyak ritual adat, termasuk tradisi wetonan yang dikenal penuh filosofi dan nilai spiritual.
Istilah wetonan berasal dari kata “weton” dalam bahasa Jawa yang berarti hari kelahiran seseorang. Dalam masyarakat Jawa, setiap individu memiliki “weton” yang merupakan kombinasi antara hari Masehi (Senin–Minggu) dan hari pasaran Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing). Kombinasi itu menciptakan sistem penanggalan khas, misalnya “Senin Pon” atau “Jumat Pahing”.
Berdasarkan penjelasan dalam video, masyarakat Jawa percaya bahwa weton mencerminkan karakter seseorang dan dapat dijadikan pedoman dalam menentukan waktu baik untuk melakukan kegiatan tertentu. Namun, lebih dari itu, tradisi wetonan Jawa Tengah dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran dan doa agar yang bersangkutan selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan.
Upacara wetonan biasanya pertama kali dilaksanakan ketika seorang bayi berusia 35 hari, atau dalam hitungan Jawa disebut selapan. “Kata nyelapani berasal dari kata selapan, yang berarti satu siklus perhitungan Jawa selama 35 hari,” dijelaskan dalam video tersebut.
Dalam pelaksanaannya, keluarga yang memiliki bayi akan mengadakan upacara sederhana di rumah. Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat atau sesepuh desa. Tujuannya agar bayi tersebut terhindar dari marabahaya dan diberikan keberuntungan di masa depan.
Perhitungan weton ini menggabungkan dua sistem penanggalan, yaitu penanggalan Masehi dan penanggalan Jawa. Siklusnya berulang setiap 35 hari. Misalnya, jika seorang bayi lahir pada “Selasa Wage”, maka wetonan-nya akan jatuh kembali pada hari Selasa Wage berikutnya, tepat 35 hari kemudian.
Kombinasi hari ini menjadi salah satu hal yang paling khas dalam budaya Jawa. Masyarakat masih sering menggunakan istilah “weton” ketika ingin mengadakan hajatan, menentukan hari baik pernikahan, hingga memperingati ulang tahun secara adat.
Lebih dari sekadar ritual, tradisi wetonan Jawa Tengah mengandung nilai filosofis yang mendalam. Upacara ini mencerminkan pandangan hidup orang Jawa yang selalu menjunjung keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Melalui peringatan hari kelahiran secara adat, masyarakat diingatkan untuk bersyukur, introspeksi diri, dan menjaga hubungan harmonis dengan sesama.
Ritual ini juga menjadi sarana mempererat hubungan keluarga. Saat wetonan, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk berdoa bersama, berbagi makanan, dan mengingat kembali jasa orang tua dalam melahirkan serta membesarkan anak-anaknya. Nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong sangat kental dalam setiap pelaksanaan upacara ini.
Selain itu, wetonan juga menjadi bentuk pendidikan budaya bagi generasi muda. Anak-anak diajak untuk mengenal akar tradisinya sendiri, sehingga tidak tercerabut dari identitas budaya Jawa.
Meski zaman telah berubah, tradisi wetonan Jawa Tengah masih terus dijaga. Banyak keluarga muda yang kini mencoba menggabungkan unsur modern dengan adat tradisional. Misalnya, dengan mengadakan doa bersama sederhana di rumah atau mengunggah makna weton mereka di media sosial sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya lokal.
Tradisi ini juga menjadi perhatian banyak pemerhati budaya karena mengandung nilai spiritual yang relevan hingga kini. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, ritual seperti wetonan menjadi momen penting untuk berhenti sejenak, bersyukur, dan mendoakan kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga.
Melalui video edukatif tersebut, masyarakat diajak untuk tidak melupakan akar budaya sendiri. Seperti pesan penutup dalam video: “Semoga cerita ini menjadi pengetahuan bagi kita semua dalam mengenal tradisi dan budaya Indonesia.” Pesan ini menjadi ajakan agar generasi muda terus melestarikan adat yang mengajarkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.
Tradisi wetonan Jawa Tengah bukan hanya peringatan hari lahir, tetapi juga simbol keseimbangan hidup dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Di balik kesederhanaannya, tersimpan filosofi yang membuat budaya Jawa tetap hidup dan bermakna hingga kini.
Editor : Anggi Septian A.P.