BLITAR – Kabar duka datang dari dunia seni pedalangan Indonesia. Dalang legendaris Ki Anom Suroto meninggal dunia pada Kamis, 3 Oktober 2025, sekitar pukul 07.00 WIB di Rumah Sakit dr Oen Kandang Sapi, Jebres, Kota Solo. Maestro wayang kulit asal Klaten itu tutup usia pada umur 77 tahun setelah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan seni pewayangan Jawa.
Kabar berpulangnya Ki Anom Suroto dikonfirmasi oleh rekan seprofesinya, Ki Edi Sulistiono. Dalam pesannya, Ki Edi menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya sosok yang dianggap sebagai guru besar di dunia pedalangan. “Beliau bukan hanya dalang, tapi simbol dedikasi dan cinta terhadap budaya Jawa,” ujarnya.
Ki Anom Suroto, yang memiliki nama lengkap Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdono Goro, lahir di Curing, Klaten, Jawa Tengah pada 11 Agustus 1948. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia wayang kulit. Terlahir dari keluarga dalang, darah seni mengalir kuat dalam dirinya. Ayahnya, Ki Sadiun Harja Darsana, dikenal sebagai dalang ternama, sementara saudaranya, Ki Warseno Sleng, juga menjadi dalang populer di kalangan masyarakat Jawa.
Sejak usia 12 tahun, Ki Anom mulai menekuni dunia pedalangan. Bakatnya yang menonjol membuatnya cepat dikenal di kalangan penggemar seni tradisi. Namanya mulai melambung pada era 1970-an ketika gaya khasnya yang ekspresif dan narasi yang kuat memikat hati penonton lintas generasi.
Untuk memperdalam ilmunya, Ki Anom menempuh pendidikan di berbagai lembaga kebudayaan seperti Pasinaon Dalang Mangkunegaran, Himpunan Budaya Surakarta, dan Api Randa Yogyakarta. Ketekunannya membuatnya diterima sebagai dalang resmi di Radio Republik Indonesia (RRI) pada tahun 1968, setelah melalui seleksi yang sangat ketat.
Tidak hanya dikenal di tanah air, Ki Anom Suroto juga membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. Ia menjadi satu-satunya dalang yang pernah tampil di lima benua. Pementasannya pernah digelar di Amerika Serikat, Spanyol, Jerman Barat, Australia, Jepang, hingga Rusia.
Selain tampil di berbagai negara, Ki Anom juga dikirim ke India, Nepal, Thailand, Mesir, dan Yunani untuk mempelajari filosofi dewa-dewa dalam seni pedalangan. Dari perjalanan itu, ia memperkaya wawasannya dan memperluas pandangan tentang filosofi kehidupan yang kemudian tercermin dalam setiap lakon yang dibawakannya.
Tahun 1978 menjadi tonggak penting dalam kariernya. Ia diangkat sebagai abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta dengan gelar Mas Ngabehi Lepen Carito, dan pada kemudian hari dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) atas kontribusinya terhadap pelestarian budaya Jawa.
Atas dedikasinya, Ki Anom menerima berbagai penghargaan bergengsi dari pemerintah dan lembaga kebudayaan. Di antaranya Penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden RI, penghargaan seniman teladan Jawa Tengah, hingga penghormatan khusus dari UNESCO sebagai “Maestro Living Heritage” atas kiprahnya melestarikan wayang kulit sebagai warisan budaya dunia.
Dalam setiap pementasan, Ki Anom Suroto dikenal memiliki ciri khas yang tak tertandingi. Suaranya lembut namun berwibawa, narasinya mengalir kuat, dan penokohannya penuh emosi yang menggugah. Ia mampu menjadikan pertunjukan wayang kulit bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang refleksi bagi penontonnya.
Setiap lakon yang ia bawakan selalu sarat pesan moral dan nilai-nilai kehidupan. Dalam pewayangan, Ki Anom menanamkan filosofi tentang kebenaran, kesetiaan, dan pengabdian. Ia juga sering menyelipkan kritik sosial dengan cara halus namun mengena, membuat pementasannya selalu dinanti.
“Ki Anom bukan sekadar dalang, beliau adalah guru kehidupan,” ujar salah satu penggemar yang hadir di rumah duka. “Setiap kata-katanya mengandung petuah Jawa yang dalam, tapi disampaikan dengan bahasa yang indah.”
Kepergian Ki Anom Suroto menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisi Indonesia. Ia adalah simbol ketekunan dan pengabdian seorang seniman sejati. Selama lebih dari enam dekade, ia mendedikasikan hidupnya untuk menjaga warisan budaya Jawa agar tidak punah.
Kini, sang maestro telah berpulang. Namun, karya dan keteladanannya akan tetap hidup dalam setiap pementasan wayang kulit di seluruh Nusantara. Ki Anom Suroto telah menutup tirai kehidupannya dengan kehormatan, meninggalkan warisan abadi bagi generasi penerus dalang Indonesia.
Editor : Anggi Septian A.P.