Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jenazah Ki Anom Suroto Dilepas dengan Iringan Gamelan, Dunia Wayang Berduka

Anggi Septiani • Senin, 27 Oktober 2025 | 04:40 WIB
Jenazah Ki Anom Suroto Dilepas dengan Iringan Gamelan, Dunia Wayang Berduka
Jenazah Ki Anom Suroto Dilepas dengan Iringan Gamelan, Dunia Wayang Berduka

BLITAR – Suasana haru menyelimuti rumah duka Ki Anom Suroto di Makamhaji, Kartasura, Kamis (23/10/2025). Jenazah Ki Anom Suroto dilepas dengan iringan gamelan khas pedalangan menuju pemakaman keluarga di Juring, Klaten. Alunan kendang, saron, dan gong mengiringi langkah terakhir sang maestro, menciptakan atmosfer syahdu yang penuh makna bagi ratusan pelayat yang hadir.

Ratusan orang dari berbagai kalangan tampak memadati halaman rumah duka sejak siang hari. Mereka datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada dalang legendaris yang telah menjadi ikon seni wayang kulit Indonesia. Tepat pukul 15.45 WIB, jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir, diiringi doa dan tangis haru dari keluarga, rekan seniman, serta masyarakat.

Prosesi pelepasan jenazah Ki Anom Suroto berlangsung khidmat. Iringan gamelan khas pedalangan seolah menjadi persembahan terakhir bagi sang maestro yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada seni wayang kulit. Bunyi lembut gong dan seruan sinden menggema di udara, menghadirkan suasana mistis dan emosional yang membuat banyak pelayat meneteskan air mata.

Beberapa dalang muda terlihat terdiam khusyuk sambil menunduk. Mereka kehilangan sosok panutan yang selama ini menjadi sumber inspirasi dan teladan dalam berkarya. Gamelan memainkan tembang-tembang yang sering dibawakan Ki Anom semasa hidupnya, seperti Kinanthi Sandhung dan Dhandhanggula, yang menambah keharuan di tengah prosesi.

“Beliau tidak hanya dalang, tapi simbol kehidupan bagi kami. Gamelan hari ini seolah berbicara, menyampaikan duka seluruh dunia pedalangan,” ujar salah satu dalang muda yang turut mengantar jenazah ke tempat pemakaman.

Di antara para pelayat, hadir pula pelawak dan seniman senior Muhammad Syakirun, atau yang akrab disapa Kirun. Ia datang dengan wajah sembab menahan tangis, mengenang sosok sahabat sekaligus gurunya itu. Menurut Kirun, Ki Anom Suroto bukan sekadar tokoh besar dalam dunia pedalangan, tetapi juga figur yang mengayomi dan membimbing banyak seniman muda.

“Beliau itu seperti sumur. Banyak ember yang ingin mengambil airnya,” tutur Kirun dengan suara bergetar. “Artinya, banyak yang ingin mengambil ilmu dari beliau. Mas Anom itu bapak, guru, sekaligus teman bagi kami semua.”

Kirun mengenang bagaimana sejak tahun 1987 dirinya banyak belajar dari Ki Anom. Sosok yang dikenal rendah hati dan penuh kasih itu selalu terbuka untuk berbagi pengetahuan, tanpa pernah merasa lebih tinggi dari orang lain. “Beliau selalu ringan tangan, suka guyon, dan tidak pernah menolak siapa pun yang datang untuk belajar,” kenangnya.

Dalam kenangannya, Kirun juga menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Ki Anom Suroto pada acara peringatan Tahun Baru Islam, 1 Suro. Saat itu, kondisi kesehatan sang dalang sebenarnya sudah menurun. Namun, semangatnya untuk hadir dan menyapa sesama seniman tidak pernah pudar.

“Dalam keadaan sakit pun beliau masih datang. Masih sempat guyon, masih sempat cerita. Itu Mas Anom—dalang sejati yang hidupnya memang untuk berkarya,” ujar Kirun.

Sikap pantang menyerah dan dedikasi tinggi itu membuat banyak orang menaruh hormat pada Ki Anom. Ia dikenal bukan hanya karena kepiawaiannya memainkan wayang, tetapi juga karena ketulusannya menjaga nilai-nilai luhur budaya Jawa. Dalam setiap lakon, ia selalu menanamkan pesan moral dan spiritual, mengajarkan tentang kesetiaan, kejujuran, dan keseimbangan hidup.

Kepergian Ki Anom Suroto meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni pedalangan. Ia dianggap sebagai penjaga warisan budaya Jawa yang telah menginspirasi banyak generasi. Dari tangan dan suaranya, wayang kulit tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan hidup.

Kini, gamelan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan hidupnya menjadi saksi perpisahan terakhir sang maestro. Suaranya yang halus, narasinya yang kuat, serta filosofi hidup yang ia wariskan akan terus hidup di hati para penerusnya.

“Mas Anom mungkin telah pergi, tapi ajarannya tidak akan pernah hilang,” ujar Kirun menutup wawancara singkatnya. “Kami, murid-muridnya, akan terus menjaga warisan yang beliau tinggalkan.”

Ki Anom Suroto akan selalu dikenang sebagai dalang besar yang menjadikan wayang kulit tidak sekadar warisan budaya, melainkan jembatan nilai-nilai kemanusiaan lintas zaman.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Ki Anom Suroto #gamelan jawa #jenazah Ki Anom Suroto #wayang kulit